Senja Berdusta

Puisi-puisi Asrul Irawan

Asrul Irawan

Senja Berdusta

Di atas jembatan rapuh,
Sepasang mata duduk menatap awan senja
Menanti tawa yang diselimuti duka dan terpaan air mata
Perlahan tempias cahaya memudar
Kerlingan mataku pun mencarinya

Aku tanya kepada malam,
Hilang…
Tak ada kedip pada bintang
Semua yang ku lihat gersang,
Layaknya langit tak bertiang,
harapan ku pupus dan hilang,
Menantinya tak kunjung datang.

Aku hanya bisa memandang dengan mata yang berkunang,
hilanglah dalam kenangan.

Luka yang Tak Usai

Sepi mengusikku lagi
datang seperti mentari,
Dan pergi sesuka hati
Mencampakkan duri-duri pada hati yang rentan ini
rasa yang hampir mati kembali kau ngrogoti

Baca Juga :  Hindari Antre, Pukul 06.30 WIB, Edy Nasution Sudah ke TPS

Cukup
Jangan kau tanam duri di selimut penghangat tidurku

Sudahlah
Jangan sembunyi lagi, aku tahu dunia ikut memaki

Pergilah
Aku tak sudi menjadi paku di antara duri-duri

Biarkan waktu menjadi saksi
Bahwa kau dan aku takkan pernah bersatu kembali

Pemain Tidur

Aku menggagahkan diri di atas purnama melihat malaikat senja sedang menghafal aksara yang kian sirna
Kupandangi dengan penuh makna dan menerka lukis pada mata

Ingin kugenggam
Namun hati enggan
Namun keluh menjadi bungkam
Ingin ku dekati
Namun ia asik sendiri

Baca Juga :  Wabup Meranti Lantik 111 Pejabat, Ini Daftar Nama Jabatan Strategis

Aku hanyalah lentera jingga
Yang tak kuat memeliharanya
Aku takut ia sirna dalam sekejap mata,
Aku sadar ini hanya mimpiku di setiap pagi

Sepercik Rindu

Rinduku
Hanya mampu bertemu lewat kertas yang berlumur debu
Menuliskan untaian kata pilu bersama rindu,

Rinduku
Bagaikan rumah tak bertiang,
Bagaikan pantai yang gersang,
Ingin rasanya bicara bersama waktu, menyuruhnya kembali ke masa lalu

Tak mampu rasanya untuk bertemu
Namun dalam pejaman mata, ku tiupkan isyarat cinta
Memutuskan segala pilu
Mengusap seluruh rindu
Menghilangkan rasa yang menggebu-gebu.

Baca Juga :  Efek Anggaran KONI 2021 Rp 4 Miliar, Ucok Tuding TAPD Bekerja Tidak Profesional

Mungkin rinduku hanyalah igauan semata yang tak mampu membuatmu tersadar akan cinta yang kupunya
Biar semua berjalan sebagaimana mestinya
Aku takut mengejar, lelah beriring malu ditertawai luka, nyatanya, memilikimu hanyalah khayalan semata

Asrul Irawan adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *