Di Balik Asap

Cerpen Dang Mawar

Ilustrasi kabut asap (f. Net)

2015, negeri di atas awan

Aku sangat benci ke sekolah. Sekolah adalah neraka bagiku. Kata-kata mereka yang membuatku membenci diri sendiri.

“Jelek! Jelek kayak babi!” teriak mereka.

“E…e…ee…babi ngapain sekolah! Hush hus balik ke habitat sana!” Sahut mereka kompak.

“Eyyyyy kalian jangan gitu, mending pukul aja! Babikan haram! Hahahahaha!”

Ketawanya sambil menendang kepalaku diikuti dengan yang lainnya. Tawa mereka yang sangat menyebalkan, aku benci itu.
Aku masih kelas 6 SD, tapi aku merasa kehidupanku sangat amat tidak adil. Kehidupan yang ku miliki saat ini, sangat memuakkan. Setiap aku ke sekolah, aku merasa ditatap jijik oleh mereka. Disaat pulang aku pun masih ditatap jijik dan di rumah pun aku ditatap jijik. Bagi mereka aku bagai hama yang akan menularkan penyakit yang membahayakan. Mungkin mereka tak bisa menerima wajahku yang rusak sebelah serta hidungku yang sangat pesek.

Namaku Daffa, aku anak tengah di antara dua bersaudara yang cantik serta tampan. Hanya aku produk gagal di antara mereka. Mamahku pun tak menerima diriku. Setiap hari aku harus menerima memar serta luka di tubuh.

“Kenapa aku punya anak bedebah seperti kau! Kenapa kau tak seperti aku! Kenapa kau menerima wajah jelek seperti ayahmu yang bajingan itu. Anak bangsat!” teriak Mamah sambil memukulku dengan sapu lidi.

Kutatap kedua saudaraku yang sedang makan tanpa terganggu, mereka tidak menganggapku ada, mereka tidak acuh padaku dan aku? Hanya menatap diriku dengan miris.

Ayah? Bukan lelaki yang bisa tempat seorang anak menyandarkan keluh kesah di dadanya. Ayah kabur dengan perempuan simpanannya. Perbuatan ayah membuat mamah melampiaskan kemarahannya padaku. Mamah menganggap aku pembawa sial. Perasaanku bagaikan langit terselimuti kabut asap, tiada hari tanpa menderita. Asap yang tak pernah hilang meskipun diguyur oleh hujan. Aku memandang langit. Kelabu. Kapankah cahaya datang padaku.

“Nak mau masker?” tiba-tiba tanpa kusadari di hadapanku ada seorang kakek-kakek dengan baju yang lusuh menawarkanku sebuah masker.

Aku dapat mendengar. bisikan yang membuatku jengah.

“Liat tuh pengemis sama pengemis saling berbagi masker, eh atau jangan-jangan bapak anak lagi,” bisik seorang kakak-kakak berseragam SMA ke temannya.

“Ih! jahat kamu mah! Yang bener kakek cucu pengemis kali! Hahaha!!!” temannya membalas dengan kencang dan ejekan saling sahut bersahutan sesama mereka.

Aku yakin seratus persen semua orang di halte bus ini mendengar perkataan kakak-kakak itu, tapi mereka sama sekali tidak peduli dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Aku menatap ke arah lain, merasa semua ini tidak adil. Apalagi disamakan oleh pengemis. Aku sedikit melirik ke arah kakek itu, tapi ia malah tersenyum menatapku seakan perkataan kakak-kakak itu tak ada arti.

Aku sedikit tertegun, “Kenapa kakek tersenyum? Padahal kakek baru saja dihina?” tanyaku. Selama ini aku selalu membenci dan menatap tidak suka kepada mereka yang menghinaku, mencaci makiku dan memandangku dengan sebelah mata. Tapi kakek di depanku ini malah tersenyum masih mengulurkan tangannya, menunggu aku mengambil maskernya.

Sang kakek sedikit terkejut dengan pertanyaan ku, tapi senyumnya masih terukir. “Mau kakek jelaskan sambil duduk di warung sana nak?” ucap sang kakek sambil menunjuk ke arah warung yang lusuh.

Aku dan kakek melangkah ke arah warung dan duduk di sana.

“Kakek tidak marah dihina seperti itu?” tanyaku.

Sang kakek hanya menggeleng “Tidak” jawabnya singkat.

“Kenapa? Bukankah itu menyakitkan hati kakek? Perkataan kakak-kakak tadi bagiku sama seperti belati yang menghujam jantungku? Kenapa kakek tidak merasa seperti apa yang kurasakan? Kakek malah tersenyum,” tanyaku lagi, sungguh, kali ini aku bingung. Bahkan seorang Sultan sekalipun pastilah marah jika dikata-katai seperti itu.

“Untuk apa kakek marah? Tuhan saja selalu memaafkan hambanya. Tak pernah lama marah kepada hambanya lalu kita sebagai hambanya malah memiliki dendam, kebencian kepada mereka? Apakah itu artinya kita lebih sempurna dan tinggi kuasa daripada Tuhan?”

Baca Juga :  Wagubri: Kualitas Keimanan Modal Utama Masyarakat Madani

Jawaban kakek itu semakin membuatku terhenyak. Aku selalu membenci mereka yang menghinaku, aku selalu menyimpan dendam kepada mereka yang meremehkanku dan selalu menyalahkan takdir kepada Tuhan. Padahal, siapa aku? Aku hanyalah manusia seperti yang lainnya. Mengapa aku bertindak seperti rajanya alam semesta.

Aku terbuai dengan jalan pikiranku sendiri, tanpa sadar kakek di sampingku tersenyum lembut seperti mengetahui apa yang kupikirkan. “Asap memang menyakitkan, membuat kita sesak nafas dan memberi kesengsaraan, tapi taukah kamu?” kakek memandangku lembut.

Aku menggeleng kepala, tak paham.
Kakek tersenyum dan berkata, “Di balik kesengsaraan itu semua banyak cara untuk kita melihat hal-hal yang indah di balik asap. Begitu juga hidup, kita harus mampu melihat hal indah dari segala cobaan yang Tuhan berikan kepada kita,”
kakek itu menatapku, memegang tangan ku dan memberikan ku masker. “Salah satunya cara untuk mencegah asap yang terselimuti di diri kita memakai masker.”

Aku tertegun dan mengenggam masker yang kakek berikan kepadaku.

“Dan untuk mencegah diri kita agar selalu ingat akan pencipta, selalulah bersyukur apapun yang diberikan Tuhan kepada kita. Di balik kekurangan pasti ada kelebihan. Tuhan maha adil.”

Sungguh, perasaanku terhenyuk mendengar apa yang dikatakan sang kakek, benar…aku punya berbagai cara untuk menghilangkan asap di kehidupanku.
——————-
2019, masih di negeri atas awan

Lima tahun telah berlalu. Aneh, perkataan kakek selalu mengikuti setiap langkahku. Kata-katanya membuatku semangat bertahan hidup. Lima tahun sudah banyak yang berubah. Aku mulai mengikuti lomba-lomba kecil di sekolah seperti lomba melukis, karena bakatku guru mendaftarkan aku ke lomba melukis tingkat kota. Hee….tak kusangka aku beruntung dan mendapatkan juara pertama dengan uang sebesar 5 juta dan lolos ke lomba provinsi bahkan kembali meraih juara satu.

Saat itu hidupku berubah, teman-teman di sekolah tak lagi menggangguku bahkan bersikap manis kepadaku. Walaupun aku tak mau terlalu dekat dengan mereka, aku sudah memaafkan semua perlakuan tidak adil dan tidak menyenangkan yang pernah mereka lakukan padaku.

Mamahku? Huh….Ia lupa bahwa tiga belas tahun ia menyiksa aku seakan aku budak. Sekarang?! Ia membanggakan aku ke orang-orang seakan-akan usahaku menjadi berhasil berkat usaha dia sebagai seorang ibu. Memuakan!. Saudara-saudariku pun begitu, tampak mengakrabkan diri padaku. sayangnya aku masih menghindari mereka. Yah! Itu namanya trauma tahu!.

Meskipun banyak yang berubah, pandangan orang terhadap fisikku masih sama, mereka masih memandangku hina. Tapi tak apa, akan kuanggap ini adalah kelebihan yang Tuhan kasih padaku. Bukankah indah melihat perbedaan di dunia?

Kini aku menatap langit yang masih diselimuti kabut asap. Kotaku tak juga berubah, kebakaran hutan masih melanda, negeri bagai negeri di atas awan. Sudah lima tahun berlalu dan aku tak pernah melihat kakek pengemis itu. Padahal aku ingin mengucapkan terima kasih padanya, karna nasehatnya aku mulai menerima kekuranganku dan membuktikan kekuranganku tidak menutupi potensi dan kemampuanku.

Aku memasukan tangan ke dalam saku celana sambil bersenandung lagu zapin –- satu satunya lagu yang kuhapal — melewati taman kota, mataku sedikit melirik ke arah taman dan aku terhenti sejenak, memandang sosok yang sangat aku kenal, kata-kaatanya yang memberikan motivasi hidup lebih baik padaku.

Kakek pengemis itu! Aku langsung saja berlari ke arah kakek tersebut yang sedang duduk dengan mengipasi wajahnya dengan topi. Aku mengeluarkan botol airku dan memberikannya kepada kakek, “Minum ini kek, kakek pasti lelah,” ujarku.

Suara kakek itu membuatku terkejut, kemudian ia tersenyum, dan memandangku agak lama. Matanya masih syahdu begitu damai.

Baca Juga :  Meskipun Hujan Deras Dumai, Hot Spot Masih Ada di Kecamatan

“Makasih nak, kamu anak yang lima tahun lalu saya berikan masker kan? Sudah lama ya? kamu sudah gagah sekarang”

Aku ikut tersenyum, “kita ketemu lagi kek, bersama asap,” ucapanku membuat si kakek ketawa.

“Iya ya, waktu itu kakek menghampiri kamu di saat asap juga dan sekarang kita ketemu asap juga ikutan datang,” katanya tertawa renyah. “Jadi apa kabarmu? Masih depresi dengan kehidupan mu?”

Aku menggelengkan kepala. “Semenjak mendengar nasehat kakek, aku berani mencoba hal baru, ikut lomba melukis dan mendapatkan juara pertama tingkat nasional. Sekarang aku berkompetisi untuk lomba film pendek tingkat SMK.”

Si kakek tampak menganga terkagum, kemudian menepuk-nepuk pundaku. “Hebat kamu, kakek kira kamu akan lupa apa yang kakek katakan,” kemudian kakek itu tertawa lagi. ”Kakek bahagia mendengarnya.”

Aku ikut tersenyum, “Kakek sendiri gimana kabarnya?” Tawa kakek itu memudar ada keheningan sebentar tapi si kakek mulai tersenyum kembali.

“Kakek baik-baik saja, walau rasanya melelahkan harus bekerja dengan fisik seperti ini,” ucap si kakek sendu.

Aku menaikkan alis bingung, kemudian mengulum bibir, “Memangnya anak-anak kakek dimana?”

Si kakek tak menjawab, namun air matanya mulai mengalir. “Anak-anak kakek tidak tau dimana, nak, saat dia kuliah mereka tak pernah menjenguk. Jangankan menjenguk, bahkan memberi kabar saja tidak.”

Hatiku terhenyak, jahat sekali mereka membiarkan orang tua tinggal sendirian tanpa menjenguk bahkan memberi kabar! Padahal, itu orang tuanya sendiri. Aku mengelus pundak si kakek, menenangkannya agar tak menangisi anak-anak durhaka seperti mereka. Begitupun aku, menahan air mata agar tak menangis.

“Udah, kek, jangan menangis, anggap saja saya anak kakek,” ucapku sambil tersenyum, sedangkan si kakek membalas senyumanku.

“Kamu memang anak laki-laki yang baik.”
Anak laki-laki yang baik, perkataan tulus si kakek membuat hatiku menghangat. Mamahku berapa tahun belakangan ini selalu bilang begitu padaku. Namun aku tau, itu bukan perasaan tulusnya ia hanya memujiku karena aku adalah keuntungan baginya. Walau aku senang dipuji hanya karena bakatku, aku lebih senang dipuji karena sifatku, aku ingin diakui karena aku adalah aku.

Kemudian aku selalu menghampiri kakek itu di taman. Terkadang aku memberikan makanan, terkadang membawa karyaku atau pun bercerita tentang kehidupan si kakek. Aku sangat senang menghibur dan tertawa bersama si kakek.

Suatu hari, teman-temanku memergokiku makan bareng si kakek. “Ohhhh ini yang katanya murid hebat itu? Heh…ternyata mainnya sama si pengemis”.

Aku diam menahan marah “apa sih mau kamu?” Tanyaku agak sinis.

“Yah heran aja, selalu diajak ke klub tapi nggak pernah menerima ajakan kami kirain ada keperluan penting. Ternyata…” Ia menatap kakek di sampingku “Makan bareng hama”.

Aku menahan amarah “Kek, mau cari tempat lain? Kayaknya disini ada pengganggu.”

Kakek hanya mengangguk, tapi entah ide gila apa yang merasuki mereka, mereka menjegal kaki si kakek hingga membuat si kakek terjatuh!

“Pengemis itu harusnya di bawah,” mereka tertawa melihat kakek jatuh dan kesakitan. Kemarahanku sudah memuncak. Selama ini si kakek sudah kesusahan, sudah menahan beban dan mereka….mereka…

Aku melempar kotak bekal yang berisi sambal terong ke muka mereka dan meninju wajah Parlin, anak sok jagoan otak kosong!

Parlin tersungkur, ia berdiri, bibirnya berdarah, “Berani kau, Hama! Serbu!” mereka mengeroyokku, babak belur, kakek berusaha menolongku.

Hahahaha….tentu saja perkiraan kalian salah jika aku menang! Ini bukan film superhero atau film laga yang membuat sang tokoh utama menang. Aku kalah, kalah total hingga membuatku pingsan. Tapi sebelum pingsan, aku melihat siluet satpam datang dan melerai agar aku tidak terkena pukulan lagi, aku tak khawatir dengan diriku aku khawatir kakek bakal kena masalah karena ini. Aku lalu terbangun dari pingsanku, menatap langit-langit yang tampak asing bagiku. Aku mencoba berdiri duduk, menatap mamahku.

Baca Juga :  Surat Terbuka Untuk Rektor Perguruan Tinggi se-Riau

“Aku dimana?” tanya ku sedih letih, bibirku terasa ngilu.

“Rumah sakit,” mamah menjawab dengan singkat tanpa melihat kearah ku, “Hebat kamu ya, dapat masalah mentang-mentang Mamah menerima kamu karena kamu menang lomba. Sekarang mamah malu tau enggak! Kamu kelahi hanya untuk kakek-kakek pengemis kotor! Kalau untuk cewek mamah masih bisa maklumi, tapi pengimis dekil pft….emang anak enggak ada otak.”

Aku diam “kakek itu pengemis, tapi dia enggak kotor dan dekil, kakek lebih mulia dari kalian!” Ucapan ku membuat api amarah mamah tersulut.

“Mulia?! Oh! Berani kamu melawan mamah yang membesarkan dan melahirkan mu!” teriaknya. “Kamu mau mamah buang ke jalanan hah dan jadi pengemis kotor! Kamu bisa aja mamah buang kapan pun!” bentaknya.

Aku diam memandang tajam ke mamah
“Mulai sekarang selesai sekolah dan syuting buat lomba film, mamah jemput! Kamu enggak tahu betapa malunya mamah kalau kejadian ini terulang lagi!?”
Aku sama sekali tak bisa menolak dan hanya bisa mengangguk,hatiku memberontak dan ingin berlari jauh dari sisi perempuan yang tidak ingin kusebut mamah!

Saat itu berapa hari berlalu, mamah benar-benar menjemputku. Bahkan saat syutingpun juga, aku tak bisa bertemu dengan si kakek. Jika remaja lain nongkrong bercerita tentang doinya atau tentang idol pinkblack yang sedang terkenal. Aku fokus menggarap film pendek ku.

Kali ini mamah tak bisa menjemputku karena arisan, jadilah aku pulang sendiri. bagus, aku bisa ke taman sebentar dan bercerita sedikit serta meminta maaf kepada si kakek. Asap saat itu sangat pekat . Bahkan masker yang kupakai mungkin tak berfungsi. Sangat sangat pekat hinga dapat membuat kalian tersesat.

Belum sampai ke taman aku melihat si kakek sedang duduk di terminal bis. Senyumku merekah dan menghampiri si kakek. “Kek! Ngapain disini?” tanyaku.

Si kakek tersenyum, menyuruhku duduk dengan isyarat tanpa mengucapkan kata. Aku menuruti katanya dan duduk di samping si kakek. “Asapnya makin pekat ya,” ucap si kakek.

“Iya,” aku menyetujui ucapannya.
“Walaupun begitu, mungkin saja hujan akan turun hingga perasaan amarah menjadi sendu. Nak, ingat, jangan terperangkap dalam amarah yang kau pendam. Kau harus melangkah dengan hati yang damai agar hidupmu penuh cinta kasih.”

Aku menatap bingung “Maksudnya, kek?”
Si kakek menatapku sambil tersenyum kemudian berdiri dan pergi, aku sangat bingung saat ini. Aku mengikuti kakek tersebut tapi entah kenapa ia seakan hilang ditelan asap dan mengantarkan aku ke gubuk lusuh juga kotor tepat di bawah jembatan penyebrangan.

Aku membuka pintu gubuk yang lusuh dan kotor tersebut, kulihat sekeliling. Gubuknya sangat kecil juga berdebu, kurasa tak ada orang yang tinggal di dalamnya.

Aku melangkah kecil ke dalam gubuk dengan hati-hati, asap memenuhi gubuk tersebut. Kakiku terhenti melangkah. Aku tercekat, dadaku bergemuruh dengan kencang, badanku bergetar. Sesaat aku tak mampu berkata apa-apa. Kerongkonganku serasa tercekik lalu….
“Kakek!” Aku berteriak histeris, lututku melemas.

Beberapa warga masuk ke gubuk tersebut.

“Ada apa?” tanya seorang bapak-bapak.

Jariku menunjuk seorang kakek yang terselimuti kabut asap dengan wajahnya yang memucat sambil tersenyum hangat, ia si kakek pengemis itu. Badanku bergetar semakin bergetar, si bapak langsung meletekan jarinya ke hidung kakek.

“Inalillahi….”

Hujan tiba-tiba saja turun dengan deras, menghilangkan kabut asap yang pekat. namun kabut kepedihan, kelukaan menyelimuti hatiku. Hujan mampukah membasuh duka ini?

Dang Mawar siswi SMK Muhamadiyah 2 kelas 10 MM 1

Loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *