Menggali Puisi Dalam Palung Tradisi

Puncak atau hakekat kesegaran yang terdalam yang terkandung dalam kegiatan tradisi, itulah puisi; Sutardji Colzoum Bachri

Apa itu tradisi? Dalam KBBI (n) adalah adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat. Indonesia dengan keberagamannya mempunyai tradisi yang kental dan masih dilakukan di setiap daerah. Namun tradisi tersebut lama kelamaan akan tergerus perkembangan zaman. Generasi penerus yang tidak memahami tradisi asalnya, akan kehilangan pijakan dasar untuk melangkah. Perlu pemikiran bersama untuk merawat tradisi tersebut.

Kunni Masrohanti bersama anggota Penyair Perempuan Indonesia (PPI) menyadari hal tersebut. Dalam kata pengantar buku “Palung Tradisi” Kunni mengatakan bahwa merawat alam jalan merawat tradisi. Alam dan tradisi sumber inspirasi puisi dan puisi mampu merawat keduanya. Berdasarkan hal tersebut maka pada tahun  2019 lahirlah sebuah buku kumpulan puisi yang merawat tradisi lahir dari rahim pemikiran para Penyair Perempuan Indonesia berjudul “Palung Tradisi” penerbit Rumah Imaji.

“Aku sudah tuntas membaca buku engkau ni, bagus dan aku salut sama kalian, bukan hanya sekedar puisi namun lebih dari itu. Aku seperti mengembara ke berbagai daerah setelah membacanya. Pengetahuanku tentang tradisi suatu daerah bertambah, yang semula tidak aku ketahui, aku menjadi tahu,” kata Wak Jamal

Aku tersenyum  dan mengucapkan alhamdulilah dalam hati. Buku Palung Tradisi memang tidak merangkum semua tulisan anggota Penyair Perempuan Indonesia. Ada yang tidak mengirimkan karya-karyanya. Pada tulisan kali ini, saya akan menggali beberapa puisi yang terangkum dalam Palung Tradisi.

……………..

Makhluk mungil itu
Seiring waktu terus melaju
Di bulan ke tujuh tahun Jawa
Saatnya upacara tedak sinten untukmu
Jadah tujuh rupa telah ditata
Pada wadah kakimu menapak
Hitam, merah, kuning, biru, jingga dan putih
Itulah warna warni kehidupanmu kelak
………

Puisi “Tedak Sinten” yang ditulis oleh Dee Ahmad yang berasal dari Mojokerto ini menceritakan tentang tradisi penghormatan kepada bumi tempat anak mulai belajar menginjakkan kakinya ke tanah. Tedak Sinten dilakukan di bulan ke tujuh tahun Jawa dengan dilengkapi berbagai Jadah tujuh rupa yang mana berisi beras kentan dicampur parutan kelapa ditumbuk hingga bercampur menjadi satu dan bisa diiris. Selain itu ada juga Ingkung yang berupa ayam yang dimasak utuh, leher dan kakinya diikat. Anak dimandikan dengan air bunga, dibalut dengan pakaian tujuh lapis mengharapkan kebaikan untuk masa depan anak kelak.

Puisi Edrida Pulungan yang berjudul Pelangkah, mengingatkan saya tentang apa yang telah dilakukan oleh Markonah. Markonah saat menikah dulu, ia memberikan sesuatu kepada kakaknya Zubaidah, karena mendahului kakaknya. Zubaidah belum menemukan jodohnya, sedangkan Markonah sudah siap menuju ke pelaminan.

Baca Juga :  1.368 Perusahan di Dumai, Zul AS: Pengawasan dan PHI Sebaiknya Ada

Apa yang dilakukan Markonah ke Zubaidah terdapat dalam puisi Edrida Pulungan :

Selembar kain
Seikat cincin
Pelangkah ketiga yang kuterima
Ikhlaskan adinda membina rumah tangga
Doa kupanjatkan dalam tetes air mata
………

Tradisi memberikan pelangkah yang berupa kain atau cincin atau apapun yang telah disepakati dalam keluarga masih ada yang menjalankannya. Dipercaya bahwa doa dan kebahagiaan seorang kakak akan memberi jalan yang terang pada kehidupan rumah tangga adiknya nantinya.

Tradisi lain yang berkaitan dengan pernikahan juga diceritakan oleh Rini Intama dalam puisinya yang berjudul di malam Ngeuyeuk Seureuh :

………………
Di malam Ngeyeuk Sereuh
Pengantin mempersembahkan mayang jambe
Jadi petuah tentang kesabaran dan kebijaksanaan
Inilah nyanyian perempuan pagi
Penumbuk alu dalam lumping matahari
Langit menyatukan satu pinang dibelah sama di dua tubuh lungkun
Dari dua tangkai lembar daun sirih digulung memanjang
Diikat sekuat rasa dengan benang kanteh

Ngeyeuk Sereuh merupakan salah satu adat sunda yang biasanya diselenggarakan sehari sebelum akad nikah dapat juga dilakukan sore hari ataupun malam hari setelah akad nikah. Pelaksanaanya dipimpin oleh seorang wanita yang telah berumur yang disebut “Pangeuyeuk”. Rini Intama menggambarkan bagaimana di malam tersebut, bentuk pelepasan seorang anak, kesedihan orang tua melepaskan anaknya untuk kehidupan yang baru. Perkawinan bukan kehidupan yang senang-senang saja, namun lebih dari itu. Di malam tersebut, tumpah ruah kesedihan berikut suka cita.

Menghormati alam sangat arif dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Tradisi sesembahan kepada alam masih banyak dilakukan di beberapa daerah. Di daerah Kampar ada tradisi yang bernama Semah Rantau; di atas piaw kepala kerbau jadi saksi/semah rantau mengaliri pulau. Diiringi talempong, anak cucu memohon/semah rantau berkah menghibau (orang-orang sungai, DM Ningsih). Ada juga yang bernama Kiai Mancung puisi yang ditulis oleh Eva Septiana RA.

……
Wangi minyak, kemenyan, dan kembang menguar terbawa angin
Membawa doa-doa keselematan
Dan berlimpahnya tangkapan nelayan
Wasiat ritual Kiai Mancung
Melarung sesaji menuju laut lepas
Sedekah laut peninggalan leluhur
……

Eva Septiana menceritakan dalam puisinya tentang sebuah ritual tradisi sedekah laut di desa Karang Sari Tuban, dan itu masih dilakukan hingga kini. Pusvi Devi menceritakan sebuah ritual penyembahan roh dari tanah karo yang bernama ritual Ngaleng Tendi ; “mari-mari, mari kam ku rumah tendi”/guru Namberi mulai berucap tabas sembari menari-nari/memintal mantra agar roh halus bertandang.

Ratna Ayu Budiarti atau kerap disapa RAB di beberapa puisinya menggambarkan  beberapa kesenian tradisional kabupaten Garut;  dua bilah bambu tegak mengangkasa/menara mana yang hendak di singgahi? (bait pertama) yang menggambarkan bagaimana pemainnya melakukan gerakan akrobatik di atas seutas tali yang direntangkan di antara dua bilah bambu setinggi 10-13 meter. Lekas tanah terasa jauh dari atas tali/setelah penari berakrobat menguji nyali/langit seolah dekat, meski ratusan hari mustahil diarungi. RAB menulis dengan apik tanpa melupakan permainan diksi dan rime yang molek.

Baca Juga :  Gubri Intruksikan Seluruh Bupati/Walikota Segera Dirikan Posko Karhutla

Palung Tradisi juga banyak bercerita tentang bentuk kuliner di setiap daerah dengan tentunya makanan tersebut punya makna tersen diri di setiap daerah. Suyatri Yatri  dengan puisinya “Kawa Daun” menceritakan tentang kenikmatan kopi kawa daun yang ditemani sepiring pisang goreng.

……
Setempurung kawa daun
Dibalut dingin Negeri Tabek Patah Salimpaung
Sepiring goreng bersantai pulang raun
Memandang keindahan berjajar parak kopi bernaung

Atau puisi Chie Setiawati yang berjudul Sekuali Dodol Betawi;
Suasana terhangat penuh semangat
Kayu bakar kering siap api melumat
Ratusan butir kelapa, gula dan tepung menanti dengan hikmat
……

Chie tidak hanya menggambarkan kenikmatan rasa dodol Betawi namun lebih dari itu. Bagaimana dodol Betawi tecipta dari kerjasama yang hangat, suasana yang nyaman dan semangat yang tak pernah pudar.  Dodol; tua, muda, para tentangga,guyub, rukun, dan akur/saling membantu tanpa mengatur/berbagi riang tawa, tradisi yang tak luntur. Puisi Chie tak hanya melulu menggambarkan bentuk kuliner betawi tersebut, namun melalui Dodol, Chie memperlihatkan kepada kita bahwa tradisi nenek moyang penuh kehangatan, tidak ada yang menjadi BOS dan merasa pintar, saling sadar diri dan menghargai sesama.

Puisi berjudul “Jangan Duduk di Ambang Pintu”, mengingatkan saya masa kecil saya dulu. Mak selalu melarang saya untuk duduk di depan pintu “Pamali!”

…….

“Ulah diuk di lawang panto Neng!”
Emak kembali menggerutu
Sambil menampi beras dalam nyiru
Berkali-kali kata pamali diumbarnya terbang bersama angina
Menelusup telinga kiri keluar telinga kanan
Aku tetap duduk di ambang pintu.

Duduk di depan pintu dipercaya bisa susah mendapatkan jodoh. Padahal terkadang duduk di depan pintu menjadi sesuatu yang mengasikan bagi seorang remaja, nasehat emak ada benarnya, bukankah duduk di depan pintu penghalang orang yang hendak lewat?

Bercerita tentang permainan anak-anak masa lalu juga diungkapan dalam buku ini.  Puisi “Air mata Bidak Congklak” di tulis oleh Ummi Rissa. Bagimana dirinya risau melihat perkembangan zaman ini. Anak-anak lebih tertarik main game dan memegang gadget, lego atau mobil legend. Saat mengajak anak bemain congklak, sang anak tidak tertarik, namun penyair tidak menyerah, Conglak tidak dibuang namun tersimpan dan berharap kelak anaknya akan tertarik dan bermain Congklak : sesekali mereka pulang/aku mengajaknya bermain/tapi jawabannya sederhana/”sudah nggak zaman permainan itu”/ada kegelesihan yang entah/hingga detik hamper berlalu/aku tetap menyimpan/ditumpuk mainan/congklakku congklak mainanmu.

Winda Efanur FS menulis puisi berjudul Tali. Dua bocah lain, mengayunkan tali/sembari menghitung dalam hati/tali itu terus diayun tanpa henti. Permainan tali atau samintrong adalah permainan tradisonal anak-anak desa yang biasa dimainkan oleh tiga anak. Winda menggambarkan bagaimana permainan tradisonal mampu memupuk kerjasama anak, berlajar sabar dan saling berbagi.

Baca Juga :  Buntut Dokter RSUD Mogok, Rudi Sahar Gagal Kontrol

Ompok batu adalah salah satu tradisi di Kabupaten Kampar dalam mencari ikan di sungai. Kunni Masrohanti dalam puisinya “Ompoklah Batu” menggambarkan cara masyarakat dalam menangkap ikan :kelak jangan sampai habis batu/hilang jernih sungai sepanjang hilir hingga ke hulu/sedang salimang menunggum/ditepi-tepi dan di balik batu/hempaskan keras-keras/ompoklah batu ateh batu/di genggaman, salimang yang kau mau/untuk santap malam dengan ayah jo ibu.

Pada puisi “Ompoklah Batu”, Kunni tak hanya sekedar menggambarkan cara mencari ikan, melainkan mengajak kita untuk memahami alam. Saat sungai tak dijaga, limbah dan kotoran pabrik baik mercury atau limbah batu bara memenuhi sungai maka manusia juga yang akan kena bala. Puisi lahir dari kata-kata yang ada di alam. Kata-kata yang ada di pohon, di gua, di laut, di sungai, di ladang, di kota, di desa, di tubuh-tubuh manusia.

Jangan pernah berkhianat pada alam, jangan penah melupakan tradisi, sebab di sana akan kita jumpai begitu banyak puisi. Seperti kata Sutadji Colzoum Bachri dalam kata Pengantar “Palung Tradisi” Menulis puisi adalah menulis di atas tulisan yang sudah tertuliskan sebelumnya atau yang sedang tertuliskan : Tradisi, mitos, legenda, sejarah dll. Dalam pencapaian kreatif puisi memanfaatkan nilai-nilai yang telah dan sedang tertuliskan

Maka mari merawat alam jalan merawat tradisi tersebab alam dan tradisi sumber inspirasi pusi. “segala berakhir saat kalian tak mampu merasakan denyut nadi sungai/genggam nafasnya seperti kalian menggegam nafas kalian/ sungai adalah hidup, jika berakhir maka hidup kita juga berakhir!”(orang-orang sungai)

DM Ningsih. 2020

Loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *