Menelusuri Puitik dalam Prosa Thomas Wolfe

Thomas Wolfe (f.net)

Mak Limah sibuk ngevlog di hadapan bentangan laut yang luas. Liburan kali ini, aku, Wak Leman dan Mak Limah berlibur ke pantai. Menikmati keindahan pantai. Berbeda dengan Wak Leman yang duduk diam memandang jauh ke laut. Entah apa yang ia pikirkan.

“Wak Leman macam tak ada gairah haa, sekali-sekali kita menikmati liburan di pantai, lihat Mak Limah, semangat, exsist betul buat status tiap sekejap dengan berbagai macam gaya. Pantas follower IG Mak Limah banyak dibandingkan Wak, soalnya Mak Limah up date teruss,” kataku pada Wak Leman.

“Liburan ke pantai bagi aku bukan untuk menunjukkan diriku pada dunia, pada orang-orang “woii aku disini!!!” bukan! “
“Jadi untuk apa Wak?” tanyaku lagi.

“Sebelum ke pantai, tadi malam aku baca buku kau, puisi Thomas Wolfe yang kau terjemahkan tu. Aku jadi banyak pertanyaan tentang diriku, apalagi dihadapkan dengan keluasan lautan ini. Pengakuan apa lagi yang aku harapkan di dunia ini? Semua tak berarti saat kita berjumpa ujung jalan yang kita cari selama ini, akhir dari perjalanan kita. Melihat luasnya lautan, melihat keindahan, keagungan, aku merasakan aku belum mampu keluar dari penjara bumi yang mengungkungku selama ini.”
Aku terpana, dan tersenyum, ternyata Wak Leman mendapatkan sesuatu dari puisi Thomas Wolfe.

Thomas Clyton Wolfe adalah seorang novelis Amerika dari awal abad kedua puluh. Wolfe menulis empat novel panjang serta banyak cerita pendek, dan naskah drama. Ia dikenal karena mencampur prosa yang sangat orisinal, puitis, rhapsodik, dan impresionistis dengan tulisan otobiografi. Buku-bukunya yang ditulis dan diterbitkan dari tahun 1920-an hingga 1940-an, dengan jelas merefleksikan budaya Amerika dan adat istiadat pada masa itu, disaring melalui perspektif Wolfe yang sensitif, canggih, dan hiper-analitis.

Wolfe kembali ke Eropa pada musim panas 1926 dan mulai menulis versi pertama dari sebuah novel otobiografi berjudul O Lost . Narasi, yang berevolusi menjadi Look Homeward, Angel , membuat fiksi pengalaman awalnya di Asheville, dan keluarga, teman-teman, dan asrama yang ditulis di tempat ibunya didirikan di Spruce Street. Dalam buku itu, ia mengganti nama kota Altamont dan menyebut rumah kos “Dixieland”. Nama keluarganya menjadi Gant, dan Wolfe menyebut dirinya Eugene, ayahnya Oliver, dan ibunya Eliza. Naskah asli O Lost memiliki panjang lebih dari 1100 halaman (333.000 kata), dan jauh lebih eksperimental dalam gaya daripada versi final Look Homeward, Angel. Itu diserahkan ke Scribner’s , di mana penyuntingan dilakukan oleh Maxwell Perkins, editor buku paling terkemuka saat itu, yang juga bekerja dengan Ernest Hemingway dan F. Scott Fitzgerald. Dia memotong buku itu untuk lebih fokus pada karakter Eugene, cerminan diri Wolfe.

Baca Juga :  Perempuan LAM Riau Belajar Zapin Meskom

Istilah penyair epic yang dibicarakan C. Hugh Holman dalam sebuah study klasik tentang fiksi Wolfe. Perlu dipelajari lebih lanjut untuk “mendapatkan” kualitas-kualitas dasar tertentu dari teks-teks Wolfe yang kita baca dan pelajari. Saat kita melihat lebih dalam ke dalam postur retorika karakteristik Wolfe, ke dalam cara dia menggunakan bahasa dan membangun hubungan antara subjek, narator, dan pembaca, kita dapat melihat ketergantungan yang jauh lebih besar pada teknik dan struktur lirik daripada yang selama ini diperkirakan. Sedemikian rupa sehingga Thomas Wolfe, alih-alih menjadi penulis novel yang dijiwai dengan lirik yang berkembang. Nampaknya lebih merupakan penyair naratif, yang pandangan dan pendekatannya pada penulisan bergantung pada asumsi puisi.
Mungkin aneh untuk menganggap Wolfe sebagai penyair, karena novel dan ceritanya mewujudkan hampir semua elemen fiksi. Kita lihat novel pertamanya yang berjudul O Lost yang kemudian hari pada akhir final edit di tangan Maxwell Perkin, judulnya berubah menjadi Look Homeward Angel. Novel ini dibuka dengan sangat puitis, bahasa-bahasa puisi menjadi bahagian dari novel tersebut yang aku terjemah bebaskan sebagai berikut:

Sebuah Batu, Selembar Daun , Sebuah Pintu

Sebuah batu, selembar daun,sebuah pintu yang belum ditemukan
dari sebuah batu, selembar daun, sebuah pintu
dan semua wajah yang terlupakan

telanjang, dan sendirian kami datang ke pengasingan
dirahimnya yang kelam
kami tak lagi mengenali wajah ibu kami
dari penjara dagingnya kita datang
menuju ke dalam penjara yang tak terkatakan
yang tak terucapkan
dari bumi ini

siapa dari kita yang telah mengenal saudaranya
siapa dari kita yang telah melihat ke dalam hati ayahnya
siapa dari kita yang tidak tetap terkurung dalam penjara selamanya
siapa dari kita yang tidak selalu terasing dan sendirian

o segala lesap di labirin yang panas,hilang,
di deretan gemerlap bintang
pada abu api yang mulai padam. Hilang!

mengingat, dengan terdiam
kita mencari bahasa agung yang terlupakan
akhir jalan menuju surga yang telah hilang
sebuah batu, selembar daun, sebuah pintu yang belum ditemukan
dimana? kapan?
o tersesat , hilang oleh angin, berduka,roh, kembali lagi.

Wolfe mengingatkan kita pada pandangan Plato, bahwa jiwa jatuh ke bumi ke dalam tubuh, yaitu rumah penjara jiwa. Pada bait kedua, Wolfe mengemukakan hal tersebut yaitu menggabungkan dua kata penjara dan bumi.

telanjang, dan sendirian kami datang ke pengasingan
dirahimnya yang kelam
kami tak lagi mengenali wajah ibu kami
dari penjara dagingnya kami datang
menuju ke dalam penjara yang tak terkatakan
yang tak terucapkan
dari bumi ini.

Rahim ibu digambarkan olehnya sebagai “Penjara dagingnya(tubuhnya)” dan kehidupan ini adalah penjara bumi yang tak terkatakan tak mampu terucapkan. Pada baris pertama telanjang dan sendirian kami datang di pengasingan mengisahkan bagaimana jiwa terpenjara dalam tubuh sendirian tanpa mampu berkomunikasi dengan jiwa-jiwa lain. Sebelum menemui penjara di luar sana yang bernama kehidupan. Di sini Wolfe bercerita tentang kehidupan sebelum kelahiran atau dimanakah batas kelahiran itu?

Baca Juga :  Film "Lem Kambing Punye Pasal," Warga Selatpanjang "Tepu"

Bait kedua, mengenai jiwa yang terkurung tidak mampu berkomunikasi dengan jiwa-jiwa lainnya, ditegaskan pada bait ke tiga.

siapa dari kita yang telah mengenal saudaranya
siapa dari kita yang telah melihat ke dalam hati ayahnya
siapa dari kita yang tidak tetap terkurung dalam penjara selamanya
siapa dari kita yang tidak selalu terasing dan sendirian.

Wolfe memberikan banyak pertanyaan pada kita semua. Apakah kita telah betul betul mengenal orang-orang terdekat kita? Apakah kita telah betul betul bebas, Apakah kita tak pernah sedikit pun merasa terasing dan sendirian?

o segala lesap di labirin yang panas, hilang,
di deretan gemerlap bintang
pada abu api yang mulai padam. hilang!

mengingat dengan hening
kita mencari bahasa agung yang terlupakan
akhir jalan menuju surga yang telah hilang
sebuah batu, selembar daun, sebuah pintu yang belum ditemukan
dimana? kapan?
o tersesat , hilang oleh angin, berduka, roh, kembali lagi.

Kata “lost” atau hilang menjadi penekanan pada bait berikutnya. Jiwa yang dipenjara dalam tubuh telah kehilangan kemampuan merenungkan keinginan, gagasan, hasratnya, lalu jiwa itu mencari bahasa agung yang ia lupakan. Bahasa yang akan mengarahkannya menuju ujung jalan yang selama ini hilang, yaitu jalan menuju ke surga. Dalam keheningan, apakah itu terjawab? Apakah kita menemukan bahasa agung yang akan membimbing kita? Ia diminta untuk melihat ke rumah aslinya, bukan tubuh, melainkan kedalaman jiwa melalui metaphore batu, daun, pintu ; sebuah batu yang dapat digulingkan dari celah; sehelai daun yang bisa diambil dari lantai taman, memperlihatkan lorong, seperti di “taman rahasia;” sebuah pintu, yang selamanya “tidak berdasar.” Sebuah pintu yang tak kunjung ia jumpai. Pintu ini seperti sebuah jalan keluar menuju ilusi, menuju rahasia kehidupan, kapan? dimana? ia bisa menjumpai jalan itu, menjumpai pintu itu. Apakah ia akan terus tersesat, hilang oleh angin dan terhempas duka? Ataukah pintu merupakan penghalang tipis dari pencarian diri dalam mengenal ruh kita, mengenal jiwa kita.

Membaca puisi Wolfe, aku lakukan berulang dan setiap membaca kembali dan kembali. Aku menemukan pengertian berbeda setiap membaca symbol batu, daun, dan pintu tersebut. Bisa jadi batu mempunyai pengertian kerasnya pergulatan kehidupan, daun adalah kelahiran menuju kematian ; daun di ranting yang akhirnya jatuh ke tanah dan lebur diterbangkan angin, dan pintu? pintu bisa jadi adalah halangan bagi diri kita dalam memahami segala yang kita jumpai. Segala yang membuat kita tidak mengenal diri kita dan tak mampu bekomunikasi dengan jiwa-jiwa lain.

Baca Juga :  Novel Batin Hitam Riza Pahlefi dalam Arus Kisah Kejatuhan Melaka : Menjaga Marwah Melayu, Marwah Anak Cucu

Beberapa puisi Wolfe yang aku terjemahkan, membuat aku kembali merenung akan arti kehidupan ini. Saat kita begitu bergairah dalam berbagai hal kehidupan seperti sex, kehidupan sosial yang gemerlap penuh sanjungan, atau bahkan saat gairah kedukaan melanda kita dan merasa kita adalah manusia yang tersia-sia dalam kehidupan ini. Kita lupa untuk mencari tanda-tanda di atas sana yang akan membawa kita ke sebuah jalan akhir dari perjalanan panjang kita mencari kata kebahagiaan. Seperti kata Wak Leman “Pengakuan apa lagi yang kita inginkan? saat jiwa kita masih saja mencari pintu untuk menuju akhir pejalanan yang hakiki?”

Seorang penulis fiksi, novellis yang juga penyair, Wolfe membentangkan bahasa kias yang penuh dengan kedalaman makna dalam menyampaikan pikiran dan gagasanya tentang kehidupan. Kematian dan pergulatan jiwa dalam mengahadapi kehidupan itu sendiri. Menulis novel bagi Wolfe bukan hanya sekedar memaparkan reportase peristiwa, bukan hanya membentangkan jalinan cerita, atau bukan hanya sekedar membius pembaca melalui kisah-kisah menyentuh hati.

“Namun Wak, dalam pencarian jalan itu, manusia berhak untuk merasakan pengakuan dan kebebasan hidup itu…” Kata Mak Limah.

“Semu! Seperti yang kau lakukan itu, kau hanya berputar dalam labirin gairahmu saja untuk mencapai hal sesaat lalu tanpa kau sadari kau tersesat, perjalanan jiwamu apakah sampai pada pintu yang kau inginkan? Belum tentu. Apakah pintu yang menghalangimu untuk memahami jiwa-jiwa dalam kehidupan ini telah berhasil kau lalui? Kau yang bisa menjawabnya Limah,” Kata Wak Leman lagi.

“Serahlah Wak, Wak leman menikmati pantai dengan perenungan, dan Mak Limah menikmati pantai sambil ngevlok, sah –sah saja bukan? Hmm….apakah Wak sudah menemukan jalan itu?”
“Aku? Entahlah” Kata Wak Leman tersenyum.

Pada akhir tulisan ini sebuah puisi Wolfe -For Hope, untuk juga sama-sama kita renungkan, pengharapan apakah yang sebenarnya kita cari dalam kehidupan ini?

For Hope

Untuk rangkaian waktu dan tempat keheningan
untuk kecupan tanpa akhir melampaui segala emosi segala sensasi
untuk satu tetesan airmata dari segala yang mengaliri lautan – mata biru itu
untuk kilasan kasih sayang yang tak bisa disamarkan oleh senyuman
untuk mendengar canda tawamu di telingaku yang sunyi
untuk mencumbui payudaramu begitu bersemangat
untuk membelai rambut pirangmu nan lembut dan halus
untuk mendekap jiwamu padaku hingga tak terpisahkan oleh apapun jua

untuk ini dan segala hal yang terjadi ditempat yang hampir sama
atau kemampuan untuk mengingat wajahmu selamanya
aku akan menjaga dengan gairah dan cinta
dan terus mencari tanda-tanda di atas sana

DM Ningsih

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *