Aurat Basah Terdedah, LAMR Meranti Minta Perang Air Dihentikan

Peserta perang air.

RiauKepri.com, MERANTI- Sejumlah peserta perang air, terutama wanita tionghoa mendedahkan aurat, sehingga Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Meranti meminta agar perhelatan tahunan menyambut Imlek ini dihenti.

Apalagi saat berbasah-basah, semakin terdedah aurat. Lekuk tubuh nan sintal menjadi pemandangan dimuka umum. Adoi…hal ini sangat bertolak belakang dengan adat dan budaya masyarakat Kepulauan Meranti yang merupakan tanah Melayu dan indentik dengan Islam.

“Persoalan ini memang sudah berkali kali terjadi. Namun kita tetap konsen untuk terus menghimbau mereka. Setiap tahun selalu saja ada pelanggaran. Kita hanya memberi rambu- rambu karena kita tidak punya hak untuk mengeksekusi,” kata Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Kepulauan Meranti, Abdullah, Rabu (29/1/2020), kepada wartawan.

Baca Juga :  Apresiasi Prestasi Panahan Siak, PT. BSP Bantu Peralatan

Sebagai lembaga yang tidak hanya memayungi suku Melayu, tapi juga sebagai payung pemersatu seluruh suku dan etnis yang ada di Kepulauan Meranti ini, LAMR berusaha untuk bersikap netral dengan memberikan peluang kepada wisatawan yang datang untuk memeriahkan festival tahunan ini.

“Tidak bermaksud untuk mencemari pariwisata di tempat kita, selagi hal itu tidak menodai adat dan syariat. Karena ini berdampak pada perekonomian masyarakat, mari kita dukung dan memberi peluang, karena ini hanyalah sebuah tradisi. Dan tidak ada kaitannya dengan perayaan agama. Selain itu keberadaan berbagai ragam budaya dan tradisi di Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi sebuah khazanah kekayaan budaya yang patut dilestarikan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bupati Inhil Instruksikan Satker Dirikan Home Industri Untuk Mengolah Produk Turunan Kelapa dan Mengembangkan Kopra Putih

Dikatakan Abdullah, LAMR Kepulauan Meranti merekomendasikan festival perang air itu dihentikan jika semua orang yang terlibat tidak peduli dengan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.

“Seandainya orang itu tidak peduli dengan ini semua, kita rekomendasikan untuk tidak usah ada perang air lagi
kalau hanya buat malu kampung dan ini demi marwah harkat dan martabat
Melayu. Kalau seandainya itu dilanggar terus menerus dan tak diindahkan sama sekali, lebih baik tidak dilaksanakan festival ini, kita harus tegas, ini bumi Melayu,” kata Abdullah.

Baca Juga :  Lusa, Ketua KONI Kabupaten Bengkalis akan Lantik Pengurus KOK Bukit Batu

Lebih lanjut dikatakannya, LAMR Kepulauan Meranti siap menerima resiko terhadap tanggapan yang diberikan.

“Apapun resikonya dengan tanggapan itu tak apa-apa kita ambil,” ujar Abdullah.

Untuk diketahui, Kota Selatpanjang, Kepulauan Meranti merupakan tempat destinasi pariwisata bagi wisatawan yang ingin merasakan serunya bermain air sambil berkeliling kota dengan menggunakan becak motor. Setiap tahunnya ribuan wisatawan tumpah ruah datang ke Kota Sagu ini hanya untuk bermain dan menikmati festival tahunan yang bersempena dengan hari raya Imlek. (RK1)

sumber: goriau

Loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *