Isyarat

Cerpen Juliana

Juliana

Langit membentang awan berarak menghantarkan menendung. Seorang gadis berjalan menyusuri parit membawa bakul yang dijujung di atas kepala. Ia adalah Lela, anak Pak Hasan pemilik salah satu warung terbesar di kampung ini.

“Siapa yang tidak mengenali Pak Hasan di kampung ini ?” ujar salah satu pemuda kepada masyarakat di perkampungan itu, saat mereka sedang mengadu ayam.

Pak Hasan memang sangat terkenal dalam mengadu ayam. Ia selalu menang bersama ayam jagonya itu.

“Siapa lagi yang ingin melawanku, akan aku patahkan leher ayamnya kalau kalah,” ucap Pak Hasan dengan tawa yang merekah di bibirnya. Semua orang tertunduk diam dan Pak Hasan pun pulang bersama beberapa anak buahnya.

Lela pun sudah sampai di rumah. Ia membersihkan kakinya, mengusap betisnya yang bening itu dengan air. Siapa yang tidak tertarik dengan wajah yang rupawan itu, kulit yang mulus dan tak tersentuh noda sama sekali.

“Assalamualaikum,” ucap Lela setiba di depan rumah.
“Walaikumsalam,” sambung Mbak Sri. Mbak Sri adalah orang yang membantu mengurus Lela sejak ibu Lela pergi meninggalkan ayahnya sedari ia kecik.

“Baru pulang kau, Nak?” tanya Mbak Sri.

“Ya, Mbak. Sangat banyak sayur yang saya petik di seberang sana,” sambung lela.

“Ya sudahlah, baiknya kau istirahat, biar mbak masakan makanan untuk ayahmu.”

“Si Joko belum menutup warung ayah, mbak, aku harus membantunya di warung juga, Mbak,” ucap Lela risau.

“Tidak perlu, Lela, tadi si Joko bilang kalau dia ada yang bantu hari ini,” sambung Mbak Sri.

“Baiklah, mbak,” perlahan Lela berjalan menuju kamarnya. Tak lama terdengar teriakan di luar rumahnya.

“Lela…Lelaaa…!” suara seorang laki-laki memanggil. Lela menghadap Mbak Sri.

“Ayahmu,” ucap Mbak Sri. Lela pun bergegas keluar rumah.

“Ya, ayah. ada apa?” ucap Lela merunduk. Sementara dua orang pemuda yang bersama ayahnya terus menatapnya, membuat Lela sering kali merasa takut bila harus berhadapan dengan mereka.

“Lama sekali kau ini, di panggil orang tua!” ucapPak Hasan kepada Lela.

“Maaf, ayah,” jawab Lela.

“Masukkan ayamku ke dalam kandangnya dan jangan lupa kau kasi makan,” ucap Pak Hasan sambil memberikan ayam jagonya kepada Lela.

“Baik, ayah,” ucaL lela sambil mengambil ayam dan berlalu masuk ke dalam rumah.
***

Siang pun berlalu, angin pun mencuat masuk ke celah jendela dihantarkan oleh kegelapan malam. Lela duduk di antara tangga rumahnya. Sering kali ia membayangkan wajah Joko yang sering bermain di matanya dan tak jarang pula wajah itu membuat Lela sering senyum-senyum sendiri.
Tak jelang beberapa waktu seorang pemuda datang.

Baca Juga :  PWI Riau Optimis Mendulang Prestasi di Porwanas, Ini yang Dilakukan

“Assalaikum, Lela,” ucap pemuda itu, sambil menatap wajah Lela yang senyum-senyum sendiri.

“Lela…,” sambung lelaki itu, Lela pun terperangah.

“Ya, walaikumsalam,” jawab Lela sambil menampar pipinya perlahan. “Apa saya sedang bermimpi?” ucap Lela pelan.

“Ha….?” pemuda itu kaget. “Kamu sakit, Lela?” sambung pemuda itu.

“Ini benarkah ini kamu, Joko?” tanya Lela.

“Hehehe… ya, Lela. Kamu sudah tidak mengenali saya lagi?” pemuda itu bertanya sambil tertawa.

“Eh…, tidak, Joko,” kata Lela salah tingkah, dan melanjutkan kata-kata dengna bertanya, “Ada apa kamu ke rumah, Joko? Ada masalah dengan warung?”

“Ya, Lela. Saya ingin bertemu ayahmu,” jawab joko.

“Masuk dulu, Joko,” Lela meminta Joko masuk ke dalam rumah.

“Saya tunggu di luar saja,” ucap Joko.

Lela pun masuk ke dalam rumah memberitahu ayahnya dan tak lama setelah itu Lela pun keluar memberitahu Joko. “Sepertinya ayah sedang kecapeaan, Joko. Ia sudah tidur,” ucap Lela.

“Baiklah kalau begitu, Lela, saya pulang saja,” ucap Joko.

Joko pun berlalu meninggalkan rumah Pak Hasan dan ternyata Pak Hasan masih bangun ia melihat joko pulan dari celah jendela. Perlahan Pak Hasan keluar dan menghampiri Lela yang sedari tadi menatapi Joko.

“Masuk!” ucap Pak Hasan dengan suara keras kepada Lela.

“Baik, ayah,” jawab Lela takut. Ia pun masuk kerumah selangkah ia meninggalkan ayahnya, Pak Hasan langsung berkata. “Kau menyukai, Joko?”

“Ti…ti…tidak, yah,” jawab Lela tertunduk dan gugup.

“Jujur saja, jangan membohongi perasaanmu,” ucap Pak Hasan sambil memegang wajah Lela.

“Jawab…! kau menyukainya?” suara Pak Hasan semkain keras, membuat Lela semakin takut.

“Ti…ti…tidak, yah,” kembali Lela menjawab dengan ketakutan yang menjadi-jadi.

“Aku akan mengizinkan kau dan Joko, tapi dengan syarat!”
Lela tidak menjawab ia langsung berlari masuk kamar. Hal ini membuat Pak Hasan semakin bertambah marah.

“Lelaa!” bentak Pak Hasan.

Sementara diperjalanan pulang, Joko menemukan dua orang pemuda, dimana 2 orang pemuda ini adalah anak buahnya Pak Hasan; Dedi dan Omeng.

“Ada apa kau ke rumah Pak Hasan?” tanya Dedi dengan angkuh.

“Apa lagi kalau bukan ingin bertemu dengan Lela,” sambung Omeng.

“Kau tau siapa aku?” ujar Dedi sambil memegang wajah Joko.

“Jangan sekali-kali kau bermain api di belakangku. Belum kau tau api yang kau main akan membakar seluruh tubuhmu,” ujar Dedi masih memegang wajah Joko.

“Aku hanya ingin bertemu Pak Hasan,” jawab Joko.

Baca Juga :  Tiga Mahasiswa Fakultas Hukum Unilak Berprestasi Tingkat Nasional

“Cuh,” Dedi meludahi wajah Joko.

“Jangan menjadi lelaki yang munafik! Kau menyukai Lela, bukan?” suara Dedi semakin meninggi.

“Tidak, Dedi, aku hanya ingin bertemu Pak Hasan. Jika kau menyukai Lela itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan aku, sebab aku tidak memiliki daya tarik sepertimu. Apa lagi aku hanya pekerja warung ayahnya, mau ku beri makan apa dia,” jawab Joko. Lalu Joko menambahkan, “Aku sangat tau dimana tempat yang layak untukku berbaring, dimana pula tempat yang layakku muntahkan rasa dan perasaanku. Kau mungkin saja biasa memuja semua gadis di kampung ini, tapi tdak dengan aku, Dedi. Aku sadar betul dimana langit dan dimana bumi.”

“Pergi kau, jangan pernah kulihat kau bertemu dengan lela lagi!” ucap Dedi sambil melepaskan tangannya dari wajah Joko. Joko pun berlalu meninggalkan Dedi dan Omeng.

Malam itu Pak Hasan terus mengetuk kamar Lela dan meminta Lela untuk keluar dari kamarnya. “Lela, bisakah kau menghargai aku sebagai ayahmu,” ucap Pak Hasan.

Malam semakin larut, Pak Hasan berdiri di depan pintu rumah, tak lama setelah itu Omeng dan Dedi sampai ke rumah Pak Hasan.

“Kenapa, Tuan, wajah tuan seperti marah sekali?” tanya Dedi.

“Tidak apa-apa,” jawab pak Hasan.

“Lela?” tanya Dedi.

“Sebaiknya kalian berdua pulang, aku ingin istirahat,” ucap Pak Hasan.

Pagi yang sunyi menghantarkan udara segar masuk ke celah dinding kamar Lela. Seperti biasa Lela selalu melakukan ritual saat bangun dari tempat tidur, memberi ayam jago milik ayahnya itu makan, lalu bergegas menyiapkan segala hal sembari menunggu Mbak Sri datang ke rumah. Semenjak Lela sudah dewasa Mbak Sri sangat jarang ke rumahnya. Kadang Lela hanya duduk berdiam diri di jendela. Wajahnya yang cantik tak tampak seperti wanita yang bahagia, wajah itu dikurung kedukaan yang amat dalam. Saat ia melihat Joko melewati halaman rumahnya, hatinya selalu bergetar. Baginya Joko memberikan aura yang sangat berbeda.

“Pantaskah aku memilikinya?” tersentak pertanyaan itu keluar dari mulut Lela dengan air mata yang jatuh dipipinya.

“Lelaaaaa…” teriakan keras dari kamar ayahnya membuat Lela takut. Lela berlari menuju kamar ayahnya dan saat itu juga Pak Hasan memukul Lela dengan ikat pinggang.

“Sudah bisa kau melawanku sekarang…!” ucap Pak Hasan. “Kau lahir hanya untuk menjadi penikmatku! Ibumu pergi meninggalkanku demi laki-laki lain dan kau ditinggalkannya bersamaku adalah untuk memenuhi segala kebutuhanku!” sambung Pak Hasan. Lela terus menangis tidak berkata.
“Kenapa kau menangis anak manis?” tertawa kecil. “Haha… Kau boleh saja pergi bersama laki-laki yang kau sukai, tapi ingat kau pernah janji kepadaku kau akan melakukan apa saja untukku! Kau boleh menyukai Joko, tapi kau harus sanggup berbagi waktu bersamaku!”

Baca Juga :  Pilkada 2020, DPC PDIP Dumai Buka Penjaringan Balon Wako dan Wawako

Lela tidak berkata apa pun, sebab apa yang keluar dari mulut ayahnya ia tidak pernah berani untuk menjawabnya. Siang itu tubuh Lela memar dan luka akibat perlakuan ayahnya. Lela duduk menangis di dalam kamar setelah ayahnya pergi keluar.

Hari itu adalah hari yang sangat menyediakan bagi Lela, ia merasa putus asa, baginya tidak ada Tuhan, tidak ada yang bisa menolongnya. Selama 19 tahun ia hidup dengan ayahnya dan ia tidak pernah merasa kecupan atau kasih sayang seorang ayah apa lagi ibu yang meninggalkannya saat usianya masih 3 tahun.

Membayangkan Joko adalah sebuah mimpi yang tak akan pernah terjadi. Saat ia duduk di bangku SMA ayahnya mulai berprilaku bejat kepadanya. Setiap hari Lela harus menuruti nafsunya saat Mbak Sri tidak ada di rumah, dan sering kali Lela diancam banyak hal untuk tidak menceritakan ini pada siapapun. Sejak saat itu kehidupan yang di alami Lela semakin suram.

“Apakah masih ada tersisa rindu ayah kepadaku?” tanya Lela di balik jendela dan melanjutkan kata-katanya, “Adakah kasih sayang Ayah itu? Tuhan, izinkan aku mencicipi kasihnya, walau hanya setitik air matanya untuk sekedar memahami air mataku. Bagaimana aku tahu surga dan neraka, sementara sampai saat ini surgaku tidak pernah datang menjengukku, yang kutahu dunia sangat kejam dan panas,” teriakan dari dalam hati Lela yang menyayat jiwanya.

“Tuhan aku ingin damai dengan tidurku,”ucapnya Lela dan melukai bagian perutnya dengan pisau.

Joko yang bermaksud ingin kembali bertemu Pak Hasan, tiba-tiba melihat Lela sudah tergeletak di dalam kamarnya. Salah satu warga melihat Joko masuk ke rumah Lela. Ia curiga Joko berbuat hal-hal yang tidak diinginkan sebab Pak Hasan tidak berada di rumah.
“Lela…,” ucap Joko takut.

“Pergilah Joko, jika kau di sini dan orang hanya akan melihat aku yang tergeletak tanpa tahu kebenarannya,” ucap Lela, membuat Joko bingung dan panik.

Belum Joko berteriak mintak tolong, warga telah berkumpul di rumah Pak Hasan dan menyaksikan Joko yang memegang pisau yang ada di perut Lela. Joko pun di pukul habis-habisan oleh warga. Sementara Pak Hasan sama sekali tidak berbuat apa-apa.

SELESAI

Juliana adalah mahasiswa Program Studi Sastra Daerah (Melayu) FIB Universitas Lancang Kuning

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *