Komisi 3 DPRD Karimun Hearing Soal Kecelakaan Laut

Wakil Ketua DPRD Karimun Rasno menjelaskan kronologis tabrakan antara pompong yang dinaikinya dengan tugboat Veguita Dolphin, didampingi Ketua Komisi 3 Ady Hermawan.

RiauKepri.com, KARIMUN — Komisi 3 DPRD Karimun, Kepulauan Riau menggelar hearing atau rapat dengar pendapat terkait insiden kecelakaan laut antara sebuah pompong dengan tugbot Veguita Dolphin, Minggu (6/6/2020).

Komisi 3 hearing soal laka laut tersebut pada Selasa (9/6/2020) di ruang Badan Musyawarah dipimpin Ketua Komisi 3 Ady Hermawan dan dihadiri pula oleh Wakil Ketua DPRD Karimun Rasno.

Sejumlah anggota Komisi 3 mengikuti hearing tersebut tersebut Raja Rafiza, Abdul Manaf dan Balia.

Diketahui, kapal pompong yang terlibat laka laut dengan tugboat Veguita Dolphin ditumpangi delapan nelayan yang memancing ikan, dan ikut serta bersama nelayan itu Wakil Ketua DPRD Karimun Rasno.

Tugboat Veguita Dolphin ketika terjadi tabrakan dengan pompong tersebut sedang menarik sebuah tongkang yang bernama Coastal Bay 2304.

Baca Juga :  Ke Tanjungpelanduk, Pesan Nurdin; Wujudkan Anak Cerdas dan Berakhlak

Dalam hearing tersebut hadir perwakilan dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Dinas Perikanan, Dinas Perhubungan dan nelayan yang hampir jadi korban dalam insiden tersebut.

“Hearing ini merupakan tindak lanjut dari laporan nelayan yang berada di atas pompong tersebut,” kata Ketua Komisi 3 DPRD Karimun Ady Hermawan.

Nelayan, kata dia, melaporkan bahwa pompong mereka diduga bertabrakan dengan tugboat Veguita Dolphin yang menarik tongkang Coastal Bay 2304 di sekitar perairan Pulau Tambelas, Desa Pangke, Kecamatan Meral Barat.

Kejadian tersebut sempat heboh sehingga Komisi 3 perlu menggelar hearing untuk mengetahui kejadian sebenarnya dan dicarikan solusi sehingga tidak terulang kembali.

Dalam hearing tersebut Wakil Ketua DPRD Karimun Rasno juga menjelaskan kronologis insiden laka laut tersebut.

Baca Juga :  Bupati Karimun tutup STQ Kecamatan Meral

Rasno menuturkan insiden tersebut bermula saat dia dan nelayan lainnya bersiap pergi memancing dengan menggunakan pompong.

Rasno menyebutkan tugbot tersebut terindikasi sengaja menabrak pompong mereka saat sedang memancing ikan.

Dalam rekaman video, kata Rasno, terlihat jelas bahwa nakhoda mengakui kesalahannya saat berbicara dengan nelayan usai insiden tabrakan itu.

Setelah tabrakan, sejumlah nelayan membantu proses evakuasi, dan turut membantu kapal ambulans milik Baznas Karimun.

Dalam hearing itu, perwakilan BAZNAS juga menuturkan kejadian tersebut, termasuk ketika nelayan berhasil mengejar tugboat Veguita Dolphin hingga berbicara dengan nakhoda.

Sementara itu, perwakilan dari KSOP Tanjung Balai Karimun Tengku Faisal menyarankan agar nelayan membuat laporan resmi.

Baca Juga :  Aunur Rafiq dan Anwar Hasyim Disambut dengan Adat Melayu

Sehingga bisa diproses sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang Pelayaran.

“Berdasarkan Undang-undang No 17 tentang Pelayaran dan PP No 9/2019, KSOP bisa memanggil pihak nakhoda dan meminta keterangan para saksi,” jelasnya.

KSOP, kata dia, bisa melakukan gelar perkara yang hasilnya disampaikan kepada Dirjen Perhubungan Laut.

Bahkan, kata dia, bisa disidangkan di Mahkamah Pelayaran sesuai Keppres No 50 tahun 1979 tentang Peraturan Pencegahan Kecelakaan di Laut.

Komisi 3 hearing soal kecelakaan laut tersebut sekitar 2 jam, namun tanpa dihadiri nakhoda atau pemilik tugboat, dan menghasilkan beberapa rekomendasi.(RK/R)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *