Nara

Cerpen Zulvenny Fatwa Firmananda

Ilustrasi (f. net)

Bakso dengan sambal geprek itu terasa nikmat namun menyakitkan di lidah Rana, si bukan pecinta rasa pedas. Namun karena rasa cintanya ke dek Nara, ia rela makan sambal jahanam itu, dan mereka duduk bersama dalam temaram lampu restoran yang usianya paling lama tinggal 15 belas hari lagi.

Dek Nara memiliki wajah yang cantik. Kacamatanya agak melorot ketika ia menunduk untuk meniup kuah bakso yang panas. Pipinya memerah karena kepedasan. Meskipun begitu, ketika ia menatap Rana, matanya yang cokelat bersinar karena senang.

Rasanya baru kemarin mereka pacaran. Nara tetap cantik walau dengan kemeja batik sedikit kusut dan gulungan rambut yang sudah longgar dimakan hari. Di kursinya disampirkan jaket putih dengan tulisan namanya dibordir di bagian saku, “dr. Nara binti Hosein”.

Berkebalikan dengan Rana. Jam tangan yang melingkari tangannya sedikit buram dan retak namun masih berdetak. Kaos yang dikenakannya lusuh, pun ada bercak saos yang tak pernah bisa hilang di bagian tengah dadanya. Celananya koyak di sana-sini yang dijahit dan ditambalnya. Satu-satunya yang positif di penampilan Rana hanyalah ekspresi yang tulus di wajahnya yang pas-pasan.

Nara yang membayari mereka makan. Meskipun begitu ia tetap terlihat cerah ketika masuk ke dalam mobilnya yang berkilau di parkiran yang kotor.

Ia menurunkan kaca mobil, dan tersenyum jahil pada Rana. “Saya lihat kamu banyak pikiran ketika kita makan. Memikirkan siapa hayo?” tanyanya.

Rana menggeleng. Senyum terpaksa menghiasi wajahnya. “Bukan siapa-siapa, dek. Saya minta maaf karena tidak bisa memberikan hadiah untuk ulangtahun adek kali ini.”

Nara pura-pura cemberut. “Saya tidak butuh hadiah. Cintamu saja.”

Kemudian, malaikat itu izin pulang, meninggalkan rasa senang diikuti penyesalan di hati Rana.

Ia tidak bangga memiliki kekasih yang begitu cantik dan tulus, belum lagi mapan dan cerdas, seperti Nara. Ia malu, malah. Malu mengapa makhluk dekil sepertinya bisa punya pacar seperti Nara.

*****

Setelah setahun menganggur, akhirnya Rana diterima sebagai guru honorer di sebuah sekolah untuk anak-anak kurang mampu. Gajinya tidak banyak. Hanya dua ratus ribu sebulan. Meskipun begitu Rana sangat bersyukur. Ia menabung terus, dan tak pernah mengambil uangnya di bank.

Baca Juga :  Cari Pasal, Ikut Kampanye Caleg Kades di Inhil Ini Divonis 8 Bulan Penjara

Anak-anak murid menyukai Rana. Ia mengajar dengan musik yang menyenangkan. Seringkali Rana menyanyikan lagu yang dibuatnya, tentang organ-organ pernapasan, organ-organ pencernaan, organ peredaran darah, dan jaringan tumbuhan. Belum pernah anak-anak belajar biologi semenyenangkan ini.

Sesekali, jika luang, Nara datang membawakan makanan untuk Rana. Mereka makan di salah satu gazebo sekolah, sambil melihat pohon cemara yang dililit batang bunga kertas yang tumbuh besar.

“Kenapa bisa begitu ya?” tanya Nara, memperhatikan bunga kertas yang menjuntai di atas pohon cemara yang tingginya 3 meter itu.

“Tidak tahu,” jawab Rana.

“Padahal batang bunga kertas itu kecil,” Nara terkikik. “Tapi bunganya bisa tumbuh sampai setinggi itu.”

Walau tidak tahu di mana lucunya, Rana tertular tawa. Hingga akhirnya ia tersedak rendang dan minum air dengan buru-buru. “Bunga kertas itu menompang pada cemara, dek. Makanya bisa setinggi itu,” ucapnya. Tenggorokannya masih terasa agak pedih karena rendang.

Nara memperhatikannya dengan tatapan sayu. “Begitu kah..”

Mereka makan lagi. Setelah selesai, Nara mengemas rantang, sementara Rana membuang kertas nasi ke tong sampah.

Ketika Nara memasuki mobilnya, barulah Rana melihat tatapan kecewa itu. Ia ingin melarang Nara pergi. Tapi suaranya mendadak kecil, dan tangannya yang terangkat untuk memanggil Nara terlihat lebih kecil lagi. Mendadak, Rana merasa begitu kecil. Tapi ia tetap bersuara.

“Ki-kita menikah saja kah, Nara?”

Nara menoleh ketika itu juga. Mata cokelatnya yang berair bercahaya, memantulkan sinar matahari yang mengintip dari celah di antara awan hitam. “Benarkah itu?”

“Benar,” kata Rana.

*****

Pernikahan mereka tidak ditentang ataupun direstui siapa-siapa. Pasangan itu keduanya tidak memiliki orangtua lagi di dunia ini, ataupun saudara dan sanak kerabat. Hanya Om Andre, sahabat almarhum Papa Nara, juga orang yang membiayai Nara kuliah hingga tamat. Ia saat ini sedang berada di luar kota, dan tidak berkomentar apapun tentang Rana sewaktu Nara menelponnya untuk memintanya menjadi wali di pernikahannya nanti.

“Kenapa dia tidak menanyaiku?” tanya Rana resah. Bakso di mangkuknya sudah habis bahkan sebelum Nara selesai menambahkan sambal dan kecap ke mangkuk miliknya.

Baca Juga :  Riau Jadi Tuan Rumah Hari Waisak Nasional

“Kamu cemas ya?” Nara menyeringai. Ia menyeruput kuah baksonya, kemudian menambahkan lagi sambal, lalu menyeruput kuahnya lagi sampai dirasanya pas.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 11 malam, dan selain penjualnya, cuma ada mereka berdua di warung makan itu.

“Bukan, dek,” Rana mengelak. “Tapi kamu tidak menceritakan seperti apa saya kepada beliau.”

“Saya sudah cerita tentangmu, kok,” Nara tertawa. “Kubilang, ‘Om, calonku ini orangnya baik dan penabung. Rela berkorban dan memiliki banyak anak murid yang lucu-lucu’,” ia mengulang ucapannya tadi di telepon dengan senyum lebar.

“Rela berkorban?” Rana menjadi semakin gelisah. Kapan ia pernah berkorban? Di mata Rana, Nara lah yang selalu berkorban untuknya.

“Iya. Kamu makan makanan buatan saya itu juga merupakan suatu pengorbanan,” Nara nyengir. “Walau rasanya parah,” ia menutup wajah, mendadak sangat malu. “Ah…  Aku juga ingin berkorban untukmu.”  Kalimat yang terakhir diucapkan dengan bersungguh-sungguh.

“Ah, masakanmu enak-enak saja, dek,” Rana berkata. Sejujurnya, ingatannya tentang rasa masakan Nara telah pudar, karena kabut kecemasan yang memenuhi otaknya. “Bagaimana jika pamanmu menolakku? Karena… (ia agak ragu, tapi rasanya harus diucapkan) kemiskinanku.”

Tatapan kecewa yang muncul di mata Nara menusuk seperti tombak. Tatapan yang tidak pernah dipahami Rana kenapa bisa muncul di setiap kali ia meragukan bahwa mereka bisa bersatu.

Kemudian saat itu lah perampok datang. Dua orang bersenjata  dan memakai helm berkaca gelap. Rana tertegun saking kagetnya, ia menggenggam tangan Nara erat.

“BAGI UANGNYA, CEPAT!” salah satu dari pejahat itu menodong si penjual.

Si penjual yang sudah ringkih itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerahkan bakso gratis, apalagi harta. Ya tuhan, dia akan mati, batin Rana ketakutan.

Melihat itu, entah apa yang di pikiran Nara, (mungkin juga sebagian dikarenakan hatinya yang lembut dan tulus dan juga dibesarkan di lingkungan yang penuh kasih), ia berdiri untuk menghentikan perampokan itu. “Hentikan! Saya akan menelpon—”

Hanya satu peluru. Satu peluru. Mengenai kepala Nara, dan Nara langsung jatuh dengan debam ke lantai. Di balik rambutnya yang ikal dan tebal, darah merembes seperti cat tumpah, terlihat mengerikan di jaketnya yang putih.

Baca Juga :  Bupati Bengkalis Terima Penghargaan Dari Kemenkumham Sebagai Kabupaten Cukup Peduli HAM

Rana berlari ke arahnya seperti kesetanan. Ia memeluk Nara yang tatapan matanya mulai pudar kehilangan kesadaran. Ia dapat mendengar ada orang lain lagi yang berteriak, namun telinganya tuli dan yang bisa didengarnya hanyalah deru nafas Nara yang lemah. Dan tatapannya mengabur dalam air mata yang berjatuhan tiada henti.

Ketika sebuah peluru menembus punggung dan mengenai tepat ke jantung Rana, ia tidak dapat membedakan rasa sakitnya.

*****

Lima hari kemudian Rana terbangun di sebuah rumah sakit. Ketika ia membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah anak muridnya yang sedang duduk di bangku panjang di depan kasur. Wajah-wajah mereka yang kusam dan bosan mendadak cerah ketika melihat Rana telah bangun.

Berdesak-desakan mereka mengelilingi kasur Rana. Rana menatap mereka satu persatu dengan bingung, sambil ia berusaha menjabarkan perasaan hampa yang melandanya.

“Pak Guru sudah sehat?” tanya Dika Aditya

“Ada yang sakit?” tanya Retno Tyara

“Kata kakak perawat itu bapak habis operasi jantung, lho!” kata Erni Supriadi.

“Jantung?” tanya Rana bingung.

Anak-anak muridnya kemudian mengangguk, dan entah mengapa mulai menyanyikan lagu “organ peredaran darah” yang pernah dibuat Rana.

“Jantung, pembuluh darah, Arteri.. Vena……”

Perlahan tapi pasti Rana mulai mengingat kejadian yang rasanya seperti semalam. Tatapan kecewa Nara ketika ia mengatakan sesuatu yang salah, kemudian pancaran matanya yang mendadak pudar setelah tertembak. Teringat jelas oleh Rana beban tubuh Nara ketika gadis itu terkulai di tangannya, deru nafasnya yang tersendat perlahan hilang.

Jantungnya terasa sakit sekali. Rana mencengkram dadanya, dan menangis. Terkenang hari ketika mereka merayakan ulangtahun Nara di tempat yang sama dua setengah tahun lalu. Jantung itu seperti jam tangan yang ia kenakan tempo lalu. Lusuh, retak, namun masih berdetak. Dan sakit di dadanya tidak pernah hilang seperti bekas saos yang tidak pernah hilang di kaosnya meski berapapun banyaknya deterjen yang ia gunakan.

Zulvenny Fatwa Firmananda adalah mahasiswi Program Studi Sastra Inggris FIB Unilak semester 4

Loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *