Dikutuk Dengki

Puisi-puisi Hang Kafrawi

Ikustrasi (g. net)

Dikutuk Dengki

Hati busuk jangan dipeturut,
nanti celaka diri berlanjut-lanjut

Orang khianat jangan dipercaya
Pada orang lain suka menganiaya

Seribu muka cari selamat,
orang ini harus dilumat

Tersebab hendak dapatkan kuasa,
salah dan benar ia tak kira

Pada orang yang gila kuasa,
harus dibasmi tak bersisa

Ini Negeri Milik Kita

Dari lembah kemelaratan negeri, kita harus bangkit
Diam bukan jalan menghapus kedukaan
Kemiskinan yang lahir dari tipu daya harus dijawab dengan perjuangan
Kita wajib mengubah kezaliman menjadi kenyamanan bersama
Ini negeri bukan milik sekumpulan orang yang menatasnamakan rakyat

Baca Juga :  Pjs Bupati Inhil Hadiri Upacara Penutupan TMMD di Keritang

Ini negeri milik kita

Tangisan yang pecah di hamparan hari-hari kita adalah kelupaan diri
Terpana retorika yang disusun dari kehendak propaganda
Perbedaan sengaja diciptakan untuk mematahkan kesadaran
Ideologi dibenturkan dan dihempas menjadi perselisihan
Melumpuhkan nalar keberanian kita
Diancam kematian, padahal hidup sudah ditentukan Yang Maha Kuasa

Ini negeri milik kita

Kita dilarang berpikir berdasarkan hati
Tersebab hati adalah bara cinta yang tak memandang strata
Cinta melahirkan kasih yang menyulam perbedaan menjadi persatuan
Pikiran adalah pedang yang ketajamannya bisa menebas ketakadilan
Mereka tak ingin itu, tersebab takut kehilangan kuasa dan harta yang didapat dari memeras kita

Baca Juga :  Rahma : "Insya Allah Tanjungpinang Akan Terang Benderang".

Ketajaman hati dan pikiran membentang cakrawala
Membebaskan kebodohan dan menancapkan kesejatian
Melahirkan perlawanan yang terkubur di rimbun ketakutan
Melumpuhkan intrik nafsu kuasa yang mencengkram nafas kita

Ini negeri milik kita akan berdenyut kembali ketika terbebas dari tipu daya kerakusan!

HK, 30 Juli 2020

Setelah Hujan

Setelah hujan,
senja memerah
kau sedu angin,
kau seru arah
bersatu waktu

Setelah hujan,
kisah berdarah
kaki langit,
kau ukir pelangi
genggam badai

Setelah hujan,
wajah awan biru
kau lepas diri,
bebaskan hati
sonsong perang

Baca Juga :  Alamak, Ditemukan Cacing Hati Pada Hewan Qurban di Meranti

Setelah hujan,
kau melangkah
ragu lepas,
jalan pasti
menang menunggu

Perjumpaan Duka

Kita bertemu,
melambaikan tangan

Sunyi menyapa,
waktu berguguran

Gelisah terdedah,
pikiran bilit kenangan

Aku memburu,
mulut membisu

Pandang tajam,
menikam jantung

Debar bergelombang,
aku karam

Kau pongah,
buhul dendam

Tebar angin,
sekat ingin

Sumpah temu,
tabur benci

Saling menyalah,
tuai kalah

Hang Kafrawi lahir di Telukbelitung, Kecamatan Merbau, Kepulauan Meranti, Riau. Sekarang menjabat menjadi Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning

Loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *