Melayu Pemalas

Berduyun-duyun orang kampung mendatangi kedai Kopi Nah Meun. Mereka mau membuktikan kabar angin yang mereka dapat bahwa Atah Roy menampar Iwan Cekah sampai berdarah. Orang kampung, terutama yang berusia 30 an ke atas, tahu betul ada permasalahan mustahak sehingga Atah Roy menampar seseorang.

Dulu, tepatnya 15 tahun yang lalu, Atah Roy juga menampar seorang karyawan perusahaan kayu di kampung ini sampai berdarah. Peristiwa ini dipicu karena karyawan yang merupakan kepala dari tim pengukur perusahaan tersebut, sewenang-wenang mengukur tanah kampung dan mengatakan perusahaan sudah dapat izin. Ditambah lagi karyawan itu menyebutkan bahwa pihaknya sudah membayar ganti rugi dan orang kampung hanya penghalang pembangunan. Darah Atah Roy langsung naik, dan tangan Atah Roy langsung mendarat ke pipi karyawan tersebut. Atah Roy tak puas, ia pun mengulangi ayunan tangannya dan mendarat berkali-kali ke pipi karyawan tersebut. Kalaulah tidak dierai beberapa orang kampung, entah apa yang terjadi pada karyawan tersebut.

“Jangan anggap kami bodoh ye! Mike datang ke kampung kami ini hanye membuat kami terpecah belah! Untuk keuntungan mike, mike sanggup mengadudomba orang kampung! Mike ni penjajah, tahu tak? Dan penjajah harus dihambus dari kampung ni!” ucap Atah Roy waktu itu dengan muka memerah.

Baca Juga :  Rakor dan Sosialisasi Inovasi TTG Dumai Diikuti 40 Peserta

Semenjak peristiwa itu, pihak perusahaan tak pernah mengukur sesuke hati mereka. Kalau hendak mengukur kawasan di kampung, pihak perusahaan pasti melakukan musyawarah dengan orang kampung terlebih dahulu, menentukan kawasan mana saja masuk kawasan mereka yang mendapat izin dari pemerintah. Dan Atah Roy tak pernah datang pada pertemuan tersebut.

Semenjak peristiwa itu, Atah Roy tak pernah menampar orang lagi. Sudah 15 tahun berlalu dan pada hari ini, Atah Roy kembali menampakkan kebengisannya. Tentu saja peristiwa ini menjadi pertanyaan bagi orang kampung. Atah Roy menjadi panutan mereka selama ini dalam memperjuangkan hak-hak orang kampung, tiba-tiba menampar Iwan Cekah. Ape salah Iwan Cekah, selama ini Iwan Cekah anak Ismail Jambang itu bekawan akrab dengan Leman Lengkung, anak saudare Atah Roy? Bahkan Iwan Cekah sudah dianggap seperti anak oleh Atah Roy setelah Ismail Jambang tewas di Selat Melaka ketika membawa dagangan dari negeri jiran itu.

Baca Juga :  Dinsos Bengkalis Komit Perhatikan Komunitas Adat Terpencil

Orang kampung sudah menepu di Kedai Kopi Nah Meun. Di antara orang ramai itu, tampak Atah Roy bercekak pingang sambil memandang tajam ke Iwan Cekah yang sedang terduduk di kursi. Iwan Cekah mengelap darah di bibirnya dengan tisu kedai. Sementara orang-orang kampung hanya saling pandang. Mereka tak berani bertanya kepada orang-orang terdekat yang ada di Kedai Kopi Nah Meun tersebut.

Beberapa saat lengang dan kelengang itu pecah oleh suara Atah Roy. “Orang macam dikau inilah yang menyebabkan bangse kite tak maju-maju!”

Orang kampung hanya saling pandang. Ada beberapa orang yang mengetahuinya, sebab mereka menyaksikan kejadian itu, pun tak mau bercakap. Mereka diam, kalau mereka becakap, takut Atah Roy semakin jadi marahnye.

“Ingat ye, Wan, seharusnye dikau sebagai anak mude Melayu yang menjunjung Melayu itu sebagai kekuatan, bukan sebaliknye, menghina Melayu!” ucap Atah Roy masih dengan emosi yang tinggi.

Orang-orang kampung yang baru datang belum dapat menangkap arah ucapan Atah Roy. Mereka dengan sabar menunggu ucapan Atah Roy selanjutnya, sehingga jelas permasalahannya.

Baca Juga :  Mantap, Riau Jadi Daerah Pembangunan Rendah Karbon di Indonesia

“Tak sangke aku, dikau sanggup menghina bangsa dikau sendiri! Dikau harus tahu, Wan, ucapan itu adalah doa. Ape yang kite ucapkan, itulah kekuatan kite! Kalau kite ucap ‘Melayu pemalas’ make jadi pemalas betullah kite ni! Dikau harus tahu juge, Wan, bahwa ucapan ‘Melayu pemalas’ memang sengaje dibuat oleh penjajah, baik itu penjajah bangse asing, maupun penjajah mase kini! Ingat, Wan, banyak orang lain tak ingin Melayu bangket! Dan ingat juge, Wan, bahwa peradaban Melayu itu beso, tak mungkin peradaban yang beso dilahirkan oleh orang pemalas! Sekali lagi ye, Wan, jangan ucapkan ‘Melayu pemalas’, mengucapkan ‘Melayu pemalas’ dikau membunuh semangat diri sendiri! Ingat itu, Wan!” kata Atah Roy panjang lebar dan sambil meninggalkan Kedai Kopi Nah Meun.

Orang kampung memandang ke arah Atah Roy yang sedang melangkah meninggalkan kedai kopi. Mereka saling pandang, dan serentak pula menganggukkan kepala.

Hang Kafrawi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *