Aneh Balai Bahasa Riau, Persyaratan Lomba Berdasarkan Kuata, Lomba atau Antologi?

Ilustrasi (net)

RiauKepri.com, PEKANBARU – Balai Bahasa Riau mengadakan Sayembara cerpen pendek tingkat SLTA se-Riau. Tenggat waktu yang ditentukan yaitu 11 April hingga 7 Mei 2020. Namun pada syarat khusus, ada hal yang sangat aneh dan tidak wajar bagi peserta, yaitu membatasi cerpen hanya untuk 100 kuota saja.

“Wah baru kali ini ada perlombaan yang menentukan berapa kuota naskah yang masuk. Lalu jika berdasarkan kuota kenapa harus dibuat tenggat hingga tanggal 7 Mei 2020?” jelas DM Ningsih, penulis perempuan Riau.

Persyaratan ini, kata DM Ningsih, membatasi kreatifitas siswa. Hal ini sangat tidak wajar dilakukan oleh sebuah lembaga pemerintah yang seharusnya membuka luang sebesar-besarnya bagi yang berminat untuk ikut serta perlombaan tersebut. Belum lagi gaung adanya lomba yang dilakukan hanya sampai ke beberapa sekolah saja.

Baca Juga :  Dihantam Gelombang 4 Meter, Kapal Tenggelam di Selat Malaka, 3 Korban Hilang

“Buktinya beberapa sekolah yang saya telpon apakah mengetahui mengenai perlomabaan ini, mereka sama sekali tidak mengetahuinya.
Tanda tanya saya semakin besar, apa yang ada disebalik lomba ini hingga harus dibatasi 100 kuota. Apakah mereka tidak berpikir phsykologi seorang anak yang baru saja mengetahui akan ada lomba ini, lalu begadang semalaman menyelesaikan cerpennya, satu hari sebelum tenggat waktu ditentukan, namun gagal mengikuti lomba itu hanya karena tepat tanggal 6 Mei 2020 kuota sudah mencapai 100 cerpen,” ucap DM Ningsih.

DM Ningsih menambahkan, bagaimana kekecewaan seorang anak yang cerpennya ditolak mengikuti lomba hanya masalah KUOTA! Padahal tenggat waktu pengumpulan karya belum lewat. “Ini lomba atau mereka mengumpulkan cerpen untuk antologi yang akan naik cetak?” jelas DM Ningsih.

Jika mengumpulkan cerpen untuk antologi, kata DM Ningsih, jelas bukan hal yang aneh jika ditentukan berapa kuota cerpen yang dikumpulkan. Sebab itu ada kaitannya dengan hitung-hitungan berapa halaman buku yang akan naik cetak nanti. Jika kegiatan yang mereka lakukan adalah untuk penerbitan antologi, semua menjadi wajar jika berbicara kuota.

Baca Juga :  Kalau tak Ada Aral, 25 Juli Penetapan Pemenang Pilgubri¬†

“Balai Bahasa Propinsi Riau dengan lomba cerpennya kali ini menimbulkan berbagai macam pertanyaan. Apakah 100 cerpen yang dikirim oleh 100 siswi SLTA? Apakah lomba ini hanya diperuntukkan untuk 100 siswa saja di Riau? Apakah hanya 100 siswa saja yang boleh mempunyai peluang untuk menunjukkan kebolehannya? Dengan dana pemerintah, seharusnya Balai Bahasa Propinsi Riau tidak boleh menentukan syarat berdasarkan kuota. Bahkan siswa dipatahkan langkahnya sebelum tenggat waktu berakhir. Sungguh rasanya tidak adil,” kata DM Ningsih.

DM Ningsih juga menyampaikan, jika ditelusuri lebih lanjut, apakah informasi lomba ini sampai ke setiap sekolah di Pekanbaru? DM Ningsih merasa tidak.

Baca Juga :  Petani Harap Pemerintah Pertimbangkan Efek Kemanusiaan di Konflik PT PSJ Vs NWR

“Marilah mulai sekarang, sebagai sebuah lembaga pemerintah yang bergerak di bidang literasi agar lebih bijak dalam menentukan syarat suatu perlombaan. Berikanlah ruang kebebasan bagi siapa saja yang ingin mengikuti. Sebarkanlah informasi ke setiap sekolah, jangan hanya sekolah-sekolah tertentu saja yang mendapatkan informasi tersebut. Jika ingin melakukan pengembangan literasi di sekolah, lakukanlah dengan maksimal, jangan hanya untuk menghabiskan anggaran saja. Berikanlah yang terbaik untuk anak bangsa dan negara,” ucap DM Ningsih. (RK5)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *