Anemone

Oleh : Dirga Putri

Dirga Putri

Rudi berjalan mengitari sebuah pohon besar yang berdiri kokoh di kebun belakang rumahnya. Ia bocah 9 tahun yang tidak memiliki teman, juga tak punya teman bermain. Ia menikmati dunianya sendiri.

Setiap hari setelah jam sekolah usai, Rudi selalu menghabiskan waktunya bersama pohon itu. Ia bahkan tak pernah tahu nama serta jenis tumbuhan yang menjadi temannya.

“Aku tak suka sekolah, orang-orang yang ada di tempat itu jahat.”

Begitu curhatan Rudi setiap kali bermain bersama Dodu. Rudi memang dikenal sebagai anak yang aneh. Entah karena imajinasinya yang berlebihan, atau karena dia memang anak yang aneh. Pernah suatu pagi Rudi mengajak bicara kucing belang tiga di salah satu gang dekat rumahnya, dan itu menjadi alasaniIbunya untuk mengajaknya ke psikiater.

Pagi ini, Rudi bersikap seperti biasanya. Seperti biasa dia selalu mengeluh setiap kali akan berangkat ke sekolah. Semua alasan sudah dia utarakan kepada ibunya, tetapi semua alasan itu selalu mendapat jawaban yang sama.

“Rudi, kalau tidak sekolah, kamu mau jadi apa kalau udah besar? Katanya mau jadi seperti Papa, yah kamu harus rajin, dan sekolah tinggi-tinggi.”

Setiap kali alasan itu terlontar dari mulut Rudi, setiap kali pula dia akan mendengar kata-kata itu dari ibunya. Rudi memang pernah bilang, jika besar nanti dia ingin menjadi seperti ayahnya. Seorang pria yang gagah, tangguh, baik dan seorang ayah yang bisa diandalkan. Tetap saja, bagi Rudi sekolah bukanlah hal yang dia inginkan.

Saat ibu membuka pintu, ada pemandangan yang berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Rudi bingung dengan hari ini, cuaca ini cerahkah atau tidak? Kenapa mataharinya tidak ada? Lalu mengapa cuaca ini berwarna oranye? Pertanyaan-pertanyaan itu berkeliaran di seluruh otak Rudi, selama perjalanan menuju sekolah. Selama jam pelajaran, mata Rudi tak henti-hentinya memandang keluar jendela, dia selalu memperhatikan langit yang tak kunjung ditemani awan seperti biasanya. Ada apa dengan hari ini?

Baca Juga :  Siak Intip Peluang Industri Syariah, Tangkap Konsumen Dalam Negeri

“Kau tahu Dodu apa yang terjadi hari ini? Mengapa pemandangan hari ini suram? Aku tak suka.”

Rudi duduk di salah satu dahan pohon yang dia beri nama Dodu.

“Sepertinya ini pertanda tidak baik. Aku rasa kau harus bertanya pada orang dewasa,” jawab Dodu, di dalam ruang imajinasinya.

“Orang dewasa? Siapa? Ibu? Ayah? Atau para guru?”

“Ntalah, yang pasti bukan aku.”

Rudi berpikir sejenak, kemudian dia turun dari dahan Dodu dan berjalan dengan cepat menuju rumahnya.

“Ini asap.”

Pungkas ibu yang sedang sibuk membuat kue saat ditanyai Rudi tentang hari ini.

“Asap? Seperti gumpalan berwarna putih keabu-abuan yang keluar dari kompor ibu itu?” dengan polos, pertanyaan itu keluar dari mulut Rudi. Kali ini ibu memandang anak kesayangannya itu.

“Benar. tapi ini situasi yang lebih serius dari gumpalan asap yang dihasilkan oleh kompor ibu. Rudi, kamu jangan sering-sering main keluar ya, mungkin akan semakin parah dari hari ini.”

Mata ibu berkaca-kaca. Rudi hanya menatap dengan tatapan bingung. Sepertinya dia tidak bisa mencerna apa yang dikatakan oleh ibunya, lalu apa maksud dari ekspresi ibu yang tampak bersalah?

Benar saja, pagi-pagi setelah pagi sebelumnya keadaan ini bertambah parah. Bahkan untuk bisa keluar rumah, Rudi harus menggunakan masker untuk menutup hidung serta mulutnya. Tapi, dia hanya diperbolehkan keluar dari rumah hanya untuk ke sekolah. Rudi selalu merasa sedih setiap kali dia hanya bisa menyapa Dodu saat pulang dari sekolah dan hanya memandang dari balik jendela. Membuatnya bertambah sedih saat ia bahkan tak bisa melihat Dodu dengan jelas, pandangan suram dan terlihat kabur yang disebabkan oleh asap.

Sebelum sekolah diliburkan, Rudi pernah mendengar bahwa asap yang sekarang membuat hari-harinya sedih ini disebabkan oleh pembakaran hutan. Salah satu oknum yang tidak bertanggungjawab itu adalah ayahnya. Dia tidak tahu mengapa teman-temannya berkata seperti itu. Yang dia tahu, Ayah hanyalah seorang pekerja di perusahaan milik orang lain.

Baca Juga :  31 WNA Bangladesh Disembunyikan di Hutan Silinsing Dumai

Rudi merasa yakin bahwa ayahnya terlibat saat ibu dan ayah mulai bertengkar setelah menonton berita di televise. Berita tentang kematian seorang balita karena mengidap Infeksi Saluran Pernapasan Akut, dan tentu saja asap adalah penyebabnya.

“Bagaimana jika itu terjadi pada Rudi? Apa kau tega membuat anakmu menderita, hanya demi perusahaan itu? Berhentilah terlibat…”

Begitu sepenggal kalimat yang didengarnya dari perdebatan ibu dan ayah. Sekarang dia benar-benar merasa sedih, karena tak bisa menceritakan ini pada Dodu, sahabatnya.

Rudi, memutuskan untuk keluar dari rumahnya yang pengap itu dan menghampiri Dodu. Kali ini dia tak memakai penutup hidung dan mulutnya, karena baginya itu lebih menyesakkan daripada menghirup Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), dan Ozon Permukaan (O3) yang mungkin saja dapat menghentikan pernapasannya saat itu juga.

“Apa menurutmu, asap ini disebabkan oleh Ayahku?”

Rudi duduk di bawah dahan Dodu yang rindang.

“Mungkin saja, tapi aku rasa tak hanya ayahmu. Mungkin saja ada banyak orang yang membakar hutan.”

Tentu saja, jawaban-jawaban itu muncul di pikiran Rudi, hanya saja dia yakin bahwa Dodu yang menjawab semua itu.

“Aku rasa pohon-pohon itu akan menangis saat mereka dibakar. Bukankah sangat panas jika terkena api? Kalian bisa menjadi abu, dan itu pasti sangat sakit.”

“Benar. Aku harap, mereka-mereka dapat berhenti menjajah hutan, dan membiarkan kaumku hidup dan tumbuh seperti manusia.”

Rudi menangis saat memandang Dodu, baginya Dodu tak hanya sebagi sahabat yang selalu membuat hari-harinya bahagia, tetapi juga berharga seperti hidupnya. Dia tahu bahwa pohon-pohon, tumbuhan dapat memberikannya udara yang bersih, dapat mengurangi kemungkinan banjir saat musim hujan, juga dapat menyejukkan dan melindungi diri dari panasnya matahari. Tetapi, mengapa orang-orang seperti ayahnya dengan mudah membakar hutan yang dipenuhi dengan pepohonan? Mengapa mereka membuat udara tak lagi bersih? Rudi hanya bocah 9 tahun, yang tak pernah mengerti dengan situasi menyedihkan ini.

Baca Juga :  "Demi Riau Tercinta, InsyaAllah, Saya Masih Syamsuar yang Sama"

Berminggu-minggu lamanya, suasanan ini tak berubah. Awan masih enggan menemani langit, dan manusia masih leluasa menjajah alam. Ayahnya dan orang-orang itu masih terus membakar hutan, dan membuat anak- anak seusia Rudi tak dapat bermain dengan gembira.

Hari ini, suasana berduka dan menyedihkan menyelimuti ibu dan ayah Rudi. Mereka memandang keluar jendela, tampak hamparan bunga yang memiliki enam kelopak berwarna merah menari-nari mengelilingi sebuah pohon besar di belakang rumah mereka. 3 tahun yang lalu setelah kematian Rudi, ayah dan ibu selalu memandang taman bunga Anemone itu dengan perasaan yang penuh dengan kesedihan. Bunga-bunga yang di tanam Rudi sehari sebelum napas terakhirnya. Rudi harus menghentikan napasnya setelah menderita infeksi pada saluran pernapasnnya, karena dia terlalu lama menghirup asap akibat kebakaran hutan 3 tahun yang lalu.

Saat menanam bunga itu, Rudi berharap agar Dodu dan pohon-pohon lainnya dapat terhindar dari kejahatan-kejahatan manusia, dia berharap bunga itu akan melindungi sahabatnya. Rudi pernah berkata pada orang tuanya.

“Biarkan anak-anak seusiaku dapat bermain dengan penuh kebahagiaan, dan tidak perlu mengkhawatirkan betapa berbahayanya udara yang kami hirup. Aku harap, orang-orang seperti Ayah dapat berhenti membahayakan hidup orang lain, dan berhenti membunuh tumbuh-tumbuhan. Biarkan mereka hidup seperti kita.”

…..

NB : Nama bunga Anemone berkaitan dengan mitologi dewa dewi Romawi. Anemone dalam bahasa Yunani beraarti ‘Bunga Angin’. Berdasarkan mitologinya, anemone muncul dari air mata Aphrodite (Dewi asmara) saat ia menangisi kematian Adonis. Bunga ini dianggap membawa keberuntungan dan perlindungan dari kejahatan. Legenda juga mengisyaratkan bunga ini dengan kedatangan hujan.

Dirga Putri adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *