Dompet Belang Harimau

Oleh Alvi Puspita

Ilustrasi (f. net)

Sudah hampir tiga tahun mereka menikah, tetapi belum ada peningkatan yang berarti dalam kehidupan rumah tangga mereka, terutama yang menyangkut urusan yang satu itu. Dia mulai pula merunut ke belakang, berandai-andai dan hampir pula membenarkan apa yang dikatakan ibunya, hal yang dulu ia tentang habis-habisan. Teringat pula ia kata-kata salah seorang temannya, “Cinta itu hanya sebentar. Tahun pertama pernikahan kau akan merasa semuanya adalah eskrim rasa coklat kesukaanmu yang kau jilat dari bibir laki-laki yang kau cintai dan mencintaimu. Selebihnya kau tak peduli. Tapi, tahun-tahun berikutnya adalah susu anak dan beras yang mesti dibeli, listrik yang harus dibayar, sewa kontrakan, baju yang mesti diganti, dan seterusnya-seterusnya”.

Mengenai hubungannya dengan ibunya, dulu sempat pula meregang dan menegang karena perbedaan pandangan. Dan kini ia merasa malu, saat ia ternyata mulai membenarkan apa yang dikatakan ibunya dulu. “Makanlah cinta. Makanlah pikiranmu itu. Pilihlah yang kau suka!” Dia masih ingat betul kalimat terakhir ibunya tiga setengah tahun silam, saat mereka tidak menemukan titik sepakat. Ia menolak mentah-mentah rencana ibunya untuk menjodohkan dia dengan seorang dosen tetap di salah satu perguruan tinggi di tempat ia tinggal. “Dia dosen. Sudah punya mobil dan rumah sendiri. Sudah S2. Sebentar lagi lanjut S3.  Dia soleh. Sering jadi imam mesjid. Sering membantu orang kampung. Keluarganya terpandang. Kamu akan bahagia dengan anak-anakmu.” Dia hanya membalas harapan ibunya itu dengan satu kalimat singkat yang membuat ibunya meradang, “Mengapa tidak ibu saja yang menikah dengannya?!”

Baca Juga :  DEKAM : Sejak Indonesia Merdeka, Baru Sekarang ada Jalan Tol Tembus ke Riau, Jokowi Layak Dua Periode

Kini, sudah hampir tiga tahun dia menjalani kehidupan barunya. Dia yang dikenal teman-temannya sebagai perempuan yang begitu batu pada laki-laki, akhirnya tiba-tiba saja tanpa ada yang menduga, memutuskan menikah dengan seorang laki-laki dari pantai barat Sumatera. Karena cintakah? Atau karena tuntutan? Entahlah. Dia tidak tahu. Yang dia tahu, dia masihlah perempuan penuh cita-cita dan dia yakin dengan laki-laki yang dipilihnya cita-cita itu akan tetap menyala. Tapi masih adakah cita-cita saat hidup makin nyata? Ia tidak tahu. Yang dia tahu sekarang, perutnya sudah makin buncit. Setelah dua tahun penantian, yang ditunggu-tunggu datang juga. Sekarang sudah masuk bulan ketujuh dan si dia sudah mulai menendang-nendang. Usaha yang ia rintis bersama dengan suaminya masih saja jalan di tempat. Untuk makan cukup memang ditambah untuk bayar sewa kontrakan. Tapi bukankah kebutuhan hidup bukan hanya makan saja. Butuh pakaian juga butuh tempat berlindung. Dan bukankah memiliki tempat berteduh sendiri tanpa perlu mengontrak lagi adalah mimpi dan keinginan setiap orang. Belum lagi keperluan jika si bujang yang suka menendang itu telah sampai waktunya untuk tiba ke dunia. Dia tak ingin menjadi orang tua yang tidak bisa memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, terutama makanan dan pakaian juga pendidikan tentunya.

Dia masih saja larut dengan pikirannya sendiri. Magrib hampir tiba. Ditatapnya dompet suaminya yang tertinggal. Tadi suaminya berangkat buru-buru karena ada seorang teman lamanya menelpon. Mereka sudah lama tidak bertemu dan kebetulan teman suaminya sedang berada di kota tempat mereka tinggal untuk urusan pekerjaan. Sudah hampir dua jam yang lalu suaminya pergi dan belum juga pulang. Dompet itu, tiba-tiba saja mengganggu pikirannya. Dombet belang harimau. Sudah lusuh dan tekopek-kopek. Maklum. Cuma harga sepuluh ribu saja dompet itu. Ia pun mulai menduga-duga.

Baca Juga :  Pasar Murah Ramadhan, Pemkab Bengkalis Siapkan 14.950 Paket Murah Untuk Keluarga Kurang Mampu

“Jangan-jangan karena dompet ini”, ujarnya. “Ah. Tapi tak mungkinlah”, jawabnya sendiri. “Tapi. Kononkan setiap barang itu ada tuahnya. Apalah tuah yang dimiliki dompet sintetis ini. Dompet sepuluh ribu cuman ”. “Tapi kan, walau murah coraknya belang harimau. Harimau itu gagah. Mestinya dompet ini isinya juga mesti gagah”. “Tapi kan itu tiruan. Tak asli. Tak branded. Coba kalau branded, elok dilihat dompet tu. Bahannya kulit asli. Gagah betulan. Kalau dompetnya gagah betulan pastilah isinya juga gagah betulan”. “Ah. Tapi manalah pulak begitu. Manalah ada tuah bahan dompet tu!”. “Tapi kan. Masuk akal juga. Siapa tahu jejeran warna merah dan hijau tu enggan masuk dalam dompet belang harimau tu karena merasa tak selevel”. “Apa sih kamu”. “ Aduh. Tapi kan kalau branded harganya mahal”. “Tapi kan kata Nuraini boleh kredit. Cash 350 ribu. Kredit 400 ribu. Seratus ribu sebulan.” “Apalah ini. Buat apa beli dompet semahal itu. 350 ribu kan bisa untuk beli  beras sekarung. Bisa beli token listrik. Tambah pulak bisa beli susu untuk nutrisi si bujang dalam perut tu. Atau. 350 ribu bisa beli perlengkapan si bujang. Dapatlah bedong setengah lusin. Beli garitodll”.  “Tapi kan. Semuanya butuh usaha. Ikhtiar. Mengejar tuah. Itukan juga ikhtiar. Kalau kubeli dompet tu sekarang, ada lah dua bulan lagi dompet tu menunjukkan tuahnya. 350rb tu jadi modal untuk dapat berkali-kali lipat. Amanlah itu perlengkapan untuk si bujang. Bisa ke Baby Shop belanja nantik”. “Terpengaruh pulak kamu sama Nurani tu kan. Manalah ada tuah-tuah. Yakin saja. Kau kan suka dengar ceramah Ustadz Adi Hidayat, ceramah Ustadz Somat. AA Gym juga. Cuman dengar saja kau? Tak kau resapi? Tak yakin kau?” “Tapi Nuraini itu juga ada betulnya. Nenek kan juga pernah bilang macam tu dulu. Segala barang tu ada tuahnya. Anak, suami, rumah, semua ada tuahnya!”[1]”“Tapi kan!”.

Baca Juga :  Rekam Video Cewek Lagi Mandi, Cowok di Marpoyan Ini Ditangkap Polisi

Tersadar ia kemudian dari sahut-sahutan pikirannya saat perutnya tiba-tiba terasa ngilu. “Aduh, Nak”, keluhnya. Bayi dalam perutnya entah kenapa tiba-tiba saja menendang-nendang lebih kuat dari biasa. Gembira ia. Tapi muram pula seketika. Ia pegang perutnya yang makin buncit itu. Bergerak-gerak perutnya. Tersenyum rekah ia. Dialihkan pandangannya pada dompet belang harimau suaminya, muram pula ia setelahnya.

Tenenot…tenenot.. tenenot ..tenenot. Tersadar lagi ia. Hp Nokia senternya berdering. Nuraini rupanya.

Pekanbaru, 2019

[1] Bagian ini terinspirasi dari cerpen Tuah karya Edi Ruslan P Amanriza.

 

Alvi Puspita. Lahir di Kampar. Ibu Gadi dan Soki. Bermastautin di Pekanbaru-Riau adalah dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak

 

 

 

 

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *