Kepada Nona: Aku Ceritakan Tentang Tanjungpinang

M. Nazri

Assalamualaikum.

Kekasihku Nona. Lewat rindu, aku kirimkan do’a keselamatan agar engkau dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin. Sama halnya dengan aku di sini dalam keadan sehat. Nona maafkan aku tidak mengabarkan diri selama lima hari ini, bukan berarti aku melupakanmu sayang, engkau tahu bukan! Mengingatmu adalah nafas bagiku. Lewat surat ini izinkan aku bercerita kepadamu apa yang aku lakukan selama lima hari ini. Hal ini sudah menjadi kewajiban kita untuk saling berbagi. Sesuai janji kita sewatu senja menutup perjumpaan. Kisah tentang Festival Sastra Internasional Gunung Bintang belangsung 28 Oktober hingga 1 November, adalah sebuah keinginan yang sudah lama aku rindukan untuk pergi ke kota itu, setelah aku dihantui kisah yang menarik saat membaca novel Bulang Cahaya dan Burung Tiung Seri Gading, tempat terjadinya peristiwa itu. Dalam ceritanya menggambarkan alam yang sangat indah pada imajinasi aku. Melalui festival inilah membuat aku tak ingin menyia-nyiakan peluang untuk menjelajahinya, setelah panita mengumumkan bahwa puisi aku lolos kurasi sayang.

Tapi bagi aku Nona, Tanjungpinang bukan saja sekedar tempat alam yang indah dan kuliner memanjakan lidah, lebih dari itu sayang. Tanjungpinang adalah kenangan sejarah tempat kita menelek peradaban silam untuk memompa energi megarungi masa depan. Ada banyak hal membuat aku merindukan kota itu, setelah aku menyelesaikan bacaan karya sastrawan besar Hasan Junus dan Rida K Liamsi yang judulnya aku tulis di atas. Mulailah hati aku mengeletek ingin menyelusuri tanah tersebut, mengembara tempat-tempat yang memacu imajinasi aku setiap menyusuri tinta sastrawan besar itu.

Baca Juga :  Kasihan, Warga Pelalawan Ini Jatuh ke Sungai Pas Pula Ayan Kambuh

Berkisah tentang Tanjungpinang Nona, aku harus bercerita tentang sejarah peradaban besar kerajaan Melayu. Tempat Sang Sapurba memberhentikan pelayarannya dan mengawinkan anaknya Sang Nila Utama dengan Putri Janda Sukandar Syah. Maka Sang Nila Utama dinobatkan sebagai Sultan dan mendiri kerajan Tamasik Singapura. Dan dalam catatan sejarah Sulalatus Salatin menceritakan juga Tanjungpinang merupakan bagian dari kerajaan Melaka, bahkan pasca jatuhnya Melaka ketangan Portugis, kawasan ini pernah dijadikan pusat pemerintahan kesultanan Johor. kemudian Belanda berhasil mengambi alih kekuasan itu setelah mampu mematahkan perejuangan Raja Haji Fisabilillah.

Menyebut nama Raja Haji Fisabilillah, aku ingin berkisah tentang Pulau Penyengat tempat aku kunjungi di hari kedua. Sebuah pulau yang dipersembahkan sebagai mas kawin Sultan Mahmud Syah kesultanan Riau III pada 1803 kepada Engku Putri Raja Hamidah. Orang tempatan juga bercerita bahwa Pulau Penyengat ini tempat persingahan untuk mengambil air besih sebagai bekal, karena airnya tidak asin. Pernah terjadi suatu ketika, ada segelombolan perompak yang melangar pantang larang ketika mengambil air bersih di pulau ini, hingga mereka diserang serangga yang mempunyai sengat, maka disebutlah Pulau Penyengat, Nona.
Di hari lain, sesi lain dari rangkaian acara Festival Gunung Bintan, Nona, ada suatu kawasan menjadi tempat kunjungan terakhir yang dinamakan pantai Dugong, terletak di kawasan Pantai Trikora sebuah objek wisata untuk melihat ikan Duyung. Sempat aku menangkap kisah lagenda Putri Duyung yang dituturkan Datuk Rida K Liamsi sebagai pengagas ajang bergensi ini. Ia mengatakan bahwa: ketika pada malam hari di bulan purnama Putri Duyung menangis di sisir pantai meratap nasip menimpanya. Konon, apabila orang bisa mengambil air mata Putri Duyung boleh dijadikan azimat pemikat tiada tandingannya. Dari kisah ini Nona, aku akan melampirkan sebuah puisi penangkal air mata Duyung dalam surat ini. Sebagai jaga-jaga untukmu Nona, supaya engkau tidak direbut dari tanganku. Sebelum aku mengakhiri surat ini, maka sambutlah salam dan terimalah puisi dari aku untukmu Nona sebagai wanita penghuni surga.

Baca Juga :  Gubri Berharap Warga Secepatnya Menikmati Jalan Tol Penghubung 4 Daerah

Penangkal Air Mata

Sumpahku di kaki malam
Kiranya engkau tak jelma
Sesurut gelombang tebing
Membisik cahaya pada lentera jiwa

Azimat air kelopak mata
Kau ceritakan pada daku
Tentang mantra pemikat
Tak pilih sarat

Zuriatmu memang telah tertabalkan
Di bantal pasir memutih sisir
Hati mengembunkanmu
Adalah pukau rasa dan asa

Maka,
Terimalah salamku
Tabik dari segala datuk
Dari tanah bertuah
Satu ayah

Meski gelagatmu menikam telinga
Aku kebalkan dada walau hati luka
Karena aku yakin itu ilmu makna
Dari batu-batu pilu.

Baca Juga :  Warga Minta Jalan Sech Umar Ujung Diperbaiki

Kisah memang sebentang laut
Tertulis surut dan pasang
Jelang menjelang tak alang kepalang
Timbang menimbang dalam sayang

Dan,
Ambillah ini Risalah penangkal
Dari air pembawa bekal
PUUUUUUUUUAH

M. Nazri, lahir di Pelantai Kec. Merbau Kab. Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, 03 januari 1993. Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning. IG @m.nazriyengah.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *