Membina Rumah Tangga, Kemana Bahtera Hendak dilabuhkan?

Oleh : Marzuli Ridwan Al-bantany

Marzuli Ridwan Al-bantany

Bismillaahirrahmaanirrahiim

“Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni Surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya yang apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha’,” (HR Tabrani)

____

Jika saat ini Anda dan pasangan Anda telah menyatakan tekad yang kuat, serta pula didasari dengan niat yang tulus ikhlas untuk sama-sama membina sebuah mahligai rumah tangga (menikah menjadi pasangan suami istri), maka itu sama artinya Anda dan pasangan Anda dituntut untuk bersiap-siap untuk saling menerima. Berbagai ujian dan cobaan kehidupan sudah pastilah akan dihadapi bersama-sama. Tidak boleh tidak.

Ini penting untuk disadari, sebab segala suka dan duka, kebahagiaan dan penderitaan dalam berkeluarga pastilah akan selalu hadir mengiringi. Ia akan datang silih berganti – bertandang menghiasi kehidupan berumah tangga Anda, bergulir dari waktu ke waktu, dari hari ke hari.

Menjalani hidup berumah tangga atau sebuah perkawinan itu, dapat diumpamakan seperti dua insan yang sedang menakhodai sebuah bahtera dan membawanya berlayar jauh ke tengah lautan dan samudera. Dalam perjalanannya meniti arus kehidupan untuk sampai ke seberang (tujuan), pastilah akan menemui beragam jenis situasi, hambatan dan cobaan. Gelombang dan bahkan badai dalam berumah tanggap-pun akan selalu menjelang.

Seiring usia perkawinan, hempasan gelombang uji yang datang itu – yang kadangkala disertai terpaan angin kencang, terasa teramat mengerikan. Maka tidak dinafikan, biduk rumah tangga pun bergoyang-goyang dibuatnya. Namun, ragam cobaan yang datang ini tentulah akan menjadi pernak-pernik dalam menjalani hidup dan kehidupan bersuami-istri. Bila semua ujian mampu dihadapi dan dilewati dengan arif dan bijaksana, terlebih lagi bila diimbangi dengan kematangan diri yang mumpuni, tentulah bahtera rumah tangga yang dibina akan sanggup berlayar, hingga sampailah ia ke pulau seberang dengan selamat dan sentausa. Akan tetapi bila tidak, maka terombang-ambinglah, dan dikhawatirkan akan karamlah ia di tengah lautan kehidupan.

Begitulah ujian itu, ianya adalah sebuah keniscayaan yang harus disadari dengan sebenar-benar kesadaran oleh insan yang bernama suami dan istri. Dan harus disadari pula, bahwa setiap ujian yang dilalui dalam hidup berumah tangga – ianya terkadang akan semakin mempertebal cinta dan kasih sayang yang dibina, yakni apabila ujian itu dapat dilalui dengan baik. Meskipun diakui pula jika tak sedikit diantara pasangan suami istri itu yang rumah tangganya hancur lebur dilanda onak dan duri – disebabkan ketidakmampuannya dalam menyikapi dan menyelesaiakan setiap persoalan yang dihadapi.

Dalam berumah tangga, sepenuhnya kita harus menyadari, bahwa sebagai dua insan – laki-laki dan perempuan yang disatukan dalam sebuah ikatan perkawinan yang suci, disamping setiap diri darinya memiliki kelebihan dan juga kelemahan. Berbagai potensi (laku baik dan buruk) akan muncul dari dalam diri, tergantung bagaimana kita menyikapi dan mengarungi berbagai ujian-ujian dalam berumah tangga tersebut dengan baik. Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupan berkeluarga ini, tentulah pula memiliki banyak sisi perbedaan disamping persamaannya juga. Dan, dalam berumah tangga-lah, berbagai kekurangan dan perbedaan itu hendaknya dapat saling ditutupi. Bahkan setiap persoalan ‘tak sedap’ yang sering kali terjadi mestilah disikapi dengan penuh kesabaran, kedewasaan serta saling memahami.

Baca Juga :  Ambil Sumpah PNS Dumai Secara Virtual Zul AS: Ingat Ikrar dan Janji Setia NKRI

Dalam hal membina sebuah rumah tangga yang harmonis, penuh cinta dan kasih sayang, memang harus diawali dengan upaya memilih atau menemukan pasangan hidup yang sesuai. Bahkan Islam menganjurkan agar dalam hal mencari jodoh, carilah calon pendamping hidup itu seseorang yang shaleh atau shalehah, beriman, baik budi pekertinya dan mencintai dengan setulus hatinya. Ini perlu menjadi perhatian, sebab sebuah perkawinan itu bukanlah semata-mata untuk meraih kebahagiaan dan kesenangan hidup di dunia saja, melainkan juga hingga ke kampung akhirat hendaknya.

Kecantikan dan ketampanan yang ada pada calon istri maupun suami, bukanlah semata-mata menjadi indikator yang mutlak dan wajib dipenuhi ketika Anda berupaya untuk mencari calon pendamping hidup. Sebab ianya juga tidaklah selamanya akan menjamin bahwa hidup berumah tangga akan selalu bahagia, sementara kecantikan dan ketampanan yang dipunyai tak berbanding lurus dengan perangai dan akhlak budi pekertinya. Kita pun barangkali telah banyak mendengar kisah mengenai pasangan suami istri yang terpaksa harus hidup terpisah karena masing-masing dari mereka tidak seiring dan sejalan, serta merasa tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki.

Aduhai, alangkah indahnya suatu perkawinan itu bila diantara suami dan istri hidup rukun dan bahagia dalam sebuah bingkai keluarga yang sakinah (tentram), mawaddah (penuh cinta) dan rahmah (kasih sayang). Dan sungguh suatu nikmat serta karunia Allah SWT yang wajib disyukuri bila sesebuah keluarga itu hidupnya selalu diliputi kasih sayang, saling mencintai setulus hati. Ianya tak ubahnya seperti sebuah jambangan bunga yang indah di taman bunga, yang mesti selalu dijaga dan dirawat setiap masa agar tumbuh subur dan selalu menyerikan indah. Dan yang tak kalah pentingnya, agar sebuah rumah tangga itu hendaknya selalu dinaungi ridha dan rahmat Allah, Tuhan Yang Maha Cinta.

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga agar ianya berkekalan hingga ke akhir hayat, sebagaimana disyariatkan – bahwa sebagai kunci yang sangat sederhana adalah; suami dan istri mestilah memahami akan peranannya, tanggungjawab, hak dan kewajibannya masing-masing. Sebagai seorang suami, tentu dituntut untuk selalu menjadi suami yang baik, menjadi pemimpin atau kepala rumah tangga yang senantiasa bertanggungjawab; seperti menafkahi istri, membimbing keluarganya menuju jalan yang selalu diridhai Allah.

Begitu juga dengan seorang istri, mestilah selalu berupaya untuk menjadi istri yang shalehah, yang menyejukkan pandangan suami dengan mentaati dan patuh akan segala perintahnya (sepanjang perintah tersebut tidak mengandung maksiat), termasuk pula dalam hal memberikan pelayanan yang ma’ruf (baik) kepada suami dan menjadi ibu rumah tangga yang ideal bagi anak-anaknya.

Baca Juga :  Siapkan Kaca Mata dan Masker Bila Nonton Bakar Tongkang

Bagi seorang wanita, ingatlah, bahwa ketika telah menjadi seorang istri, maka tiada ketaatan yang patut Anda utamakan atau didahulukan di dunia ini, melainkan ketaatan kepada suami. Dan bukankah telah dimaklumi jika suami itu adalah jalan bagimu untuk menuju Surga, sekaligus pula merupakan jalan ke neraka bila. Bila dengan sepenuhnya engkau mentaati, memuliakan dan menyempurnakan hak-hak suamimu sesuai perintah Allah, maka itulah perkara yang akan mengantarkanmu ke surge-Nya. Sebaliknya, bila engkau mendurhakainya, maka ke nerakalah tempat kembalimu kelak. Na’uzubillah.

“Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni Surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya yang apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha’,” (HR Tabrani)

Begitulah adanya dalam kehidupan berumah tangga. Hari-hari yang dijalani selalu saja tak seindah seperti apa yang diharapkan. Tak juga seperti apa yang pernah dibayangkan semasa awal pertama kalinya ia dibina. Ada saja aral rintang serta batu-batu sandungan yang selalu dijumpai dan dihadapi dalam berkeluarga. Namun bila keduanya (pasangan suami istri) mau mengembalikan bahwa hakikat berumah tangga adalah dalam rangka beribadah kepada Allah, mengharap ridha serta kasih sayang-Nya, maka tidak mustahil mahligai indah serta kehidupan yang harmonis – yang Nabi Muhammad SAW sendiri pernah mengistilahkannya dengan sebutan Baiti Jannti akan selalu terbina dan wujud dalam sebuah rumah tangga itu, meski hari-hari yang dilewati dengan sangat sederhana dan jauh dari kemewahan yang meliputinya.

Berkaitan dengan tema ini, sekurang-kurangnya kita para suami dapat mencontohi bagaimana sikap Rasulullah dalam berkeluarga. Beliau adalah sosok suami yang paling mesra terhadap istri-istrinya. Demikian  pula ia memerintahkan umatnya khususnya para suami agar senantiasa menyayangi dan berlaku baik kepada ahlu keluarga khsususnya kepada istrinya. Sebagaimana pesan Nabi SAW, “Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga/istrinya. Dan saya adalah orang yang paling baik terhadap istri/keluargaku.” (HR Tirmidzi).

Lihatlah, bagaimana dalam beberapa hadits dan riwayat pernah diceritakan bahwa Nabi selalu mencium istrinya. Bahkan Aisyah pernah mengatakan bahwa ia dahulunya biasa makan bubur bersama Nabi, minum dari gelas yang sama dengan Nabi. Begitu pula ketika haid, Nabi  pernah mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat Aisyah meletakkan mulut, lalu Nabi pun minum.

Asiyah juga pernah mengatakan jika Nabi Muhammad adalah orang yang penyayang lagi lembut. Beliau orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. Bahkan suatu ketika Umul Mukminin Aisyah ini pernah ikut bersama Rasulullah dalam sebuah lawatan yang pada waktu itu Aisyah sendiri masih seorang gadis yang ramping. Saat itu kata Aisyah, Nabi memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului Nabi dan Aisyah. Pada saat itulah Nabi berkata kepada Aisyah untuk mengajaknya berlomba lari. Tak ayal lagi, Nabi dan Aisyah pun berlomba lari yan akhirnya Aisyah memenangkan perlombaan tersebut.

Baca Juga :  Mandi Tolak Bala, Menarik Pelancong ke Rupat

Atas kemenang Aisyah itu, Nabi hanya diam saja. Hingga pada kesempatan lain, ketika Aisyah sudah terlihat agak gemuk, Aisyah pun bersama Nabi dalam sebuah lawatan yang lain. Beliau lalu memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu dan Nabi pun kemudian menantang Aisyah untuk berlomba lari kembali. Dan akhirnya Nabi dapat mengungguli Aisyah, dan dengan tawa yang renyah lalu berkata “Inilah penebus kekalahan yang lalu!”

Tidak hanya itu, Nabi juga dikenal sebagai sosok suami yang suka memberi hadiah kepada istri-istrinya, pernah tidur-tiduran dan meletakkan kepalanya di pangkuan Aisyah, serta memberi sesuatu bagi menyenangkan hati istrinya. Dan diantara keelokan budi pekerti Nabi dan keharmonisan rumah tangga beliau, Nabi selalu memanggil istri-istrinya dengan panggilan kesayangan. Sering mengabarkan kepada istri-istrinya tentang berita yang menggembirakan bahkan membuat jiwa serasa terbang melayang-layang.

Nabi  juga pernah memanggil Aisyah dengan “Humairah” yang artinya kemerah-merahan pipinya. Terkadang beliau juga suka memanggil  sebutan “aisy/aisyi”, yang dalam budaya Arab pemenggalan huruf terakhir menunjukan panggilan manja/tanda sayang. Mungkin serupa dengan  kata ‘sayang’ yang terkadang diucapkan ‘Ayang’ atau ‘Yang’.

Sebagai seorang suami, Nabi sangat memperhatikan perasaan istri-istrinya. Beliau juga pernah bersabda : “esungguhnya ketika seorang suami memandang istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memandang mereka dengan penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya.” (HR Maisarah dari Abu Sa’id Alkhudzri )

Masih banyak lagi sesungguhnya contoh yang baik dan penuh hikmah sebagaimana pernah dilakukan Nabi terhadap istri-istrinya – yang dapat dijadikan tauladan bagi kehidupan suami istri, khususnya para suami, seperti Nabi pernah membantu pekerjaan rumah tangga, mendinginkan kemarahan istrinya dengan mesra, bahkan sampai Nabi pernah mandi bersama Aisyah dalam satu bejana. Kisah-kisah romantis tersebut sebagai tanda bahwa kehidupan rumah tangga Nabi tak ubahnya seperti Surga, rumah tangga yang bahagia, penuh canda dan dalam rahmat Allah SWT.

“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai sesuatu dari mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19).

Semoga tulisan ringan ini ada manfaatnya, khususnya buat diri penulis dan umumnya kepada siapa saja yang mau mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Dan semoga Allah SWT juga selalu melindungi rumah tangga dan keluarga kita, masyarakat dan bahkan Negara ini dari berbagai cobaan yang selalu datang menghampiri dan menguji kesabaran serta keteguhan hati kita dalam meniti jembatan kasih yang tak akan pernah sepi dari berbagai kisah dan romantika kehidupan. Wallahu a’lam.

Alhamdulillah,

Bengkalis, 31 Mei 2020

Marzuli Ridwan Al-bantany,
Sastrawan dan Penulis Buku Menuju Puncak Keindahan Akal Budi. Bermastautin di Bengkalis, Riau.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *