Pangeran Beda Dunia

Oleh: Zulvanny Fatwa Firmananda  

Ilustrasi (g. net)

Hari itu langit selalu cerah. Dengan sebuah kolam yang diselubungi tebing yang tidak terlalu tinggi. Airnya begitu bening, saat aku duduk di dalamnya. Memakai “gaun penasaran” warna merah selutut, ditambah kerudung merah. Dia datang lima menit kemudian, memakai kaos hitam-putih lengan panjang, dan celana kain hitam. Rambutnya acak-acakan, tampak jelas saat laki-laki itu duduk di hadapanku.

Langit akan selalu cerah, namun suasana hatiku sedang tidak begitu baik.

“Ian, kamu punya cita-cita kah?” tanyaku lirih, kemudian memaksakan tawa meski tidak ada yang lucu, selain fakta bahwa kehadirannya membuat hatiku berdesir bahagia.

Ian menatapku dengan senyumnya yang hangat seperti biasa. “Aku punya dosen di kampus. Dia seorang akuntan. Katanya sih dia kaya banget. Tiap bulan ke luar negeri!” Ia bercerita dengan seringai lebar.

“Jadi kamu ingin jadi seperti dia?” tanyaku.

Ian tertawa, hingga aku sadar dia hanya bercanda. Ketika tawanya berhenti wajahnya perlahan berubah murung. “Aku.. hanya ingin mengubah nasib keluargaku,” jawabnya sangat pelan. Ketika matanya beradu dengan mataku, aku melihat kejujuran yang tengah dia paksakan. “Keluargaku tidak seperti yang kamu kira. Maaf yah!”

Aku tidak mengira apa-apa tentang dirinya. Wajahnya, hobby-nya, latar belakang keluarganya. Semua informasi itu kudapatkan darinya. Dan aku tidak pula mengharapkan apa-apa dari tiga hal itu.

Dia dan aku terdiam lama sekali, dan akhirnya kuberanikan diri berkata sesuatu. “Kalau, cita-citamu lebih tinggi dari itu,” ucapku. “Aku akan menikahimu.”

Ian mengerjap bingung, lalu terkejut sendiri. “Eeh, aku dilamar perempuan?” dia malah bertanya kemudian tertawa kecil.

Aku tak terpengaruh dengan tawa penuh keraguan itu. “Kalau misalnya, cita-citamu merubah nasib keluargamu, dan juga mengubah nasib orang lain, maka tak ada alasan bagiku untuk melepaskanmu. Aku akan terus berusaha untuk mendapatkanmu,” aku menatap matanya lurus-lurus.

Sedetik dia tampak rikuh. “Vanessa, aku bukan orang sehebat itu. Kalau sampai merubah nasib orang lain..”

“Kamu tidak bisa melakukannya sendirian, kamu butuh orang lain juga..” gumamku. “Cita-citaku sendiri, aku ingin menjadi orang yang seperti itu. Tergabung dalam organisasi sukarelawan dan menolong banyak sekali orang.”

“Kalau soal organisasi sukarelawan, aku sudah bergabung di sana sejak dulu.. Tapi tetap saja aku tidak membantu banyak. Aku hanya bisa mengumpulkan sumbangan..” Ian tak melanjutkan ucapannya lagi.

Aku menyentuh tangannya dan menatap matanya. “Aku iri padamu. Kamu punya suara yang lantang, juga keberanian. Kumohon, tetaplah bersamaku. Karena kau selalu memberiku dorongan keberanian setiap kali aku ragu-ragu dalam mengambil langkah.”

Baca Juga :  Peduli, Gubri Beri Santunan Kepada Petugas Pemilu yang Gugur

Ian terdiam lama, dan kemudian menjawab. “Tanpa syarat apa pun, aku akan selalu mendukungmu Vanessa. Aku sayang kamu.”

Air mata jatuh di pipiku, aku langsung bersandar di pangkuannya, meski pun itu membuat lengan dan tubuhku terendam air. Tapi tak akan pernah selamanya aku tersentuh oleh air di kolam itu. Kecuali, air dari mataku sendiri.

“Aku sayang kamu, Ian!” bisikku sedih.

Di dunia yang lain, aku tidak tahu. Apakah Ian sedang tersenyum atau tidak. Sedang melakukan apa, aku juga tidak punya gambaran. Yang aku tahu, di sana sudah dini hari, karena satu jam lebih cepat dari waktu di tempatku saat ini. Terpisah oleh WIB dan WITA, aku merasa harus lebih peka terhadap waktu. Sekali pun saat bersamanya sangat sulit mengingat dimensi keempat itu, karena toh di antara kami hanya ada dua dimensi.

“Kamu sudah mengantukkah?” tanyaku.

“Sudah tapi aku masih ingin bertemu kamu, Vanessa,” jawabnya. “Kamu bagaimana? Sudah mengantukkah?”

Aku mengangguk, meski aku tahu dia tak akan melihatnya. “Aku sudah sangat mengantuk. Aku off dulu yah?”

Ian mengangguk, melalui character game yang sedang kulihat saat ini. “Mimpi indah,” gumamnya. “Sampai jumpa besok.”

“Kamu juga semoga mimpi indah,” senyumku. “Sampai jumpa besok!”

Lalu game social simulator itu kututup bersamaan dengan mataku yang sudah sangat lelah. Bukan ragaku yang lelah, aku hanya merasa jiwaku yang melemah.

Keesokan harinya, setelah sekian lama aku tidak menghubungi ibundaku, aku pun memutuskan menelepon beliau, yang langsung mengangkat telepon dariku dengan sangat gembira.

“Halo sayang, apa kabar di sana?” tanya beliau.

“Vanessa baik-baik aja. Bunda bagaimana?” aku balas bertanya.

“Oh Bunda sehat,” jawab ibundaku. “Jadi gimana di sana? Pasti senang kan di kampung sama nenek.”

Begitu senang, meski aku harus bermain game social simulator untuk mengusir rasa sepi. “Senang sekali, Bunda,” Aku menjawab ceria. “Bunda, Vanessa punya pacar baru!”

“Wah iya kah?” Bunda berseru senang. “Dion kemana?”

“Dia..” Aku menggigit bibir, setengah jengkel mengingat laki-laki itu. “Vanessa putuskan. Sampai tiga kali Vannesa coba memutuskan hubungan dengan dia, tapi dia terus menolak, Bunda.”

“Eh? Kamu tidak boleh memutuskan orang tanpa alasan. Terlebih, Dion itu kan baik. Rajin sembahyang pula. Bunda marah loh kalau anak Bunda putuskan orang baik seperti itu.”

“Tapi Bunda.. Dion kasar,” aku mengusap wajah. “Dia kasar kalau marah.”

Bunda terkesiap. “Kasar sampai main tangan sama anak Bunda?”

Baca Juga :  Unilak akan Memilih 'Nakhoda' Baru

“Eh, ndak Bunda. Dia kasar kalau bicara. Jadi Vanessa tidak tahan.” Tak hanya kasar, Dion juga sering memarahiku apabila tidak menuruti kehendaknya, dan pernah sekali ia mencoba memperkosaku. Seolah baginya pacar hanya budak pemuas nafsu semata.

Ibundaku tak sanggup berkata apa-apa lagi tentang Dion. Beliau pun bertanya tentang Ian. “Jadi pacar baru Vanessa, asal mana nak?”

“Dia tinggal di Sulawesi, Bunda, jauh!” jawabku semangat. “Dia orangnya baik sekali.”

“Eh hati-hati ya, sayang. Pacaran lewat game itu bisa bahaya. Kamu bisa dimintai foto mesum terus!” Bunda memperingatiku.

Aku menunduk. Menatap kedua tanganku. Aku pernah, bercanda memakai bikini saat bersama Ian. Reaksi pertamanya adalah menegurku. Dia juga mengingatkanku agar tidak menggodanya, dengan mengorbankan harga diriku sendiri.

“Bunda, Ian orangnya baik.”

“Ooh baik, tapi sebatas teman saja ya, Nak! Kita kan tidak tahu aslinya dia bagaimana!” Bunda masih mewanti-wanti. “Agamanya udah ditanya?”

Aku menggigit bibir lagi. “Belum, Bunda. Nanti Vanessa tanya,” Aku menjawab ceria. Meski nyatanya aku berbohong.

Bunda menghela nafas. “Pokoknya Vanessa hati-hati ya. Vanessa jangan terlalu menaruh hati pada yang jauh, Nak,” ucap ibundaku. “Sudah ya, Nak. Bunda masih ada kerjaan. Besok kita sambung lagi ya, Nak!”

Aku memaksakan senyum. “Iya bunda.”

Saat itu, hatiku luruh jatuh ke lantai.

Aku harus bagaimana? Ian memang nyatanya berbeda agama denganku. Dia juga jauh. Selebihnya, dari segi usia dia sama denganku. Dia juga memelihara empat ekor anjing dan kucing yang sangat dia sayangi. Dia menjadi anggota volunteer ketika rata-rata anak seusianya lebih suka menceburkan diri ke dalam hobby. Dia.. begitu sempurna untukku.

Hatiku menjadi begitu kacau, dan kupaksakan untuk menemuinya di dalam game. Kali ini kupilih di daerah air terjun.

Dia datang, terlambat dua menit. Masih memakai kaos hitam-putih itu, begitu juga aku, masih memakai gaun penasaran dan kerudung merah..

“Ian, cita-citamu apa, selain mengubah nasib keluargamu?” tanyaku.

Dia duduk di dalam air, di atas kerikil-kerikil yang tampak indah di mataku. “Eh kenapa selalu menanyakan tentang cita-cita?” tanyanya heran. Tapi dia tetap menjawab saat aku diam saja. “Cita-citaku sebenarnya menjadi animator. Orangtuaku pun sudah setuju. Namun karena terkendela biaya, aku mengambil jurusan akuntansi yang juga lumayan kusukai. Sekarang aku hanya menggambar sesekali. Gambarku pun masih jelek.”

Aku tersenyum tipis, di dunia yang sebenarnya. “Kebetulan,” aku tertawa. “Cita-citaku menjadi seorang penulis. Kamu bisa jadi ilustrator pribadiku. Tapi sekarang pun tulisanku masih jelek.”

Baca Juga :  22 Mei : Luka Negeri Kesedihan Salmah  

Ian tertawa, meski selalu dalam bentuk tulisan. “Kalau kamu mau, maka aku akan berusaha,” ucapnya.

Aku mendengus. Aku tidak tahan dengan hubungan yang begini datar, setiap hari hanya melihat pemandangan yang indah. Mengapa aku selalu melihat sisi baik dari Ian? “Bagaimana kalau kita buat challenge?” tanyaku sambil memberinya senyum jahil.

Challenge apa?”

“Dalam waktu satu minggu. Maukah kamu memberiku dua gambar?” tanyaku pelan. “Aku juga akan memberimu dua buah tulisanku. Yah, meski pun kita berdua sama-sama sudah lama tidak menggambar dan menulis.”

“Aku terima tantanganmu,” balasnya tanpa ragu. “Terimakasih sudah memberi tantangan ini. Aku hanya bisa semangat jika ada seseorang yang menantangku.”

Aku menatapnya sedih. Kuketikkan sebuah balasan yang ceria. “Kamu tahu kan aku orang yang tanpa ampun. Mungkin challenge ini akan kuberikan terus menerus. Selama empat tahun, sampai kau datang menemuiku seperti yang kau janjikan.”

“Aku tidak masalah, Vanessa.”

Lagi-lagi aku menggigit bibir. “Kenapa kamu selalu menuruti ucapanku?” tanyaku, ketika perasaan sedih itu mulai berkecamuk di hatiku.

“Aku sayang kamu. Dan aku tahu kamu sedang menyalahkan perbedaan kita saat ini. Tapi, kuharap kamu mengerti bahwa itu sudah menjadi takdir kita,” jawabnya tegas. “Aku mengerti perasaanmu, Vanessa. Maaf karena aku belum cukup mapan untuk menyusulmu ke sana. Aku janji empat tahun lagi setelah aku lulus kuliah dan mendapat pekerjaan.”

Melihat ucapan demi ucapannya hatiku tersentuh. Dan aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada ibundaku nanti saat waktu itu tiba. Ian, dia beragama Hindu, juga tinggal di sulawesi. Sementara aku beragama Islam, tinggal di Sumatera. Ian begitu baik, dan lembut. Tak pernah sekali pun ia kasar padaku. Tak pernah pula ia menyusahkan hatiku. Dia selalu berjuang untuk jadi yang terbaik bagiku. Tapi dua perbedaan itu saja, sudah membuat dia tak mendapat tempat di hati ibundaku.

Kutegarkan hatiku dan kuketikkan sebuah balasan untuknya.

“Ian, aku juga akan mengikuti challenge ini. Mari kita belajar dan kejar impian kita bersama-sama. Aku sayang kamu.”

Saat menuliskan itu, aku masih berusia dua puluh tahun. Sementara Ian berusia sembilan belas tahun. Kami masih terlalu kecil. Masih terlalu muda. Tapi aku juga ingin hatiku tumbuh dewasa bersama orang sebaik dia.

Payakumbuh, 18 Juni 2020

Zulvanny Fatwa Firmananda adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *