Seberkas Catatan Film Asmara Mantra

Oleh Eric F. Junior

Pemutaran film "Asmara Mantra" di Anjung Seni Idrus Tintin

Memang kita akui di zaman yang serba canggih dan milenial ini begitu banyak anak-anak muda bermain lakon di sebalik layar walau hanya sebentar. Seperti halnya di status What’sapp, Insta Story, Tik Tok, dan lain-lain. Tetapi apakah mereka berani memerani karakter-karakter dalam pembuatan film? Sebagian orang mungkin bisa. Tidak mudah seperti membalik telapak tangan, tidak semudah yang dikatakan dan dilakukan dalam memerani sebuah tokoh dalam film.

Dalam penayangan film perdana ASMARA MANTRA produksi Fakultas Ilmu Budaya Unilak yang diputar di Anjung Seni Idrus Tintin selama 2 malam (29 – 30 November 2019) dengan harga tiket yang terjangkau. Begitu antusias kalangan anak muda menikmati dan menyaksikan film bergenre romatis yang dibancuh dengan dialog puitis (nyastra). Penulis skenario sekaligus sutradara dalam film ASMARA MANTRA, Hang Kafrawi, yang begitu jeli dalam meramu dialog-dialog untuk membangun suasana di film tersebut. Ia memahami dan memperhatikan selera kehendak zaman sekarang.

Baca Juga :  Wagubri: Film Asmara Mantra Sebuah Kreatifitas Riau Menuju Nasional

Sebuah perjuangan mahasiswa untuk melakukan perubahan yang selalu dibawa oleh tokoh bersih yang diwakili oleh tokoh Dedi yang selama ini hanya tunak dalam karya sastra. Irwandi berharap Dedi dapat memimpin perjuangan kawan-kawan yang lain dan mendapat sebuah perubahan. Irwandilah sesosok mantra yang hadir di antara mereka dan Nurkasih seorang mahasiswi cantik alias bunga kampus yang menyukai sosok Irwandi.

Dalam 2 malam penayangan film ini begitu mendapat tanggapan positif dari penonton. Sutradara berhasil menggiring penonton dan hanyut dalam cerita. Sampai-sampai ada penonton yang keluar dari ruangan berlinang air mata. Namun, ada sejumlah penonton juga mengatakan kalau film ASMARA MANTRA kurang panjang, terlalu pendek, dan gantung, sehingga mereka menjadi bertanya-tanya kepada kru maupun aktor/aktris “Apakah ada sambungannya kembali? Apakah akan berlajut ceritanya?”. Sesuatu yang menarik dan heboh menurut saya. Respon yang penuh tanda tanya ini kembali kami serahkan kepada penulis naskah Hang Kafrawi. Penulis naskah sepertinya “sengaja” membiarkan cerita ini menggantung. Ia menciptakan “Ruang Kosong” bagi para penikmat dalam kisah ASMARA MANTRA itu. Ruang Kosong disini maksudnya biarlah penonton yang menentukan bagaimana kelanjutan cerita yang menggantung dalam benaknya, dan penontonlah yang membangun cerita itu di pikirannya hingga ia menemukan kesan-kesannya.

Baca Juga :  Mempererat Rasa Persaudaraan Sekda Inhil Gelar Buka Berasama HNSI dan IKA UR

Tetapi, bagi kalangan sineas dan penikmat film mungkin bisa berargumen dengan “Ruang Kosong”nya, tetapi bagi yang penonton awam mereka akan merasa tidak puas dan gantung. Apakah penulis skenario ASMARA MANTRA juga memikirkan hal itu untuk penonton awam? Mungkin saja iya. Sebuah hal penasaran yang dibangun untuk penonton agar mereka dikemudian hari mengingat dan kembali bertanya ke pada tim produksi dan aktor/aktris tentang film ASMARA MANTRA, karena itulah kesan yang diinginkan si penulis skenario dan dihadirkan dalam lakon oleh sutradara.

Baca Juga :  Fokus Belajar dan Jaga Nama Baik

Kebanyakan film-film nasional maupun barat juga memberikan kesan cerita yang gantung maupun selesai. Itulah ciri khas penulis cerita (skenario) yang memberikan “hadiah” kepada penonton apakah film ini menjadi kesan ataupun cacian, kebahagiaan ataupun hujatan? Silahkan berargument tentang hal itu. Karena sebuah karya jika tidak dikritik maka ia tidak akan menemukan pembaharuan, perubahan, dan kekurangan dalam karyanya. Maka dari itu, silahkan penonton memberikan kritik “pedas”nya yang dapat membangun dan memperbaiki dalam perfilman dikancah lokal menuju nasional dan internasional.

Seberkas ulasan ini mungkin masih banyak kesalahan dan kekurangan juga dalam catatan-catatan kecil film ASMARA MANTRA. Seberkas ulasan ini hadir dan ditulis dari para pendapat-pendapat penonton dan keluh-kesahnya. Semoga kita Tim Produksi Film Fakultas Ilmu Budaya Unilak akan terus bergaung dalam karya dan tidak berhenti disini melainkan awal persiapan kita menuju Internasional.

Eric F. Junior adalah Asisten Sutradara 2 film “Asmara Mantra”

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *