Hakikat Suara  

Oleh Syaiful Anuar

Syaiful Anuar

Mulanya, kehadiran Taufik Ikram Jamil (TIJ) di dunia sastra disebut Hasan Junus dalam bukunya “Mencari Junjungan Buih Karya Sastra di Riau” (1999) sebagai tonggak tanda penting, terutama karya-karyanya yang awal dipandang aneh, tetapi hal demikan mencirikannya sebagai pengarang di garda depan. Kumpulan cerita pendek Hikayat Batu-batu (2005) dan Hikayat Suara-suara (selanjutnya ditulis HSS) yang diterbitkan Kompas (2019) setidaknya menggambarkan pernyataan Hasan Junus tersebut. Dalam catatan lain, tulisan Al Azhar yang dipublis dalam situs Lembaga Adat Melayu Riau, menyebut TIJ sebagai penyair kritis dan kreatif dalam menangkap gejala yang ada serta gejala yang sengaja diada-adakan.

Gejala kehidupan selalu bergejolak dalam cawan jiwanya. Mungkin tersebab, ia pernah bekerja sebagai wartawan. Agaknya hal itu sebagai satu di antara faktor yang membuatnya bersikap kritis. Melalui HSS, TIJ memosisikan diri sebagai seorang yang amat gelisah atas persoalan yang tak pada tempat semestinya. Kealpaan pikiran kebanyakan orang dalam menerjemahkan suara, ditangkapnya secara kritis dan kompleks. Kemudian diolah dengan sudut pemaknaan yang jauh lebih lengkap. Perasaan yang halus, hati yang penuh, kecerdasan, serta nilai-nilai kemanusiaan terpatri di benak TIJ. Ia mencatatkan kompleksitas suara sebagai suatu yang berbeda dalam ruang kehidupan manusia.

Baca Juga :  22 Mei : Luka Negeri Kesedihan Salmah  

Sejatinya, kreativitas mencipta karya sastra memang selalu mengejutkan. Ide yang melembak di benak TIJ, tak terduga. Ia mencipta karya dari suatu yang dianggap biasa, menjadi sesuatu yang luar biasa setelah diolah dalam proses kreatifnya. Kumpulan cerita pendek HSS misalnya —sebelumnya Hikayat Batu-batu (2005)—, suara dijelmakan sebagai subjek dan juga objek dalam cerpennya. Suara sebagai tokoh yang kedudukannya sama dengan manusia —pemilik sekaligus asal suara itu bermula— itu sendiri. Ada 16 cerita dalam buku HSS tersebut, keseluruhannya bertajuk suara. Bagaimana mungkin dengan satu kata suara saja bisa menjadi banyak cerita, kalaulah bukan tersebab kreatifnya TIJ.

Plastisitas Suara

Setelah membaca HSS, dalam pemahaman yang berkait kelindan dangan berbagai hal, saya melihat suara dirancang TIJ semacam plastisitas dari kata suara itu sendiri. Suara dijelmakan menjadi tokoh yang kedudukannya sama dengan manusia sebagai empunya. Ia hidup bebas menghuni ceruk-ceruk kehidupan dan lucut dari sifatnya sebagai alat. Bahkan, ia pun mati dan dilayat dengan sungkawa. Sebagaimana manusia, suara memiliki jiwa dan juga menjalani kehidupan dengan karakter berbeda-beda —suara sebagai politisi, psikolog, sosialis, mahluk gaib, dan lain sebagainya. Tersebab demikian adanya, maka hati nurani tidak lagi menjadi rahim yang mengandung dan melahirkan suara.

Dari kedalaman dan keluasan ruang kehidupannya, secara mandiri suara menentukan jalan hidupnya. Dalam rentang kehidupan menjelang kematian, ia mencipta identitas yang khas. Suara mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan menjadi pribadi yang berperan aktif dalam peradaban. Ketika suara disandera, laungan deritanya adalah jelmaan pemberontakan. Sebab ihwal itu, suara menjadi lawan bagi relasinya. Namun sebaliknya, kebebasan suara pula menciptakan ruang baru dan menyandera manusia ke dalam cengkeraman nasib.

Baca Juga :  BPJS Ketenagakerjaan Lindungi 17.000 Honorer

Penempatan suara subjek bukan tanpa dasar atau hanya sekedar imajinatif. Sesungguhnya, TIJ telah mengembalikan suara pada hakikat asal. Bahkan suara telah wujud jauh sebelum alam semesta dan isinya diciptakan. Dalam riwayat-riwayat sejarah alam semesta, suara menjadi rahim bagi setiap kelahiran —kun fayakun. Pengembalian suara pada kedudukan awal yang dilakukan TIJ, telah menyadarkan kita tentang banyak hal yang sempat kita lupakan.

Kematian Suara

Di dimensi lain yang beku, TIJ menempatkan suara sebagai benda yang sepanjang usianya berada dalam kecundang. Mungkin seperti konfeksi yang diproduksi secara massal dan diperjualbelikan. Namun tidak disukat sesuai pesanan, tetapi menurut ukuran yang telah ditentukan. Nilainya sangat variatif, disesuaikan dengan standar kualitas dan peminatnya. Misalnya suara penyanyi dalam hitungan menit atau yang paling lama dengan hitungan jam, jauh lebih mahal jutaan kali lipat dibandingkan suara konstitusi yang lamanya lima tahun.

Baca Juga :  Pangeran Beda Dunia

Berbeda dengan wujud suara yang kepadanya dikandungkan jiwa, dalam bentuk ini, suara tak lagi dapat membela dirinya dari penguasaan makhluk. Suara diperalat sebagai komoditas yang hanya dalam musim tertentu saja ia bernilai dan banyak diminati. Penguasaan yang terjadi padanya bisa saja melalui cara-cara yang baik dan tentu berpotensi pula dengan cara-cara yang tidak baik. Meskipun dikuasai dengan cara yang baik, sesungguhnya suara tidak berharga walau secara matematis dapat dihitung nominalnya.

Dalam ruang kebekuan, takaran suara tetaplah sebagai benda, maka kepadanya berlaku hukum penyusutan —kian hari kian usang— dan akhirnya akan terbuang sia-sia. Namun keadaan akhir itu pula, memungkinkan suara kembali pada habitat awalnya yang bebas, meski sunyi dan terbuang. Agaknya penempatan suara pada asalnya ini, sengaja diciptakan TIJ sebagai penanda bahwa ada suatu dimensi siklus yang telah ditakdirkan Tuhan.

Syaiful Anuar, lahir di Pantaicermin, Riau pada tanggal 6 April 1985 dari pasangan Mhd. Nur dengan Nurdiah. Saat ini bekerja sebagai peneliti di Malay Culture Studies.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *