Sajak Bokong

Puisi Jojoe

Ilustrasi (net).

Bagaimana jika aku meminta kau untuk mengganti pikiranmu?

Menja dibijak tak harus membajak, mencari nafkah tak harus serakah.

Kau lebih bodoh dari pada seekor keledai, pecundang yang di peralat oleh logaritma kehidupan, tak lebih dari seorang bajingan yang mengutip sebuah mimpi, rela menjilat tangan binatang yang bahkan lebih keji.

Jangan risau jika besok banyak gendung-gedung bersuara, pekikan lantang mengoyak jiwa, kau akan mati dengan pedangmu sendiri, menikam bait bait kemunafikan diri.

Pena ini telah menjadi saksi akan peristiwa hari ini, langit tidak menangis tapi aku berduka, Aku tidak mungkin menjadi binatang yang hanya makan lalu menjauhi perang atau menjadi manusia yang ke sana ke sini sibuk mencari relasi.

Baca Juga :  Sajak-sajak Muhammad Asqalani eNeSTe

Kau mengintil seperti bateri, yang diam memakan organ instansi. Mungkin saja langkahku menjadi sengketa atau bibirku berucap tidak sengaja dan lidahku kelu dalam hari-hari yang ditodong mulut sembilu sepertimu. Bagiku nyawa dan senjata adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dari sebuah takdir.

Kau benalu, lintah yang menyebar kebencian, bercerminkan kemunafikan, hilang dalam adab beretika, mengeksploitasi demi kekuasaan duniawi, menjadi benalu yang termakan waktu. Baiknya sebelum menari pastikan kaki tak berdulang besi, mungkin bisa kau tersandung dan melukai diri sendiri.

Cukup sudah kau mengotori hati, mencari kesibukan dengan mencacimaki, padahal hidupmu sudah penuh dengan teka teki, malah sekarang memilih menjadi bara api, jalan beratur dengan kekacauan nafsu yang kau jadikan kebutuhan merangkul ideology sampah yang mencukur ilusi kebodohan. Berjalan tampa permisi dengan dulang yang mengigit leher sendiri.

Baca Juga :  Kasih Tak Sampai

Orang sepertiku, mungkin hanya bisa tertawa dari kejauhan, melihat menit-menit yang menakutkan, kau tak cukup kuat untuk diajak berlomba menyelami lautan, tak cukup berani untuk dibawa main ke hutan. Ambisi yang menghilangakan nurani! Krisi sintelektual!

Sajak Bokong ini yang kubuat tidak tergesa-gesa. Sku telah mengambil inti sebelum kau mengelar berita. Kita tidak sama,aku mengejar garis yang merenta kau menapikkan pemikiran menjadi sengketa, padahal kau tahu bahwa dunia hanya berkata tentang waktu. Mungkin baiknya kuhidangkan kau secarik puisi dan bercerita tentang bagaimana caranya angkat kaki. Atau barang kali sekedar mengajakmu menguraui senja dan bercerita bagaimana kau membuat dahan dengan ranting seadannya.

Baca Juga :  Malam Ini Mahasiswa FIB Unilak Beraksi Lewat Seni, Jom Nonton

Ini akan jadi sejarah bagiku, dan sejarah bagi bokongku

Bukan tentang siapa aku?

Tapi tentang luka yang tertoreh tanpa darah, tanpa rasa sakit, tanpa rasa pilu yang mungkin bisa kuingat-ingat lagi di lain waktu. Sudahlah langit pun sudah gelap mungkin banyak dari mereka yang sudah terlelap, baiknya kita berdiskusi dengan hati, menyepi di ruang sunyi, menikmati kuasa antara Tuhan dan manusia. Menjalani takdir tanpa resah.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *