KEIKHLASAN DAN RASA KEBANGSAAN SEBAGAI MODAL PERJUANGAN

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional

Oleh M. Mardhiansyah

Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap tanggal 20 Mei untuk mengenang kebangkitan semangat perjuangan Bangsa Indonesia untuk memperjuangkan Kemerdekaannya dengan cara yang lebih terorganisir. Puluhan tahun lalu Bangsa ini bersatu atas dasar rasa Kebangsaan senasib sepenanggungan berjuang bersama mengusir penjajahan kolonial untuk meraih kemerdekaan. Saat ini Bangsa dan Negari ini juga sedang menghadapi penjajahan yang lebih berat karena musuh yang tak terlihat namun tersebar luas menebar bahaya dan meluluh lantakkan segala sendi kehidupan serta merubah rutinitas kehidupan menjadi yang tak nomal yang tak biasa dijalani umat manusia bukan hanya di Negeri ini namun juga hampir seluruh dunia.

Dalam kontek ke-Indonesia-an, perjuangan menghadapi Pendemi Covid-19 perlu mengambil refleksi pembelajaran dari perjalanan sejarah. Ketika menghadapi musuh bersama yang mengancam kehidupan dan kedaulatan Bangsa, terlecut menggelora rasa kebangsaan untuk bersatu bersinergis berbagai komponen anak bangsa untuk berjuang membebaskan Bangsa ini dari cengkraman musuh tersebut. untuk itu sangat dibutuhkan Keikhlasan dan semangat Kebangsaan kita bersama untuk bersinergis bersatu mematuhi arahan Pemerintah dan Ulama menjalankan protokol Pencegahan Covid-19 serta saling tolong menolong bergotong royong membantu sesama. Ketidakoptimalan Bangsa ini mengangulangi Pendemi Covid-19 ini bukan hanya mengorbankan rakyatnya namun juga mengancam kewibawaan bangsa di mata dunia bahkan akan dikucilkan terisolir dalam tatanan pergaulan internasional.

Situasi pendemi Covid-19 ini menjadi begitu luar biasa bermasalah mengancam segala sendi kehidupan umat manusia dikarenakan beberapa hal:

1. Belum ditemukannya vaksin atau obat menyembuhkan Covid-19.

2. Fasilitas dan sarana prasarana kesehatan belum siap mengantisipasi ledakan kasus infeksi dan penularan Covid-19.

3. Budaya dan pola hidup masyarakat yang tak terbiasa dg protokol pencegahan covid-19 sehingga sulit utk mematuhinya bahkan memperdebatkannya.

4. Pemahaman dan kesadaran masyarakat yang rendah bahkan tertutup karena menghindari persepsi publik yang keliru yang cepat menjadi viral.

5. Kebijakan Pemerintah yang sering terlihat cenderung tak sinergis antar sektor dan bahkan terkesan inkonsisten serta kondisi lainnya yang menyandera upaya penanggulangan covid-19 sehingga berdampak pada rendahnya kepercayaan publik kepada Pemerintah dan Pemerintah daerah.

Sejarah pernah mencatan bahwa beberapa dekade waktu yang telah berlalu pernah terjadi b wabah penyakit yang menyebarluas dan juga mengancam kehidupan manusia seperti wabah Colera, Kusta dan beberapa pendemi lainnya pernah terjadi. Pada saat itu kondisinya seperti halnya situasi pendemi Covid-19 ini yang merupakan masalah yang sangat luar biasa. Seiring waktu setelah ditemukan obat dan tersedia sarana fasilitas kesehatan yang memadai dan masyarakat bisa menyesuaikan pola hidupnya, penyakit tersebut tidak lagi menjadi luar biasa membuat panik publik meski penyakit tersebut masih tetap ada. Saat ini msh ada orang yang menderita TBC, Kusta, Kolera dan lain-lain, namun bukan dipandang sebagai hal yg luar biasa.

Baca Juga :  Beastudi Etos Antar Lutfi Raih Mimpi

Fenomena pendemi Covid-19 ini tak seluruhnya menimbulkan masalah, namun juga memberikan hikmah positif. Rasa solidaritas masyarakat untuk saling membantu dan menolong sesama tumbuh subur dan menjadi gaya hidup baru di masyarakat. Pemanfaatan teknologi komunikasi menjadi semakin terbias diterapkan sehingga merentas batas tempat dan waktu dalam melakukan interakasi dan komunikasi. Banyak pihak berpadangan bahwa Pendemi Covid-19 sebagai momentum dan masa jeda pemulihan lingkungan alam yang telah begitu berat beban dan kerusakannya menyangga kehidupan manusia di muka Bumi. Momentum Pendemi Covid-19 ini juga memperbaiki semangat kekeluargaan, kebersamaan keluarga dan pengetahuan spiritual serta berbagai hikmah dampak positif dari adaptasi situasi Pendemi Covid-19.

Namun demikian, suatu anomali dan fenomena yang miris tersaji saat ini dimana tanpa disadari telah terjadi degeradasi rasa kebangsaan dan persatuan dan kesatuan bangsa. Berbagai piihak masih larut dalam evoria kontestasi perhelatan politik yang sudah usai dan bahkan memanfaatkan situasi untuk menangkap peluang pada perhelatan politik yang akan datang. Kepentingan kelompok mendominasi secara tersirat yang mengalahkan bahkan mengorbankan kepentingan banyak orang dan kedaulatan Bangsa. Fenome saling menyalahkan menyeruak ke publik. Kondisi seperti ini seharusnya tak perlu terjadi jika kita semua mau Ikhlas dan penuh rasa kebangsaan bersatu menghadapi musuh bersama yaitu Pendemi Covid-19. Sungguh suatu penghianatan yang luar biasa ketika dalam masa perjuangan masih ada pihak yang memanfaatkan keadaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Lemahnya pengawasan akses masuk baik yang resmi maupun tak resmi di wilayah berdampak tak terkontrol dan terkendali mobilisasi masyarakat sehingga terjadi distirubusi orang ODP, PDP bahkan positif Covid-19 ke berbagai daerah sehingga mengkatalis penyebarluasan Covid-19. Rasa kemanusiaan dan tangggung jawab pemerintah untuk melindungi masyarakatnya mengharuskan daerah menerima masyarakatnya dari luar daerah yang tak sepenuhnya sudah menjalankan protokol covid-19. Kekhawatiran publik terhadap persepsi yang negatif terhadap PDP dan Positif Covid-19 serta minimnya kesadaran bahaya penyebarluasan membuat tak sedikit masyarakat menyembunyikan kondisi kesehatannya dan menghindari penanganan secara medis di Rumah Sakit sesuai aturan yang berlaku. Kondisi tersebut berdampak pada terjadi penyebarluasan secara masif tak terpantau. Hal demikian membuat data resmi yang diinformasikan oleh juru bicara Gugus Tugas menjadi terkesan sesuai realita. Kecepatan penyebarluasan informasi persepsi publik tentang kejadian Covid-19 yang tak jarang belum tau benar lebih cepat dibanding penyebarluasan Covid-19 itu sendiri membuat kepanikan dan kerisauan publik.

Baca Juga :  Gubri Harapkan Seminar Nasional di Inhil Kebangkitan Harga Kelapa

Mencermati situasi dan dinamik pendemi Covid-19 ini dibutuhkan persatuan dan kekompakan atas dasar keikhlasan dan rasa kebangsaan sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negeri ini utk menjalankan protocol pencegahan Covid-19. Beberapa langkah strategis yang harus dilakukan segera menanggulangi semakin beratnya Pendemi Covid-19, antara lain:

1. Pemerintah dengan segenap potensi dan jaringannya mendorong dan memfasilitasi kajian dan penelitian untuk menemukan obat atau vaksin atau terapi yang mampu menyembuhkan segera serta mencegah infeksi Covid-19. Menggali kearifan lokal dan sumberdaya alam serta komunikasi ilmiah melalui kolaborasi riset perlu digesa untuk mempercepat ditemukannya obat atau vaksin pencegahan Covid-19.

2. Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dengan segala potensi dan instrumennya harus segara menyiapkan pembangunan dan penyediaan sarana prasarana kesehatan untuk perawatan dan pemulihan pasien Covid-19 seperti Pembangunan RS khusus Covid-19 di Propinsi Riau. Lokalisir karantina dan perawatan pasien Covid-19 akan membantu memutuskan rantai penyebaran dan menghadirkan rasa tenang ditengah masyarakat.

3. Edukasi dan sosialisasi publik dengan melibatkan Tokoh Masyarakat, Ulama, Cendikiawan dan berbagai cara untuk meningkatkan kesadaran Publik agar berprilaku hidup sehat yang sejalan dengan perintah agama dan tuntunan adat budaya khususnya untuk Propinsi Riau adalah adat budaya melayu. Edukasi dan sosialisasi melalui media seni, sastra dan tunjuk ajar berbasis budaya dipandang memiliki dampak poistif. Jadikan protocol pencegahan covid-19 sebagai kebutuhan prilaku hidup bukan sebatas aturan yg harus dijalankan. Jika masyarakat sudah patuh dan tertib, rasanya tidak diperlukan PSBB yg menimbulkan banyak beban dan polemik dinamika di tengah masyarakat.

4. Mensinergiskan dan menyatupadukan potensi donasi dari berbagai pihak melalui lembaga yg kredibel dan berlegitimasi untuk mengkoordinir penghimpunan donasi dan penyalurannya. Sehingga akan lebih tepat sasaran dan merata. Hal ini akan sangat membantu kelemahan distribusi dan ketidakoptimalan potensi keuangan Pemerintah daerah utk menjalankan tanggung jawabnya dengan diberlakukannya PSBB. Selama ini masing-masing pihak berdonasi kepada sasaran penerima yg mungkin pihak sama. Sehingga ada kelompok yg berlimpah namun tak sedikit kelompok yg tak tersentuh.

5. Perlu dirumuskan mekanisme penegakan sanksi adat bagi masyarakat yang melanggar himbauan. Untuk Propinsi Riau, LAM Riau memiliki potensi dan peran strategis untuk dilibatkan. Sebelumnya LAM Riau diketauhi sudah berkontribusi mengeluarkan warkah dan himbauan yang dikeluarkan sebagai penguat penegakan hukum pemerintah terhadap pelanggaran aturan pencegahan covid-19. Secara moral, sanksi adat akan lebih memberi efek jera karena berat bagi masyarakat menanggung aib dan malu terkena sanksi adat tersebut.

6. Mendorong peran Ulama dan Tokoh masyarakat maupun Cendikiawan untuk menyejukkan kebathinan dan suasana ditengah pendemi Covid-19 ini agar publik tidak melebarkan masalah disaat kerisauan publik. Minimalisir berbagai agenda politik yg berbeda pandang akibat perhelatan politik yg sudah ada. Imsyak sejenak untuk bersatu membangun solidaritas bersama mematuhi arahan kebijakan pemerintah dan ulama.

Baca Juga :  Ada Skenario Khusus di Balik Penculikan Jenazah Covid

7. Kementerian Komunikasi dan Informasi dan instrumennya di daerah harus aktif memfilter dan menginfokan pemberitaan yg akurat dan resmi agar tidak bergentayangan informasi hoax yang menambah kerisauan dan kekeliruan pemahaman publik serta meluruskan terjemahan yang keliru dari masyarakat terhadap kebijakan pemerintah sehingga berpotensi “disiasati”. Terkait hal ini juga penggunaan narasi dan diksi yang lebih santun dan berkeadilan harus diterapkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam setiap kebijakan dan arahannya.

8. Mendorong Pemerintah untuk konsisten dalam membuat kebijakan dan menyederhanakan sistem dan rantai birokrasi utk meyalurkan bantuan ke masyarakat.

9. Pemerintah harus benar-benar hadir menjalan amanah konstitusi yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia serta menghadirkan kesejahteraan kepada masyarakat, diantaranya adalah memastikan terfasilitasinya sarana dan prasarana pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam beradaptasi pada situasi pendemi Covid-19.

10. Membangun optimisme dan semangat menghadapi hari esok dan masa depan yang lebih baik. Dampak pasca pendemi covid-19 harus dipandang sebagai sebuah peluang yang harus ditangkap bukan dikeluhkan sebagai sebuah tantangangan. Menghadirkan semangat optimisme dan kebahagian merupakan bagian dari mengusir kerisauan sehingga meningkatkan imunitas tubuh dan kesehatan yang merupakan penangkal individu menghadapi Covid-19.

Apresiasi dan terima kasih kepada para Pahlawan kemanusiaan Pendemi Covid-19 khususnya para Tenaga Kesehatan yang dengan segala keiklhasan dan pengorbanan dedikasi tugasnya menyelamatkan kita semua. Di samping itu segala pihak yang sudah ikhlas berdedikasi menjalankan tupoksinya mendukung pencegahan dan pengenggulanan Covid-19 yang tergabung dalam Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 seperti Polri, TNI, Satpol PP, BPBN/BPBD, Relawan dan seluruh pihak. Semoga Allah SWT melindungi dan melimpahkan berkah dan anugerahNya untuk para Pahlawan Kemanusiaan tersebut. In syaa Allah kondisi luar biasa covid-19 ini akan sirna berkat izin Allah seiring usaha dan doa kita semua. Yakinlah Allah takkan menguji diluar batas kemampuan umatNya dan disetiap musibah cobaan pasti ada hikmahnya. Tanpa keikhlasan dan persatuan berlandaskan rasa Kebangsaan untuk mematuhi aturan dan arahan, segala upaya pencegahan penyebarluasan Covid-19 akan sia-sia. Rusaklah susu sebelanga karena nila setitik. Ikhlaslah untuk sesaat menahan kerinduan untuk kehidupan yang lebih baik.

M.Mardhiansyah merupakan Koordinator DPW FKKM Riau – Dosen Jur. Kehutanan FP UNRI

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close