Magis dalam Film Asmara Mantra

Oleh Syaiful Anuar

Syaiful Anuar

Sabtu malam, 30 November 2019, saya menonton film Asmara Mantra pada pemutaran kali kedua setelah tayang perdana sehari sebelumnya. Saya datang lebih awal. Sebab, pada pemutaran pertama tak dapat hadir, terhalang hujan sedari petang hingga malam. Sangat disayangkan, setelah usai menonton, ternyata durasi filmnya hanya 45 menit. Rasanya sangat singkat. Andai saja durasinya sampai dua jam, penonton seperti saya juga akan tetap merasa kurang lama.

Kekecewaan saya itu disebabkan dialog-dialog yang disuguhkan film Asmara Mantra sangat kontemplatif. Dengan dialog segar dan imajinatif itu, terasa betul bahwa film Asmara Mantra diharapkan penonton agar lebih panjang durasinya. Suguhan dialog kontemplatif sangat jarang saya dengar dalam film Indonesia akhir-akhir ini. Saya mengidolakan tokoh Squidward dalam film kartun yang berjudul Sponge Bob Square Pants juga tersebab dialognya yang sarat kontemplasi (metafor). Memang, Squidward dikisahkan sebagai tokoh yang menyukai sastra dan bercita-cita menjadi seniman hebat. Mungkin tersebab karakter yang dilakoninya, dialog Squidward mesti pula sastrawi.

Durasi film Asmara Mantra yang singkat itu dapat saya dimaklumi ketika penulis ceritanya yang juga sebagai sutradara (Hang Kafrawi) menjelaskan bahwa film Asmara Mantra hanyalah sebagai praktikum mahasiswa dalam kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning. Pembuatan film dengan durasi panjang akan memakan waktu yang lama dan biayanya tentu tidak sedikit. Kekuatan keuangan mahasiswa dan jadwal kuliah yang padat tentu tak memungkinkan memproduksi film yang lebih panjang. Kekecewaan saya pada durasi film Asmara Mantra pun terobati. Namun, kecewa lain pula yang muncul. Dalam benakku, andai saja produser besar melihat potensi FIB Unilak dalam membuat film, tentu mereka takkan merugi bila menginvestasikan modalnya untuk meramaikan film Indonesia.

Baca Juga :  Begini Caranya Dapatkan Keringanan Tagihan Listrik Selama 3 Bulan

Menurut Awi Anjung (Asisten Sutradara I), pekerjaan produksi film yang dilakukan mahasiswa FIB Unilak hanya dalam masa dua pekan saja. Mulai dari mencari pemain, membaca naskah, pengambilan gambar, editing, hingga tayang hanya dalam waktu singkat. Capaian mahasiswa FIB Unilak ini patut disanjung dan dinilai sebagai profesionalitas. Saya dapat membayangkan dunia film Riau di masa mendatang yang gemilang.

Magis dalam Film Asmara Mantra

Penulisan naskah film Asmara Mantra tampak dilakukan dengan sangat serius. Film Asmara Mantra semacam film ilmiah seperti yang dikategorikan Javandalasta dalam bukunya berjudul 5 Hari Mahir Bikin Film (2011:3). Ia menyebut film yang menempakan konflik utama pada hasil karya ilmuan dapat disebut dengan genre film ilmiah. Dalam bahasanya, ia menyebut sci-fi. Hang Kafrawi menempatkan ilmuan (sastrawan) sebagai pemeran utama dan hasil karya sastrawan itu menjadi konflik utama dalam alur ceritanya. Meski, pengkategorian semacam ini tidak dapat dikatakan demikian, sebab karya sastra bukanlah karya ilmiah dan penciptanya disebut sastrawan, bukan ilmuan.
Dalam ruang sastra, bahasa dengan keutuhan semiotik dapat dipandang sebagai tanda yang menyatukan pikiran dari kepala berbeda. Sastra mampu wujud untuk komunikasi berbagai bidang seiring sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Komunikasi sastra dianggap sebagai komunikasi tertinggi, sebab mekanisme unsur-unsurnya amat luas. Schidt menjabarkan unsur-unsur yang luas itu dalam komunikasi sastra yang mesti melibatkan beberapa proses, yakni produksi teks —aktivitas pengarang dalam menghasilkan teks-—, teks itu sendiri dengan berbagai problematiknya, transmisi teks, dan penerima teks (Ratna, 2003:136).

Baca Juga :  Kadiskes Riau Apresiasi Kesiapsiagaan Bengkalis Antisipasi Corona

Pengaplikasian bahasa sastra ke dalam film tentu lebih membius penonton selain dari tampilan gambarnya yang juga cukup baik. Bahasa yang menghentak dan menghujam pikiran penonton adalah wujud magis film Asmara Mantra. Hal itu sengaja dicipta Hang Kafrawi sebagai halaman bermain penonton (penerima teks). Mereka yang menonton, dibawa ke tengah laman yang ada dalam film itu. Memanfaatkan alam Melayu yang dekat dengan keseharian penulis, diolah dalam bahasa komunikatif dan imajinatif, sehingga membuat penonton merasa terlibat dalam film itu. Pada akhirnya, dengan daya magis yang dicipta Hang Kafrawi dalam film Asmara Mantra, setidaknya menjadi pemikat bagi penonton.

Baca Juga :  Murid SD di Pekanbaru Ini Digilir 2 Pemuda Tanggung

Menantikan Lanjutan Film Asmara Mantra

Pengisahan pada akhir kisah film Asmara Mantra dibagun Hang Kafrawi sebentuk cilffhanger. Penonton diajak berpikir tentang berbagai alternatif pengisahan lanjutan melalui tafsir yang serba berkemungkinan. Pada tokoh tokoh Nurkasih misalnya, apakah asmaranya akan berpindah ke lain hati atau mungkin cintanya telah khatam pada sosok Irwandi. Memungkinkan pula, tokoh Irwandi hidup kembali dan menjalin kasih dengan Nurkasih hingga menua.
Memang begitu seharusnya. Film tidak hanya memuaskan dan membahagiakan penikmatnya sesaat ketika menonton saja, tetapi juga menitipkan rasa penasaran pada penontonnya. Hal itu dipilih penulis naskah agar film yang diproduksinya melekat dalam ingatan penontonnya.

Syaiful Anuar, lahir di Pantaicermin, Riau pada tanggal 6 April 1985 dari pasangan Mhd. Nur dan Nurdiah. Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unri dan Pascasarjana UNP. Selain menulis kajian kebudayaan, juga menulis puisi dan esai. Tulisannya terhimpun di beberapa media cetak dan media online.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *