Merecup Energi Bentan Dalam Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2019

Oleh Eric Junior

Eric Junior sedang membacakan puisinya di FSIGB

Belum lepas rasa dari ingatan tentang Festival Sastra Internasional Gunung Bintan di Tanjungpinang (Kepulauan Riau) pada tanggal 28 Oktober s.d 01 November 2019. Memang telah lama aku menginginkan untuk pergi ke kota Tanjungpinang. Pada kesempatan inilah, di Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) saya dapat mengunjunginya. Benar rupanya, sebuah daerah yang begitu luar biasa dan ada sesuatu aura (semangat) yang lain saya rasakan di daerah bersejarah ini.

Dalam ajang FSIGB ini, ada sesuatu semangat luar biasa yang timbul dan pertama kalinya saya mengikuti ajang festival besar ini. Perhelatan yang ditaja oleh Datuk Rida K Liamsi begitu sungguh luar biasa dan terbesar. Seorang Sastrawan dan Budayawan yang lahir di Dabo Singkep (1943) ini memiliki suatu semangat yang luar biasa dalam mengadakan acara ini, dan ini patut diapresiasi oleh kami kalangan generasi milenial. Spirit yang sungguh luar biasa menjadi contoh untuk kami kelak penerus beliau. Tak hanya itu saja, dengan pertemuan para penyair-penyair se-nusantara menjadi tonggak semangat pula dalam berkarya. Pada perhelatan ini, karya-karya mereka dibacakan pada Parade Puisi selama 3 hari 3 malam. Pada perhelatan ini juga dihadiri oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri dan masih banyak lagi para penyair-penyair senior lainnya.

Selain Parade Puisi juga diadakan diskusi-diskusi yang begitu menarik. Di hari pertama, diskusi mengenai “Pantun Sebagai Akar Puisi Modern Nusantara” dengan pembicaranya Hasan Aspahani, MM, Prof. Dr. Salleh Rahamad (Presiden Pena Malaysia), Dr. Mukjizah, Abdul Hadi W.M, Prof. Dr. Drs. H. Abdul Malik, M.Pd, Prof. Madya Dr. Nurhayati Abd. Rahman, dan moderatornya Fahrunnas MA Jabbar. Diskusi dilaksanakan di Bintan Beach Resort (BBR). Begitu sangat menarik pembahasan pada diskusi ini. Kita yang milenial mungkin tidak mengetahui pantun itu ada filosofi atau tidaknya, dan tidak mengetahui sejarahnya. Jika dikaji pantun itu apa, mungkin tidak akan selesai pembahasannya di tulisan ini. Saya dapat mengutip beberapa kesimpulan dari pembicara saja. Pantun masih berkembang dari zaman ke zaman dan tidak stagnant begitu saja tetapi mengikut pada tiap perkembangan zaman ke zamannya serta tidak menyurutkan atau “mempunahkan” keberadaan pantun.

Baca Juga :  Insya Allah, Tahun 2020 Masjid An-nur Ada Payung Raksasa

Menurut makalah yang ditulis Prof. Dr. Mohamad Salleh Rahamad menerangkan, metafora Melayu dibentuk melalui kaedah atau proses perumpamaan atau perbandingan, atau jenis yang bersifat analogis. Kiasan, bidalan, yang disampaikan melalui pelbagai jenis simpulan bahasa, pribahasa, pepatah, metonimi, atau personifikasi. Serta ia menjelaskan juga dalam diskusi kalau pantun tidak lepas dengan unsur alam. Mengapa? karena pantun memiliki filosofi yang dalam jika kita menafsir dan memengulasnya. Pantun yang baik mestilah memiliki estetika kata yang luar biasa dan kita harus mengetahui sampiran untuk membayangi dari isi pantun agar memiliki makna dan erti yang menarik. Maka dari itu, kembali kepada kita generasi milenial agar dapat memahami apa itu pantun.

Kembali pada pembahasan perhelatan, peserta FSIGB mendapat berkesempatan mengunjungi Pulau Penyengat. Ada sesuatu yang berbeda saat langkah dan berpijak di pulau tersebut. Sejarah tanah melayu yang begitu kental dan masih hangat rasanya. Pulau yang melahirkan karya termasyhur ini, Gurindam Dua Belas yang ditulis Raja Ali Haji berasal dari pulau tersebut. Tidak hanya itu saja, Raja Haji Fisabilillah yang dikenal juga sebagai Raja Haji yang terkenal dalam melawan pemerintahan Belanda. Pada perjalanan awalnya sesudah melewati gerbang, terlihat Masjid Raya Sultan Riau yang dibangun oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803. Menurut sejarahnya, masjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat. Di dalam masjid terdapat al-quran besar dengan tulisan tangan yang tersimpan di Masjid Raya Sultan Riau. Bangunan-bangunan yang khas kemelayuannya bercorak kuning menjadi daya pemikat saya ingin mengetahuinya.

Baca Juga :  Begini Jawaban Jaksa Atas Pledoi Torodziduhu Laila

Selepas dari Masjid Raya Sultan Riau, kami mengunjungi berbagai destinasi sejarah lainnya, seperti makam raja-raja, nakam Engku Putri Raja Hamidah serta kerabat-kerabatnya, dll. Tidak semua dapat ditelusuri di pulau penyegat tersebut. Bangunan-bangunan tua yang sudah dimakan zaman masih tampak kokoh dan masih tergambar bentuk-bentuk corak yang khas pada zamannya. Lama mengunjungi tapak-tapak sejarah, kami rombongan menuju ke Balai Adat. Dengan hidangan adat “Makan Berhadap” membuka diskusi siang dengan pembicara Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Diskusi yang begitu hangat dan mengenang kembali Raja Ali Haji dalam karya-karyanya. Bagaimana kita generasi muda harus dapat mengambil spirit yang telah dibuktikan oleh almarhum dalam karya-karyanya, Gurindam Dua Belas. Dalam diskusi itu, ada perkataan beliau yang menarik untuk dijadikan semangat pada para penyair, yang menerangkan bahwa “Penyair diberi nikmat lewat kata-kata. Karena dalam kata-kata ada Nur. Penyair adalah yang bermukim dalam kata-kata. Dalam kata-kata ada bumi. Kesaksian penyair ada pada puisi. Penyair adalah wali kata-kata”. Penuh makna dan perenungan yang dalam bagi kita para penulis dan penyair khususnya generasi yang akan menjadi penerus berikutnya.

Tentunya saya kembali bersemangat dan harus memahami sejarah kerajaan Melayu kembali. Menurut perkataan dari Taufik Ikram Jamil yang kita kenal dengan sebutan Pak TIJ, mengatakan “Bintan begitu luar biasa. Bintan yang disebut dulunya Bentan melahirkan banyak karya-karya sastra yang besar. Seperti Hikayat Hang Tuah, Tuhfat Al-Nafis, dll. Di Bintan ini pula terlahir tokoh-tokoh seperti Hang Tuah Laksmana Setia, Hang Nadim, Megat Sri Rama seorang yang mampu dan berani membantah Sultan, Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji. Bintan juga melahirkan seorang tokoh, yakni Hang Jebat. Hang Jebat pintu masuk pada kita dan hadir konteksnya pada saat ini. Beliau juga seorang penyair dan pandai bersyair. Konon, apabila Sultan ingin mendengar syair ia meminta kepada Hang Jebat untuk melantunkannya dan sampai-sampai si Sultan tertidur dalam syair merdunya Hang Jebat”.

Baca Juga :  Jony Boyok Penghina UAS Diserahkan FPI ke Polda Riau

Begitulah luasnya sejarah melayu, dan masih dikaji pada saat ini. “Takkan Melayu Hilang di Bumi”, frasa yang masih terpancang tinggi dan dipegang teguh oleh orang Melayu. Begitu banyak pelajaran dan ilmu yang begitu bermanfaat penulis dapatkan selama perhelatan Festival Sastra Internasional Gunung Bintan. Semoga kelak dapat bersua kembali dan hadir dalam perhelatan tersebut. Kami para penyair yang baru bertunas masih harus banyak menggali dan belajar lebih dalam lagi dari hal-hal yang telah didapatkan.

Bila ada sumur di ladang
Boleh kita menumpang mandi
Bila ada umur yang panjang
Boleh kita berjumpa lagi

Eric Junior lahir di Pekanbaru, 14 November 1992. Lulusan dari Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) pada tahun 2015. Puisinya pernah diterbitkan pada Tabloid Tanjak, buku antologi “9,5 R”, Antologi Penyair 999, Jazirah Jilid II, Koran Riau, dan beberapa media online lainnya. Ia juga penulis skenario film dan skenario yang pernah di filmkan yaitu “Mafia Agaknya, Geng?” tahun 2017. Pria ini sekarang melanjutkan kuliahnya di Universitas Lancang Kuning, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Jurusan Sastra Indonesia dan masih bergiat di Seni Teater yaitu Sanggar Teater Matan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *