Sajak-sajak Joni Hendri

Joni Hendri,

aku tulis puisi
:Ana

kata pertemuan, aku tulis puisi
sebelum angin nakal menyentuh tubuhmu
secepatnya kertas diambil dari saku
dan saling menatap mata

kata sia-sia telah asin pada laut
menjenguk hati dengan sendiri
kita berada pada gelombang
hingga sampan menjemput percintaan

“Ana” kerap dipanggil keriuhan
pada pertemuan
pada asin laut
atau percintaan sekali saja.

Pekanbaru, 2020

Tentang Kota Mati

Tiba-tiba kota itu mati,
saat pekik dalam kesunyian
air dari laut berlomba datang bertamu
seketika tangisan telah pulang.

“Apakah Malaikat menyerupai air,
atau orang-orang lupa kepada Tuhan?”

Ketakutan berubah menjadi doadoa
lalu menghujankan bangkai
di bawah gedung – gedung tinggi
ia menyerupai zikir penyejuk hati,
menjumpai rohani dan jasmani.

Tentang kota mati,
mungkin sesuatu tamparan hati
tentang dosa bertubi-tubi.

“Apakah kita melihat kota itu?”

Ketika kesenangan menziarahi.

Baca Juga :  Begini Cara Civitas Akademika Unilak Lakukan Agar Asap Cepat Berlalu

02 Oktober 2018

Durhaka

Anak menampar Ayahnya, batu-batu diam.
Sudut mata menyimpan api, dan kita menangis.

“Itu durhaka!”

Ibu-ibu berlarian ke arah peristiwa, dan dosa dari kepalamu.
Anak-anak durhaka lahir kembali, setelah Dedap.
Darah di pelipis mengalir dengan pelan, masuk ke pori-pori tanah.
Cahaya lampu padam dalam kepala.
Mobil dan bus hanya bergerak dengan kencang.

“Owah, ini tentang durhaka.”

Sambil tersenyum pada bulan. Ada airmata hangat pada tubuhmu,
yang menyimpan sumpah bertahun-bertahun.
“Sumpah Ibu atau Ayah?” Tanyaku kepada orang-orang.
Hingga merengkuh pada kisah durhaka ini.
2018

Peristiwa Tun Teja Memakan Sirih

// 1
Lari malam itu, mengunyah rasa pahit
dikejar-kejar waktu pada kalbu pedih
sampai cinta hampa pada mantra
dimakan keadaan yang membosankan.

“Tun Teja!
Wanita cantik jelita berdarah Melayu
tetapi, kau disia-siakan Hang Tuah.”

Baca Juga :  Mantap, Polres Meranti Tangkap Bandar Narkoba Kelas Kakap Dari Batam

Untuk pengasih, maka peristiwa jadikan sejarah
tertipu pertengah jalan, saat bulan sedang purnama
dan sampan diam ketakutan pada pelita.

//2
“Tun Teja, memakan sirih!”
Tertipu oleh Hang Tuah,
ketika hati telah diperbudak mimpi
terpedaya di pertengahan jalan,
saat subuh sedang mengejar bayang
dan sirih dalam kerongkongan.

Rintik hujan malam membasuh kenangan
sunyi basahkan bersama air mata
gelombang jadi penipu dan dingin yang kejam
kepura-puraan membungkus dusta
jadi laknat yang melukai makna
sirih mekar oleh keterpaksaan kata
asin air sampan jadi penawar dendam.

// 3
“Tun Teja melupakan cinta, sebelum
matahari jatuhkan cahaya.”

Sampai pada pagi, membiarkan semua terjadi
tunggang langgang menahan hati
belaian sejarah kerap menyebut saban hari.
Penyalai, 2019

Kisah Pernikahan Dalam Sajak

//1
Tak ada lagi rasa takut dalam berpaling
tersebab pernikahan hanya perjumpaan
sedangkan berdua merupakan kasih sayang
yang kadang melelahkan ketika mendengar
dan hati pingsan pada pelaminan.

Baca Juga :  Wilayah Operasi BOB PT BSP Pertamina Hulu Terjaga dari Karlahut

//2
Baru saja aku melihat senja
bersanding pada sore di atas pohon kelapa
menggila bayang jatuhkan cinta
hampir terbunuh oleh kecemburuan malam
bersemedi dalam suasana diam.

//3
Kisah pernikahan ini sangat cemburu
dalam kepala yang masih hidup.
“Ah, kata tajam menghujam
segalanya jauhkan dari mata dan terbenam.”
Tuah manusia siapa yang tau?

//4
Telah terbiar mulut-mulut itu berkata
sebab tak kutakut dengan fragmen umur
bahkan bercumbu dalam kata larut
resah selalu mengerti tentang kisah
di lubuk kesusahan yang terdalam.
Penyalai, 2019

Joni Hendri, kelahiran Teluk Dalam, 12 Agustus 1993. Pelalawan. Alumnus AKMR. Sekarang melanjutkan studi di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning. Nomor Hp/Wa : 0812 6682 4580

Loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *