Suara-suara Perempuan Penyair Masa kini Dalam Antologi  “Kutulis Untukmu”

Oleh DM Ningsih

Ilustrasi (f. net)

Perempuan memiliki persoalan dan pengalaman hidup yang berbeda dengan laki- laki dalam masyarakat patriarkat sebagaimana diekspresikan oleh perempuan penyair ke dalam puisi. Puisi dipilih perempuan penyair sebagai media pengungkapan ide, pikiran, dan perasaan daripada cerpen dan novel. Melalui puisi, perempuan penyair mengungkapkan pengalaman-pengalaman hidupnya. Membaca puisi-puisi yang ditulis oleh perempuan penyair membaca kesadaran gender dan menunjukkan adanya kekentalan terhadap stereotif, kesadaran meningkatkan keadilan gender, perlawanan terhadap ketidakadilan, sampai mengusung kesetaraan gender serta kebebasan berekspresi dalam bingkai pemikiran perempuan.

Pada tahun 2020, sebuah buku antologi puisi yang ditulis oleh 6 komunita penulis perempuan yaitu : Perempuan Penulis Galuh (PPG), Lembaga dan Seni Sastra Reboeng(LSS Reboeng), MOM Kreatif Menulis (MKM), Ibu –ibu Doyan Nulis (IIDN), Komunitas Penulis Perempuan Indonesia (KPPI) Ciamis dan Komunitas Pisau Puisi  memuat puisi dari 82 Perempuan Penyair. Mengutip kalimat Datok Rida K Liamsi dalam endorsment buku antologi “Kutulis Untukmu”, puisi-puisi yang ditulis penyair perempuan selalu penuh misteri dan rasa ngilu, apalagi jika menulis puisi cinta yang di dalamnya mengeram rasa dendam. Bahkan saat perempuan penyair menulis puisi tentang pahlawan, banyak sisi yang diungkapkannya dalam persepsi dirinya sebagai perempuan.

Kumalahayati
(Alya Slaisha)

Perempuan seperti sebilah pisau
yang tajamnya sanggup menguliti
tubuhmu sampai ke tulang

“Kita tidak sedang bercanda, Bung!”

Di geladak Kapal ini tak lagi akan
kau lihat dermaga lain untuk bersandar
kecuali darahmu melarung
: di laut kami namamu karam

Aku selalu tegak jadi kemudi
diantara laut dan daratan
pohonpohon bakau mendendang lagu

“O gadis kampung, O Malahayati”

Puisi karya Alya Slaisha berjudul Kumalahayati begitu garang menggambarkan sosok perempuan. Penyair dengan tegas mengatakan bahwa jangan bermain-main dengan perempuan! Di balik kelembutan hatinya, sosok Pahlawan perempuan bernama Kumalahayati adah sosok berani nan tegas. Sosok Kumalahayati dalam persepsi seorang perempuan adalah cerminan dari perempuan itu sendiri. Cerminan perempuan masa dulu  hingga masa kini tidak berubah, keberaniaan dan kekuatan perempuan dalam menghadapi kerikil kehidupan sudah teruji. Tidak tercermin streotip tentang perempuan yang lemah tidak mandiri, tidak mampu menjadi pemimpin aku selalu tegak jadi kemudi ; penyair dengan gamblang menggambarkan bahwa perempuan mampu menjadi nahkoda, memegang kendali bahkan dalam medan perang sekalipun!

Baca Juga :  Usai Laksanakan Sholat Idul Fitri, Pjs Bupati Inhil Gelar Open House

Berbeda bentuk perempuan yang diungkapkan Ardi Susanti dalam puisinya “Ledhek”. Ledhek adalah penari wanita dalam pagelaran kesenian tradisional  “Tayub” di masyarakat jawa Timur, Jawa Tengah maupun Yogyakarta. Dalam buku History  of Java yang ditulis Raffles di abad ke 19, saat itu kesenian Tayub banyak ditampilkan dengan mengedepankan sisi-sisi erotis para ledheknya, tradisi “suwelan” yaitu memberi uang saweran dengan “nyuwelke” atau memasukkan uang ke dalam kemben si penari sudah menjadi kebiasaan umum.. Pada pusi Ardi Susanti, hal tersebut digambarkan dalam bait-bait puisinya :

…….

Panggung telah menjadi altar kendang dan kenong menghentak riuh
perempuan itu meliuk sempurna ada peluh di kening
mengembun pada anak rambut yang terburai dari sanggul
tangannya gemulai memainkan sampur pinggulnya menantang mata lelaki
senyumnya yang madu mengajak penonton menari agar sesekali menyelipkan helai rupiah di sela dadanya.

Perasaan seorang Ledhek yang sebenarnya adalah seorang seniman tari yang ingin dihargai, sosok penari perempuan yang juga tidak mau diperlakukan tidak senonoh oleh para pengibing, ledhek menjadi objektifikasi.

perempuan itu duduk di atas amben membaca sehelai cahaya
dari lampu senthir sembari tangannya mengusap bekas gincu di bibir
ada serinai gerimis di hatinya.

Kelukaan hati seorang Ledhek begitu mengiris, begitu pedih mendalam digambarkan penyair. Penolakan atas pelecehan yang didapatnya saat menghibur penonton hanya mampu ia pendam, tangisan jatuh ke lubuk hati terdalam. Ledhek tak mampu bersuara sebab kehidupan itu pahit dan harus tetap ia jalanani sepahit apapun itu.  Perempuan itu menyandarkan tubuhnya pada cagak/ memejam mata yang luka/ada sungai mengalir di dadanya.

Ardi Susanti dengan puisi Ledheknya mengkritik sikap masyarakat terhadap para ledhek. Kesenian tayub seharusnya adalah kesenian tradisi yang mengandung nilai-nilai normatif dalam masyarakat yang mana menempatkan penari perempuan pada tantanan yang terhormat atau paling tidak dihargai. Melalui perasaan seorang Ledhek, penyair mengajak pembaca untuk kembali merenungi  bahwa pentingnya melestarikan kebudayaan dengan menjaga nilai-nilai luhur. Keinginan Ledhek tergambar di bait terakhir Malam benar-benar ranum/ia terlelap memimpikan rumah bertungku benderang/dalam buai sitar yang mengalun dari ujung pepohonan.  Ledhek mengharapkan kesenian tayub menjadi rumah yang menempatkan diri mereka dihargai, dihormati sebagai seorang perempuan. Kesenian tayub bukan lagi rumah duka bagi mereka melainkan rumah yang memberi cahaya dikehidupan para ledhek.

Baca Juga :  Puisi-puisi Perlawanan

Sosok seorang perempuan yang bernama Emak digambarkan Taty Y. Adiwinata dalam puisinya berjudul “Tentang Emak”. Perempuan pada sajak ini memiliki kesetiaan dan dedikasi kepada kebahagiaan anakanaknya. Keberadaannya sebagai seorang istri dan ibu di dalam rumah menjadi sangat penting karena melayani semua kebutuhan anggota keluarganya, setiap kata-kata emak adalah doa terbaik untuk anak-anaknya; Aku tahu teramat tahu/kau cahaya dunia/yang menggumamkan kata-kata/pada pagi, siang, serta malam/betapa setiap embus napasmu adalah doa-doa yang melangit.  Sifat bahwa perempuan itu adalah makhluk lembut yang penuh cinta kasih sangat menonjol dalam sajak tersebut. Pengorbanan seorang emak kepada anak, tidak pernah bisa terbayar oleh anak bahkan dengan dunia ataupun isinya ; Di setiap liku ingatan/bulir air yang jatuh di matamu/tak pernah sanggup kubayar/tak akan pernah/sekalipun kuberikan dunia dan isinya.

Perlakuan tidak adil yang dialami perempuan di dunia kerja tercermin dalam puisi Kesaksian Marsinah karya Maisaroh. Marsinah adalah lambang perjuangan perempuan buruh Indonesia yang mengalami tindakan keji yang hingga kini kasusnya tertelan waktu, Keadilan untuk Marsinah tidak pernah tercapai. Penyair mengkritisi sikap Penguasa dan masyarakat yang mengakibatkan Marsinah mengalami ketidakadilan. Perjuangan untuk mendapatkan haknya sebagai pekerja perempuan berakhir kematian tragis ; Nama saya Marsinah/dibunuh,dirusak, dipatahkan tulang-tulang saya ketidakadilan masih dialami oleh perempuan, baik kekerasan, subordinasi, maupun marginalisasi. Kematian Marsinah bukan kematian perempuan dalam bergerak menuntut keadilan ; ini kisah saya/ Marsinah!/Tolong diam jangan bungkam/ tolong bekerja sama, tapi jangan mati bersama

Perjuangan perempuan pahlawan baik itu Cut Nyak Dien, Marrsinah, Fatmawati, Kartini harus menjadi kekuatan bagi perempuan sekarang dalam bersikap. Yakinkan diri bahwa Perempuan itu ada dan bisa dalam menjalani kehidupan. Keberadaanya diakui di dalam masyarakat :

Baca Juga :  Senja Berdusta

sejarah telah tertulis jelas
para pendahulumu bergerak pasti
Kartini, Aisyah Sulaiman ataupun Syarifah Latifah; membuka jalan berjuang untuk pendidikan perempuan.
Semnagat mereka
pengorbanan mereka
menjadi batu pijakan
bahwa kau ada

Perempuan selain sebagai dirinya sendiri ia juga sebagai seorang istri sebagai seorang ibu. Kekuatan perempuan membangun kehidupan di sekitarnya menjadi sangat penting.

Puisi-puisi dalam kumpulan antologi Kutulis Untukmu begitu banyak bercerita tentang perempuan dalam perspektif perempuan penyair yang penuh makna mendalam. Perempuan bukan lagi sebagai subjek penderita melainkan perempuan sebagai penggerak, Perempuan bukan sebagai pengikut melainkan sebagai visioner yang tangguh. Puisi-puisi dalam buku ini mengandung rasa nasionalisme yang kuat dalam menghargai jasa para pahlawan dan keberadaan perempuan itu sendiri.

 

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *