Masih Ada Waktu

Oleh : Marzuli Ridwan Al-bantany*)

Marzuli Ridwan Al-bantany

Tiada kata-kata yang lebih indah untuk diucapkan selain kata syukur, alhamdulillah. Ungkapan kesyukuran yang keluar dari mulut dan terpancar dari setiap laku diri kita, tentu menunjukkan akan kualitas iman dan taqwa yang kita miliki. Menunjukkan juga seberapa besar pedulinya (care) kita kepada Allah, Tuhan yang menjadikan hidup dan kehidupan ini.

Sungguh tak terhitung lagi entah berapa banyak nikmat-Nya yang sudah kita rasakan. Sejak kecil hinggalah ke usia kita di hari ini, kita pun tak akan sanggup menjumlahkan semua nikmat dan segala karunia-Nya itu.

Di hadapan-Nya, sesungguhnya kita ini adalah insan yang sangat lemah, tak berdaya. Tak ada juga yang seharusnya dibangga-banggakan dalam hidup ini, sebab segala pangkat, kekayaan, jabatan dan segala yang melekat di tubuh kita, bahkan diri-diri kita ini adalah miliknya, selalu berada dalam genggaman dan pengawasannya.

Perhatikanlah, di hari ini saja – siapa yang sanggup menjamin bahwa kita masih hidup, masih mampu mengenyam manisnya pemandangan alam buana ciptaan Tuhan. Bukankah banyak diantara saudara-saudara kita yang kemarin dan mungkin beberapa waktu lalu bergurau senda bersama dengan kita, namun hari ini mereka sudah tidak lagi bersama dengan kita. Bahkan untuk sekadar saling menyapa lewat kata-kata, atau lewat pesan dari sambungan seluler-pun sudah tak sanggup lagi. Mungkin karena saudara-saudara kita itu kini terbaring lemah karena sesuatu uzur, atau barangkali juga diantara mereka sudah ada yang lebih dulu kembali ke pangkuan ilahi.

Baca Juga :  Kampung yang Dimakan Api

Sungguh tiada daya dan upaya kita, melainkan semuanya atas kehendak-Nya jua. Oleh sebab itu, selagi masih diberikan kesempatan bertemu dengan matahari, menikmati indahnya gemerlap bintang-bintang dan purnama di waktu malam, selagi itulah kita mesti selalu menanam cinta dan kasih sayang pada semesta alam, merawat setiap kebaikan sekecil apapun ia. Lain tak bukan agar segala kebaikan serta kebahagian yang abadi akan selamanya dituai, baik ketika menjalani hidup yang sementara ini, maupun kelak di kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.

Oh, aku teringat akan pesan yang disampaikan Ebiet G Ade, salah seorang musisi yang kita punyai. Dalam sebuah lagunya yang berjudul Masih Ada Waktu, betapa ia mengingatkan kita agar selagi mungkin – hendaknya terus mengumpulkan bekal bagi menempuh perjalanan yang abadi (kampung akhirat).

Selagi masih ada kesempatan, selagi masih bisa menorehkan amal kebajikan, tetaplah berikhtiar, selalu berjuang untuk menjadi manusia yang benar-benar bahagia lahir dan batinnya. Bukan sebaliknya, bersusah-susah payah mengejar sesuatu kebahagiaan yang pada dasarnya sebuah fatamorgana; mengelirukan, mengaburi pandangan mata hati, dan bahkan menjauhkan diri kita dari hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya – yang semestinya dicari dan dimiliki selagi napas tersisa.

Baca Juga :  Seni Politik

Selagi masih ada waktu, semoga selalu ada jalan indah bagi kita untuk menambah amal kebaikan, yang nantinya dapat mengantarkan kita kepada kasih dan ridha-Nya – mengantarkan kita semua pada kehidupan yang damai dan penuh bahagia.

Kepada saudara-saudara kita, baik yang dikenal maupun tidak, mari sampaikanlah kebaikan-kebaikan itu dengan penuh rasa bahagia. Tak usah dipikirkan besar atau kecil nilai kebaikan yang telah kita berikan kepadanya. Atau balasan apa yang semestinya harus kita dapatkan dari mereka, orang-orang yang telah kita tolong dan merasakan kebaikan-kebaikan kita.

Yakinlah, meski kebaikan itu hanya berupa sepenggal kata atau sebaris tulisan yang sangat sederhana, namun ketahuilah bila keberadaannya telah membuat rasa nyaman bagi saudara-saudara kita, itu artinya pintu-pintu kebaikan akan selalu ada dan terbuka untuk kita. Belum lagi kebaikan-kebaikan lain yang mungkin akan mengiringinya, tentulah teramat besar nilainya di sisi Tuhan, di hadapan-Nya yang telah menitipkan hidup ini kepada kita.

Baca Juga :  Dompet Belang Harimau

Sejenak, tiada salahnya kita menyimak lirik lagu Masih Ada Waktu, lagu indah yang pernah ditulis dan disenandungkan musisi lagendaris tanah air kita, Ebiet G Ade:

Masih Ada Waktu

Bila masih mungkin kita menorehkan batin
Atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas
Mumpung masih ada kesempatan buat kita
Mengumpulkan bekal perjalanan abadi
Hoo.oo.du.du… du.ouoo… ouoo

Kita pasti ingat tragedi yang memilukan
Kenapa harus mereka yang terpilih menghadap
Tentu ada hikmah yang harus kita petik
Atas nama jiwa mari heningkan cipta
Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu

Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung
Hanya atas kasihnya hanya atas kehendaknya kita masih bertemu matahari
Kepada rumput ilalang kepada bintang gemintang
Kita dapat mencoba meminjam catatanNya
Sampai kapankah gerangan
Waktu yang masih tersisa

Semuanya menggeleng semuanya terdiam semuanya menjawab tak mengerti
Yang terbaik hanyalah segera bersujud mumpung kita masih di beri waktu
Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu

_

TUNAS (TUlisan-tulisan ringan namun berNAS)
Catatan Seorang Penyair,

Marzuli Ridwan Al-bantany, sastrawan, penulis buku “Menuju Puncak Keindahan Akal Budi”, bermastautin di Bengkalis

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *