Catatan Kecil : Perempuan di Jalan Puisi

Aku membaca koran hari ini, ada rasa bahagia dan haru menyerbak di hatiku. Tidak kusangka seorang perempuan akhirnya terpilih menjadi seniman dan budayawan pada Anugerah Sagang tahun ini. Aku jadi teringat pertanyaan anakku 5 tahun yang lalu, “Mak kenapa tidak ada foto seniman perempuan di sini? Apakah tidak ada seniman perempuan mendapatkan Anugerah Sagang?” Aku tersenyum, lalu menjawab, “Untuk saat ini belum nak, “ lalu anakku berkata lagi “Hmm…kalau begitu Mawar mau mendapatkan anugerah ini nantinya,” katanya sambil tertawa.

Walau bukuku sebagai nominasi belum beruntung menjadi buku pilihan tahun ini, namun kebahagiaan tak terbendung. Aku berpikir anugerah akan jatuh kepada para senior yang telah lebih dahulu berkelana dalam berkesenian.

Anugerah Sagang merupakan anugerah bergengsi di rantau Melayu. Sejak tahun 1996 konsisten memberikan penghargaan kepada para seniman yang bertungkus lumus dalam dunia kebudayaan. Hanya sekali absen disebabkan masalah klise, yaitu kekurangan dana menghidupkan anugerah tersebut.

Penganugerahan Sagang ini merupakan komitmen Yayasan Sagang terhadap negeri Riau, negeri yang menjadi salah satu teras tumbuh-kembangnya budaya Melayu. Suatu daerah yang dalam perjalanan sejarahnya telah menyumbangkan sebongkah emas budaya yang bernama bahasa Melayu, yang menjadi pemersatu bahasa di Indonesia. Bahasa Melayu merupakan cikal bakal dari bahasa Indonesia yang digunakan saat ini. Sebuah kontribusi dan sumbangan yang tak ternilai harganya.

Baca Juga :  Diduga, 8 Kali Oknum Kades di Bengkalis Ini Cabuli Pelajar, Nyaris Diamuk Warga

Tahun 2019, Kunni Masrohanti seorang perempuan Melayu yang lahir di Bandar Sungai Siak Sri Inderapura mengkekalkan dirinya untuk berjalan di jalan puisi. Seorang seniman multitalenta. Awal kedatangannya di rumah seni bermula menjadi seorang aktris teater di Sanggar Teater Latah Tuah, lalu mulai menulis naskah dan menyutradarainya langsung. Puisi memberi ruang lebih pada perjalanan yang dilalui seorang Kunni. Gunung, lembah, sungai, hutan bermain dengan indah di setiap puisi-puisinya. “Kenduri Puisi” melalui Rumah Sunting yang ia dirikan menjadi tempat menyalurkan cintanya pada puisi. Kunni juga mengadakan sekolah literasi konservasi dengan Sekolah Puisi. Terjun ke desa-desa terisolir, yang hanya bisa dilalui dengan Piaw (perahu kayu). Ia tidak ingin puisi menjadi barang mewah yang hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Puisi mulai mengalir di Sungai Subayang, puisi mendekap Rimbang Baling, puisi menjadi guru untuk anak-anak lebih mencintai alamnya.

Baca Juga :  Hingga Juli, Progres Proyek Lelang di Inhu Tembus 80 Persen

Bersama beberapa orang penyair Indonesia, tercetuslah membentuk suatu wadah bagi penyair perempuan dan bergerak di jalan puisi. Kunni menjadi Ketua Penyair Perempuan Indonesia (PPI) dan melalui PPI, Kunni semakin leluasa mengepakkan sayapnya untuk puisi. Puisi untuk tradisi, puisi kembali ke ibunya yaitu tradisi. “Palung Tradisi” menceritakan tentang tradisi yang ada di Indonesia melalui kacamata seorang perempuan.

“karena secalung rindu yang kau sukat dengan cinta/mekarlah kami dengan rahim sempurna yang kau jaga”

Buku puisi tunggal terbarunya berjudul Calung Penyukat, menjadi buku puisi biographi seorang Kunni Masrohanti. Ia bercerita tentang masa kecilnya, kesedihan melepaskan kepergian seorang ayah yang selalu ia rindukan, dengan manis Kunni bercerita tentang dirinya melalui puisi.

Riau tidak kekurangan penulis perempuan, banyak seniman perempuan di tanah Melayu. Sebut saja seniman senior Tien Marni atau Herlela Ningsih. Perempuan muda dan berkarya juga banyak bermunculan, Pusvi Devi, Cahaya Buah Hati, Qori Islami. Guru guru yang juga seorang penulis sebut saja Mas Siti Sya, Bu Yuli, Siti Salmah dan masih banyak lainnya yang jika saya sebutkan bisa habis beratus ratus halaman, ups!

Baca Juga :  Andika Sakai Pimpin Barisan Muda 1 untuk Kasmarni

Terpilihnya Kunni Masrohanti sebagai Seniman/Budayawan pilihan Anugerah Sagang tahun 2019 memberi secerah harapan bagi para seniman perempuan di tanah Melayu-Riau untuk terus giat dalam berkarya dan mengabdikan dirinya di jalan yang terkadang terasa sunyi; berkesenian tanpa mengenal waktu dan usia. Bisa jadi tahun-tahun berikutnya perempuan-perempuan di tanah Melayu kembali menggenggam anugerah ini dengan kebanggaan tersendiri.

“Aku bermimpi, Mak, saat senja menjemput usia kita, kita tetap dengan gagah menyuarakan suara-suara sosial yang terpendam di perut bumi,” katamu suatu kali.

“Ya, kita pun membaca puisi-puisi yang kita tulis di sungai, hutan, lembah, laut dan di kampung-kampung yang selalu kita rindukan,” kataku.

Kita adalah perempuan yang memilih jalan puisi, berkesenian denyut nadi kita, tak kan bisa kita elakkan. Mari terus berkarya hingga jam berhenti berdetak dan kita kembali ke puisi yang paling indah

DM Ningsih. 2019.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *