UAS: Dari Posmo ke Posmo, Oleh: Taufik Ikram Jamil, Sempena 43 Tahun UAS, 18 Mei 2020

Ilustrasi.

/1/
Tak langsung tercerna oleh saya terhadap julukan kawan saya Abdul Wahab kepada Ustadz Abdul Somad (UAS), lengkapnya Datuk Seri Setia Ulama Negara Prof. Dr. H. Abdul Somad, Lc, M.A. Dia menyebut sosok itu sebagai ustadz posmo, malah bergerak dari posmo ke posmo; seseorang yang berada pada suatu posisi setelah atau paska modernitas dengan penyempurnaan terhadap modernitas itu sendiri, kemudian mempraktikannya secara nyata dalam amal dan kerja.

“Begitu agaknya? Entahlaah ya, aku pun tak tahu rinci, apalagi mendalam. Tapi begitulah aku kira, teringat bacaan yang dulu-dulu,” tulis sahabat saya itu melalui salah satu fasilitas telepon genggam. Tak perlu waktu lama ketika saya tanyakan contohnya, Wahab membalas dengan rangkaian kalimat, “Materi, lokasi aktivitasnya, bahkan saluran materinya, termasuk benang hijau yang menyatukan dalam banyak ceramahnya, kukira penuh dengan unsur posmo.”

Maksud Wahab dengan posmo itu, agaknya tidak jauh dari postmodernisme atau pascamodernisme, suatu pemahaman yang berkembang pada abad ke-20 dalam semua sendi kehidupan, meskipun pada mulanya diawali oleh seni. Posmo menghargai semua pemahaman dan seseorang dipersilakan berbicara atas pemahamannya sendiri. Di sisi lain, posmo berusaha menjulang tradisi dan spritual yang sebelumnya digilas oleh modernisme dengan apa yang disebut antara lain sekularisme dengan anak kandungnya berupa kapitalisme.
Dalam hal materi contohnya, Wahab menyebut bahwa tentu bahan dakwah UAS bersumber dari Rasulullah SAW yang sampai ke tangannya melalui sekian banyak ulama. Ini semuanya dibentangkan oleh UAS tanpa harus mempertentangkan antarmazhab (pemahaman/ teori), kemudian secara tegas menyatakan apa yang diikutinya. Apalagi dalam banyak hal, ia mampu mengaktualisasikan suatu perkara dengan dalil yang ada. Paling fenomenal, memang ketika ia mengingatkan kesaksian palsu dalam Pemilu.

Bagi Wahab sendiri, tindakan UAS tidak bersedia untuk dicalonkan sebagai wakil presiden pada Pemilu 2014, masih berada pada jalur posmo itu. Sebab sebelumnya, ia banyak berbicara soal kepemimpinan, negara, keutamaan ulama dan posisi habib. Justeru dia dicalonkan oleh suara ulama yang mendukung habib, tapi langsung dihindarinya. Dalam hal ini, ia mematahkan tesis umum dalam modernisme yang selalu berbicara linier antara perkataan dengan keinginan, tidak mengambil nilai spritual di balik suatu ungkapan.

Baca Juga :  Pelajar di Inhil Ini Dihamili Buruh Pasir

Mengenai media, Wahab menulis, “Ajaran Islam itu kan sudah lama, sudah banyak pula yang menyampaikannya. Tetapi UAS mengeksplorasi media baru, sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi. Ia tak hanya mendatangi umat, tetapi juga sekaigus meluncur di alam maya dengan suatu kesadaran komunikasi,” tulis Wahab. Diingatkannya, media yang dipilih UAS adalah media milenial, suatu gurun generasi yang tidak jauh dengan kehadiran UAS secara fisik.
Ia menambahkan, sebagian besar orang mengenal UAS lewat postingannya di media sosial yang pada masa wabah covid-19 seperti mengaktualkan diri. Ia membatalkan jadwal ceramahnya sejak Maret, tetapi tetap dekat dengan umat melalui media baik mandiri maupun sebagai tamu. Ia tampil di televisi, tetapi terus mengadakan livestreaming dan mengunggah ceramah ke salurannya yang telah dipilihnya secara permanen.

/2/
Wahab kemudian menulis, UAS bisa berada di mana-mana. Dari satu masjid ke masjid lain, dari satu kota ke kota lain, dari satu kampung ke kampung lain, tetapi kemudian seperti tiba-tiba berada di tengah masyarakat Talangmamak, Riau. UAS berada di tengah masyarakat yang disebut pedalaman, turunan langsung dari proto-Melayu yang dapat dikesani sejak 3.000 tahun sebelum masehi.

Ia narik turun pesawat, bahkan di beberapa tempat dsambut bak seorang raja, tetapi kemudian begitu saja berjalan ke pedalaman dengan sepeda motor dan boat pancung berjam-jam tanpa banyak diketahui orang banyak—itu pun dengan mengerahkan fasilitas pribadi, sebagai jadwal tetap setiap Februari. Tidur di tenda dan makan seadanya, bukanlah suatu cerita dari kondisi ini.

Baca Juga :  Meskipun Covid-19, Pangan Riau Relatif Aman

Tentu banyak ustadz yang menjalankan fungsinya di kota dan di kampung, bahkan pedalaman. Tak masalah mau berdakwah di kota saja, di kampung atau di pedalaman saja yang semuanya insyaallah akan tetap dinilai sebagai ibadah oleh Allah Azwajalla. Tetapi seperti menggabungnya dalam satu kesatuan sebagaimana terlihat pada aktivitas UAS, tentu harus dicari lagi. Apalagi sebelum ke tengah masyarakat adat itu, UAS dua kali sekejap pula umroh pada bulan Januari, minimal sekali. “Waktu dibentang antara kuno (proto-Melayu) dengan kekinian, apa pun julukan yang hendak kita berikan terhadap masa sekarang—paling tidak disebut modern kan?. Waktu dibentang antara non-Islam ke Islam,” tulis Wahab.

Mencuplik materi, media, dan lokasi UAS, tak salah lagi kalau benang hijau yang nenghubungkan hal-hal tersebut adalah sejarah. Saat UAS menyebut sanad suatu hadis, termasuk juga sumber materi secara rinci, ia berada pada tataran kesejarahan. Apalagi saat dipahami lokasi aktivitasnya yang “mengembara” antara prasejarah dengan kekinian, ia masuk ke wacana masa dakwah yang panjang. Masih banyak kan orang Talangmamak yang belum Islam sebagaimana agama ini masuk ke aerah tersebut pada abad ke-7?
Posmo juga yang memberi tahu bagaimana posisi sejarah menjadi utama dalam memberi makna terhadap segala sesuatu yang ada di dunia ini. Dalam semiologi, manusia disebut sebagai homo culturalis, yakni sebagai makhluk yang selalu ingin memahami makna dari apa ditemukannya (meaning-seeking creature). Makna dalam sejarah merupakan hasil kumulasi dari waktu ke waktu.

/3/
Bukankah melalui rentang waktu itu, keberadaan UAS dapat menunjukkan persebatian Islam di daerah ini, pada salah satu kawasan Melayu yang paling dinamis sepanjang masa. Sebab bagaimanapun, Talangmamak akan terkait dengan banyak nama maupun tempat seperti Syekh Burhanudin pada abad ke-12 dan Syekh Abdul Wahab Rokan pada abad ke-19. Malahan, dapat ditarik lagi pada saat Maharaja Melayu Sriwijaya yang waktu berpusat di Kampar meminta Khalifah Umar Abdul Azis mengirimkan guru agama Islam ke kawasan ini.

Baca Juga :  PT IBP Jual Batu Bata di Bawah Pasaran, Pendapatan Warga Menurun

Lalu orang akan teringat pula dengan perkataan bahwa mungkin inilah daerah yang disebut Samudera oleh Nabi Muhammad SAW, tempat banyak bermunculannya wali Allah. Walaupun hadis ini disebut tidak sahih, sejarah mencatat bahwa Sriwijaya yang salah satu pusatnya berada di Kampar, memang hidup semasa dengan kehidupan penghulu anbiya itu. Disebut menguasai lautan, tentu sifatnya adalah samudera atau kesamuderaan atau kemaritiman.

Menjadi jelas bahwa kawasan ini yang menyebut diri dan diakui sebagai Melayu, menjadikan Islam sebagai dasar nilai. Dalam empat sistem adat, hanya satu adat yang tidak bisa diubah yakni adat sebenar adat karena berlandaskan al-Qur’an dan hadis, sehingga dengan demikian tidak menjadi aneh pepatah Melayu yang menyebutkan, “Biar mata anak, asal tidak mati adat”. Tiga sistem adat lain bisa berubah yakni adat yang diadatkan, adat yang teradatkan, dan adat istiadat, karena memang buatan manusia.

Pada gilirannya, benang hijau yang menghubungkan materi, media, dan lokasi aktivitas UAS tersebut, menceritakan pribadi UAS itu sendiri. Bahwa dia memang tidak turun dari langit begitu saja, sudah pasti. Ia dihantar oleh suatu kondisi lingkungan berabad-abad dan kemudian memang dipersiapkan langsung oleh datuknya. Kita memang perlu pemimpin yang baik, tetapi juga amat perlu dengan ustadz seperti UAS yang belum tentu diperoleh seorang dalam satu abad. Wallahua’lam bissawab.

Tulisan ini merupakan bagian dari buku bertajuk “Guru Mengaji dari Kampung, 43 Kisah Bersama Ustadz Abdul Somad” oleh UAS Pres Indonesia yang segera beredar.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *