Catatan Kecil: Plot Twist Dalam Cerpen-cerpen Taufik Muntasir

Ilustrasi untuk cerpen "Perkawinan Bahar"

Proses dalam merangkai kata-kata dari seorang penulis mampu menghantarkan pembaca ke ruang tenang, eskapisme yang hening, namun riuh oleh berbagai letupan, bagai asap mengepul mengakasa, imajinasi, nalar hingga kebijaksanaan menari nari di cakrawala pikiran pembaca. Seperti halnya hidup, sebuah cerita yang disuguhkan seidealnya juga menghidangkan berbagai kejutaan dan tikungan-tikungan yang tajam.

Plot Twist yang sering digunakan oleh seorang penulis menciptakan suasana laut yang tenang, luas dengan matahari bersinar cerah, namun tak diduga tiba-tiba gelegar petir memecah ketenangan, meninggalkan kegeraman, shock, bahkan rasa penasaran, banyak meninggalkan pertanyaan “Mengapa!” “Kenapa?”  Plot twist hadir secara mendadak, terbongkar perlahan, atau tersamar oleh tipuan-tipuan.

Membaca 13 cerpen Taufik Muntasir, seorang cerpenis handal dari Batam dengan latar belakang kelahiran Teluk Belitung, plot twist berseliweran di sepanjang cerita yang ia sajikan. Salah satu yang menarik adalah mimpi-mimpi Usman Letop. Saya sebagai pembaca tersenyum saat membaca akhir cerita tersebut. Usman adalah seorang pemimpi sejati. Awalnya ia bermimpi bertemu Madona artis idolanya, lalu mimpi itu berkembang liar, mimpi bertemu pejabat dan tokoh-tokoh dunia kemudian mimpi Usman membawanya menjadi orang hebat, orang berhasil. Usman begitu terlena dengan mimpi-mimpinya sehingga menelantarkan kehidupan yang nyata, meninggalkan pekerjaan, tidak perduli keluarga. Orang kampung menyebut Usman telah sampai pada “Kaji Diri”. Namun apa yang terjadi? Pada kalimat terakhir penulis meletakan suatu kalimat yang menyiratkan ternyata Usman Gila! “…meletakkan telunjuk di dahi dengan posisi miring.”

Baca Juga :  HSBC Indonesia Gelar Kuliah Umum di Unilak

Pada cerpen “Pulang Kampung”, menceritakan tokoh yang bernama Syafri. Seorang yang biasa saja merantau ke kota dengan pekerjaan yang juga biasa-biasa saja. Bagi orang kampung, jika orang merantau ke kota, maka pastilah kaya. Mempunyai pekerjaan yang hebat. Namun kenyataan Syafri hanya seorang honorer di kantor kelurahan, lalu ngojek dan terkadang  kerja menjadi buruh harian. Ego dan kesombongan membawa Syafri pada ketidakjujuran akan nasib diri. Lagak bagai orang kaya saat balik kampung membawanya pada kenyataan pahit. “Bagaimana ia akan balik ke kota? Duit dah habis? Hutang pun menumpuk?”

Baca Juga :  Tersebab "Asmara Mantra", Facrizam Disangka Orang Gila

Penulis bercerita tentang sifat-sifat diri manusia yang terkadang tak dapat dielakkan yaitu kesombongan, ria, lagak, rendah hati, putus asa, keberanian dan lain-lain dibancuh dengan berbagai macam keinginan-keinginan yang melingkupi mendesak manusia dalam mengarungi kapal yang bernama kehidupan. Dengan simbol simbol yang kuat kadang suram, penulis memaparkan cerita bagai air mengalir, tanpa tersendat, lalu memberi kejutan pada akhir cerita.

Cerita “Tetangga di Seberang Jalan”, penulis malah dengan tanpa rasa kasihan mematikan seorang tokoh dalam cerita. Kematian ditanggapi biasa saja bagi warga dan tokoh utama Lela, seperti pertengkaran tetangga tersebut yang sudah biasa bagi warga kampung.

Baca Juga :  Sebanyak 32 SMA/SMK se-Riau Ikuti Kompetisi Futsal Fasilkom Unilak

Ironi, kontradiksi adalah kekuatan dari plot twist yang disajikan oleh Taufik Muntasir. Simbol-simbol yang disajikan begitu kuat dan tampak natural, tidak dipaksakan.  Sebut saja cerpen “Lidah yang Menjulur”, melambangkan seseorang yang dalam kesehariannya hanya menjilat atasan, tukang bual dengan lidah sebagai pemanis untuk mendapatkan apa pun yang diinginkan.

Bagi saya plot twist bagai micin atau MSG dalam makanan yang membuat kita candu dan terus saja menginginkan tipuan, kejutan dan lagi, lagi.  Semakin ditaburkan, cerita semakin kuat dan memberi kesan mendalam di benak pembaca. Taufik Muntasir melalui 13 cerpennya ini berhasil menyajikan plot twis yang membuat pembaca menjadi kencanduan untuk membaca ceritanya lagi dan lagi dan lagi.

DM Ningsih 2020

Catatan: buku kumpulan cerpen Taufik Muntasir akan segera diterbitkan dalam waktu dekat dengan judul “Tokoh”.

Loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *