Mantra Pemanggil Semangat Tanah  

Ilustrasi

RiauKepri.com – Orang Melayu dahulu menjadikan alam berserta isinya bersebati dengan diri sebagai kekuatan untuk menjalankan kehidupan. Memandang alam beserta isinya sebagai sahabat, saling memerlukan, sehingga keharmonisan alam dan manusia terjaga. Semua ini dilakukan untuk menjauhkan segala bala dari kehidupan. Saling menghormati, saling percaya, dan saling memerlukan ini diikat dengan berbagai cara. Salah satu pengikat perjanjian itu adalah dengan mantra.

Khazanah mantra diyakini berasal dari Hindu, dan ketika Islam menjadi pegangan kepercayaan orang Melayu, isi mantra disesuaikan dengan syariat Islam. Kebesaran Allah SWT dan keteladanan Nabi Muhammad SAW menjadi kekuatan dalam interaksi orang Melayu dengan alam beserta isinya.

Baca Juga :  Teriakan AMAN Menang, Abi Bahrun Bupati Bengkalis...!!! kembali Menggelegar di Bathin Solapan

Dalam berbagai aspek, terutama yang berhubungan dengan memanfaatkan alam, orang Melayu menjadikan mantra media komunikasi. Pada isi mantra, berbagai perjanjian disampaikan dengan menggunakan pilihan kata yang mempertimbangkan bunyi. Efek bunyi dari pilihan kata itu melahirkan irama yang dapat memengaruhi jiwa, sehingga keyakinan dari kekuatan mantra itu tumbuh dalam diri.

Untuk mengetahui lebih dekat lagi khazanah orang Melayu terkait mantra, www.riaukepri.com menurunkan mantra Pemanggil Semangat Tanah. Mantra ini merupakan upaya orang Melayu memelihara tanah untuk dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Selamat menikmati mantra Pemanggil Semangat, semoga bermanfaat dan berfaedah bagi kita semua.

Baca Juga :  Gubri: Kalau Kita Patuh Corona tak Akan Berkembang

hai tok bentala guru sakti yang di hutan
akulah yang bernama datuk bentala guru sakti yang di rumah
kita berdua bersaudara
sedang saleh namanya engkau
sedang sidi namanya aku
engkau di hutan aku di rumah
aku minta buat kuasa
aku minta sepemukul gendang ke hulu
sepemukul gendang ke hilir
sepemukul gendang ke laut
eepemukul gendang ke darat
yang aku pinta
mana-mana sekalian anak cucu engkau
tolonglah kawalkan anak cucu aku jangan rusak
jangan rusak jangan binasakan
kau bela peliharalah
mana-mana anak cucu engkau
mana-mana yang bertapa di gunung
mana-mana yang bertapa di bukit
mana-mana yang bertapa di busut
mana-mana yang bertapa di teras
mana-mana yang bertapa di akar kayu
mana-mana yang bertapa di batang
mana-mana yang bertapa di dahan
mana-mana yang bertapa di daun
mana-mana yang bertapa di bongkol
mana sekalian itu aku minta kawalkan empat penjuru ladangku
jangan engkau mungkir setia kepada aku
kalau engkau mungkir
matilah engkau ditimpa tiang ka’bah
mati disula besi kawi
mati dipanah halilintar alam
ya itulah adanya

Baca Juga :  Pergantian Pimpinan Unilak Penuh Keakraban

Disalin dari buku Peta Sastra Daerah Riau (Sebuah Bunga Rampai), disusun Hasan Junus dan Ediruslan Pe Amanriza

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *