Klarifikasi Balai Bahasa Riau Tentang Lomba Penulisan Cerpen untuk Siswa

Ilustrasi (net)

RiauKepri.com, PEKANBARU – Terkait berita di media ini berjudul “Aneh Balai Bahasa Riau, Persyaratan Lomba Berdasarkan Kuota, Lomba atau Antologi” yang dimuat pada tanggal 7 Mei 2020, Balai Bahasa Riau melalui Kepalanya Songgo Siruah mengklarifikasi.

Menurut Songgo Siruah pernyataan DM Ningsih (narasumber berita tersebut, red) berita tersebut berisi beberapa pertanyaan, tuduhan, dan saran yang menyudutkan Balai Bahasa Riau. Pertanyaan seperti itu, kata Songgo, semestinya ditanyakan langsung  kepada panitia bukan kepada pembaca.

“Membatasi peserta sayembara hanya 100 orang bukan hal yang aneh dan bukan hal tidak wajar.¬† Dalam ini, panitia hanya bertugas menerima dan menyeleksi 100 peserta sesuai dengan anggaran,” jelas Songgoh dalam tulisannya yang dikirim ke redaksi riaukepri.com melalui WA.

Baca Juga :  Dihadiahi Tanjak, Ini Komitmen KDI Membangun Bengkalis

Kata Songgo, penentuan batas awal dan akhir waktu pendaftaran peserta (11 April s.d. 7 Mei 2020 atau sekitar 31 hari) tidak bermaksud membatasi kreativitas siswa seperti ditulis pada paragraf ketiga, baris pertama dalam berita tersebut.

“Dalam paragraf lima baris ke tiga, DM Ningsih menyatakan, ‘Ini lomba atau mereka mengumpulkan cerpen untuk antologi…?” Dalam hal ini, menentukan jumlah kuota peserta dan naskah yang diterbitkan merupakan kewenangan panitia,” jelas Songgo.

Pada paragraf ke tujuh, kata Songgo, DM Ningsih mempertanyakan beberapa hal, dan Songgo menjelaskan sebagai berikut:

Baca Juga :  Buat Lomba Menulis Cerpen Pakai Kuota, Balai Bahasa Riau Dikritik

1. Apakah 100 cerpen yang dikirim oleh 100 siswa SLTA? Maksud kalimat 1 ambigu, tidak jelas!
2. Apakah lomba ini hanya diperuntukkan untuk 100 siswa di Riau? Sayembara untuk siswa SLTA/sederajat se-Riau sesuai dengan brosur.
3. Apakah lomba ini hanya diperuntukkan untuk 100 siswa saja di Riau? Ya, karena sayembara ini untuk tingkat Provinsi Riau.

Pada paragraf ke sembilan, Songgo menjelaskan, DM Ningsih menganggap panitia tidak bijaksana, membatasi kebebasan siswa, informasi hanya disebarkan ke sekolah tertentu, dan hanya menghabiskan anggaran. Pada paragraf ketujuh, panitia dianggap tidak adil. Hal itu tidak benar karena brosur kegiatan dapat dibaca oleh siapa saja dan kegiatan itu menghasilkan buku antologi karya peserta.

Baca Juga :  Dianggarkan Sebesar Rp 48,95 Milyar, Pembangunan Jalan Gajah Mada Duri Dimulai Maret Mendatang

“Pertanyaan, tuduhan, dan saran DM Ningsih telah dibaca 381 orang pada tanggal 12 Mei 2020, pada sekitar pukul 10 WIB. Pembaca yang menyukai berita itu mengira tuduhan DM Ningsih benar demikian. Padahal, hal itu nyata tidak benar,” jelas Songgo. (RK2)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *