Puisi dan Semangat

Hang Kafrawi

Bagi Atah Roy membaca puisi adalah menangkap semangat. Kata-kata yang dipilih oleh penyair merupakan saripati semangat hidup yang dapat dari denyut nadi kehidupan. Peristiwa dalam puisi dipadatkan dengan kata-kata, sehingga kata-kata yang dipakai penyair memiliki makna. Itu sebabnya, kata Atah Roy, puisi harus dibaca berulang kali, sehingga cahaya atau makna dari puisi dapat dirasakan dan ditangkap.

Puisi itu dibangun dari bahasa yang unik. Bahasa yang tidak biasa. Menurut Atah Roy, bahasa puisi yang dirangkai dari kata-kata pilihan menciptakan komunikasi tanda-tanda. Tanda-tanda inilah yang dibongkar pembaca. Pembaca puisi, menurut Atah Roy, harus menajamkan imajinasi, sehingga ketajaman imajinasi dapat menembus huruf-huruf dan mendapatkan gairah puisi tersebut. Menajamkan imajinasi ini, kata Atah Roy, menciptakan kecerdasan bagi pembaca. Membaca puisi, menurut Atah Roy, dapat memcerdaskan pembaca. Orang cerdas akan melahirkan humanis pula.

Baca Juga :  Tumbal

Membaca karya sastra, khususnya puisi hari ini, banyak penyair menjadikan sejarah sebagai sumber inspirasi. Dari fenomena ini, Atah Roy mencoba membuhul beberapa pemikiran.

Pertama, kata Atah Roy, para penyair ingin memperkuat identitasnya sebagai satu puak atau kaum. Tidak dapat tidak, kata Atah Roy, bahwa setiap manusia akan memperkokohkan keberadaan dirinya melalui asal usul. Identitas menjadi semangat untuk terus berbuat bagi kaumnya.

Kedua, menjadikan semangat masa lalu sebagai rujukan semangat hari ini. Hal ini, kata Atah Roy, dilakukan karena penyair melihat ada ketidakmampuan generasi hari ini di negeri ini bersaing dengan perkembangan zaman. “Kekalahan-kekalahan” terus mendera setiap ruang anak negeri. Maka dalam puisi-puisi yang bergerak dari sejarah selalu memunculkan tokoh-tokoh perkasa sebagai bahan perbandingan generasi hari ini. Kenapa orang dulu bisa, orang sekarang tidak? Begitulah kira-kira pertanyaan yang ada di benak Atah Roy.

Baca Juga :  16 Pelanggar PSBB Kota Pekanbaru Disidang Secara Online

Ketiga, sejarah selalu membentangkan kearifan suatu kaum atau puak. Kearifan sesama manusia, maupun kearifan terhadap alam semesta. Orang dulu selalu berpikir bahwa kehidupan ini jalan untuk menyemai kebaikan, sehingga keharmonisan menjelma dalam kehidupan. Bertanggung jawab atas segala yang dilakukan. “Tangan mencencang, bahu memikul,” ucap Atah Roy.

Atah Roy pun membuhul pandangan bahwa kata-kata dalam puisi hanya “kulit”, isinya ada pada makna. Makna inilah yang menjadi semangat hidup yang dipancarkan oleh puisi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *