Teater: Man Jadda Wajada

Pergelaran Teater Matan Riau

Bismillah

Sungguh bukan perkara mudah bila melakukan sesuatu tidak mendapatkan imbalan secara materi dan imbasnya bertahun-tahunbaru bisa dirasakan efeknya. Apalagi melakukan sesuatu dengan proses yang panjang butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahu. Peristiwa inilah yang dialami oleh pelaku teater. Bagaimana tidak, untuk menciptakan suatu garapan mebutuhkan beberapa tahapan sebelum sampai pada sesi pemanggungan/pertunjukan. Pertama diperlukan pelatihan secara berkesenambungan; dari olah tubuh, olah vokal, pikir, hingga sukma. Itu bagian yang harus jalankan untuk menjadi aktor yang handal, sama halnya untuk mencitakan keris yang tajam harus diasah berulang-ulang. Belum lagi melakukan bedah naskah, reading, menentukan peran, aktor melakukan peroses penghapalan naskah, sutradara menentukan bloking, set dekor panggung, kostum, artistik, musik dan pencahayaan.

Tidak sampai di situ saja, sambil berjalan proses garapan masih ada kerja yang harus dilakukan. Mencari seponsor, promosi, sampai penjualan tiket, hingga penanganan penonton. Kemudian selesai pertunjukan ada suatu aktivitas yang harus dilakukan, seperti diskusi, evaluasi dan membersihkan/mengemas segala peralatan yang mendukung pertunjukan. Ini yang dikatakan Schechner, ada tiga tahap yang harus dijalani untuk melakukan pertunjukan, pertama persiapan, kedua pertunjukan, ketiga aftemath/kegiatan setelah pertunjukan (Schechner dalam Asril, 2016:155).

Baca Juga :  "Hang Jebat" di Anjung Seni Idrus Tintin

Sangat tepat dikatakan bahwa kerja teater adalah kerja keras. Bagi orang yang setengah-setengah atau sekedar ikut-ikutan tidak mampu bertahan di dunia teater. Orang-orang yang pernah berkecimpung di dunia teater dia akan menjumpai dan tau persis kondisi sedemikian. Kerja teater adalah kerja koletif, kita harus mampu saling mengerti dan memahami antara satu sifat rekan grup dengan yang lainnya agar tercapanya suatu tujuan bersama. Sifat memahami antara satu sama lain juga diajarkan dalam latihan teater; kita memahami antara lawan main, memahami konisi dan situasi dalam suatu adegan.

Baca Juga :  Istri Bupati Bengkalis, Kasmarni Amril Daftarkan Diri sebaga Calon Bupati ke PDIP

Namun, jika seseorang dengan sepenuh hati berkecimpung di dunia teater, tidak menutup kemungkinan ia akan merasakan sukses ke depanya. Sebut saja Nano Riantiarno dari teater Koma, Reza Rahadian aktor yang sangat luar biasa, Epy Kusnandar pemain pereman pensiun, dikalangan artis ada Ratna Sarumpaet, Happy Salama, dan juga pemain muda bintang film ternama Heath Ledger pemain film Joker. Mereka yang disebut semua berangkat dari teater.

Mengenai kata sepenuh hati, saya teringat kata guru sekaligus menjadi orang tau bagi saya, dia berkata, “Cintailah Pekerjaanmu Seperti Mencintai Kekasih Hati”. Mengenai kata cinta, ia adalah sebuah arti pengorbanan diri tanpa ada suatu tekanan dari pihak manapun untuk melakukan tanpa pamrih. Dengan bahasa singkat cinta itu sedekah. Inilah yang ditanamkan kepada para pelaku teater, hingga ia sampai pada tingkat kesuksesan yang dibagi menjadi dua, yaitu kesuksesan kepuasan batin dan mudah-mudahan disertai kesuksesan di segi materi. Amin.

Baca Juga :  Milad ke 7 Teater Matan Usung "Untuk Negeri: Tepuk Dada Tanya Selera”, Ini Filosofinya

Sebelum akhir dari tulisan ini, saya berharap, semoga kita saling mengingatkan dan menguatkan untuk tetap bertahan dengan dunia teater. Meski kata almarhum W.S. Rendra Bergagah-gaghan Dalam Kemiskinan tidak menyurut semangat kita untuk tetap berkarya tampa henti hingga terus memberi manfaat untuk orang banyank sampai kematian mebuat kita berheti berkreatifitas. Dalam unkapan Arab dikatakan Man Jadda Wajada, Barang Siapa Bersunguh-sungguh Pasti akan Mendapatkan.

Nazri, lahir di Pelantai, Kec. Merbau, Kab Kepulauan Meranti, 03 Januari 1993. Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning. Tergabung dalam sanggar Teater Matan Pekanbaru Riau.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *