Karya Sastra dan Kehadiran Dunia Kedua

Oleh Alpino

Alpino

Dalam menjalani kehidupan, manusia membutuhkan sebuah tragedi untuk meningkatkan kualitas hidup. Tragedi ini akan direnunggi dan dicarikan solusi untuk pendewasaan diri karena masalah yang datang menerpa akan membuat kita menjadi lebih kuat dan survive menjalani hidup. Namun pada faktanya untuk mengalami berbagai macam tragedi kehidupan  itu manusia dibatasi ruang dan waktu. Tidak semua orang punya permasalahan yang sama, setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri, dan bagi mereka yang mampu bangkit dari masalahnya akan mendapatkan sebuah pelajaran hidup.

Pada celah kekosongan inilah karya sastra hadir dari “dunia kedua” yang  menghadirkan sebuah dunia baru untuk diambil saripatinya dan diimplementasikan dalam kehidupan. Dunia kedua yang dimaksud adalah kehidupan yang ada pada tokoh-tokoh, masalah-masalah, latar tempat dan latar peristiwa yang diciptakan oleh pengarang melalui karya sastra. Latar peristiwa dan permasalahkan yang digambarkan oleh pengarang dari seluruh penjuru di tempat-tempat lahirnya dihimpun dalam satu kesatuan dimensi waktu, maka terciptalah sebuah dunia baru. Karya sastra yang sezaman inilah yang membentuk suatu dunia baru yang keberadaanya ada di setiap orang yang membaca karya sastra. Sebuah dunia yang tidak perlu kita terlibat di dalamnya, kita hanya menikmati, mengambil pelajaran dan mencari pundi-pundi tragedi yang berguna untuk kehidupan kita di dunia nyata.

Baca Juga :  Mantra Pemanggil Semangat Tanah  

Orang yang membaca karya sastra adalah orang yang hidup di dua alam. Mereka bertemu masalah-masalah serta berbagai macam penokohan dengan segala keunikan yang belum tentu dapat di temukan pada kehidupan yang nyata. Persentuhan dengan dua dunia ini membuat seseorang memiliki gudang tragedi, semakin banyak seseorang menbaca-semakin besar gudangya, dan ini jelas berguna karena dalam gudang tersebut terdapat cadangan solusi kehidupan untuk setiap permasalahan yang dihadapi di dunia nyata.

Tanpa membaca karya sastra seseorang tidak akan pernah bertemu dengan sosok Ajo Sidi  tukang bual yang menceritakan kisah Haji Saleh kepada seorang kakek gharim mesjid, sehinga si kakek  mati bunuh diri dalam kekacauan pada cerpen “Robohnya Sirau Kami” karya AA. Navis. Namun bagi orang yang telah membaca kisah ini, ketika ia bertemu dengan permasalahan yang sama dengan masalah yang dihadapi si kakek, bisa dipastikan ia tidak akan melakukan hal yang sama, dikarenakan seseorang telah membaca dan mempelajari tragedi ini maka ia akan merenungi dan mencarikan solusi untuk permasalahannya. Disinilah letak keunggulan orang yang membaca karya sastra, ia telah bertemu dengan masalahnya di dunia kedua yang memudahkan kehidupan di dunia nyatanya.

Baca Juga :  Catatan Kecil: Mantra, Asmara dan Kebenaran Itu

Dalam contoh lain, si cantik Srintil yang bodoh dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, kehidupan Srintil yang terisolasi dari dunia perkotaan dan tidak mengenal panggung perpolitikan saat itu, membuatnya diperalat oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk mengumpulkan masa dari lingkungganya. Seorang perongeng muda dengan paras wajah cantik yang memikat banyak orang ini mendapat perhatian dari pihak PKI, karena Srintil mempunyai potensi untuk membuat orang datang beramai-ramai ke acara yang diadakan oleh PKI waktu itu. Srintil yang tidak bisa membaca dan menulis akirnya terjebak dalam sebuah tragedi yang menyebabkanya sakit jiwa dan harus dirawat dalam rumah sakit jiwa yang diceritakan pada bagian akhir novel ini.

Baca Juga :  Alhamdulillah, Kota Siak Jadi Cagar Budaya Nasional, Menatap Warisan Dunia

Akar dari permasalahan ini adalah hegemoni budaya lingkungan Srintil yang menjebak dan tidak mengizinkan mendapatkan pendidikan yang cukup, walau hanya untuk sekedar mengetahui kalau lambang palu dan arit dengan tiga huruf di bawahnya adalah lambang partai komunis indonesia. Bagi masyarakat tempat tinggal Srintil menjadi seorang peronggeng sudah menjamin kehidupannya, karna kehidupan sebagai seorang peronggeng memiliki cukup banyak uang yang di dapat dari hasil saweran. Namun kisah Srintil mengajarkan kita bahwa bermodal paras wajah rupawan dan punya banyak uang saja tidak cukup untuk hidup dengan teori ideal. Sekali lagi, bagi yang membaca kisah Srintil ini tentu akan dapat sebuah tragedi yang memilukan, namun bermanfaat jika seseorang mampu mencari setitik cahaya terang dari kelamnya kehidupan Srintil.

Alpino adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *