Demonstran

#Cy.Doo

Ilustrasi (net)

Katanya besok akan ada aksi demo besar-besaran. Entah untuk apa mereka melakukan demo, katanya untuk memebela rakyat. Apa mereka tahu bahwa rakyat yang mereka bela tidak ingin dibela mereka. Hhaa

Aku tak begitu peduli tentang demo, bukan tidak nasionalisme atau apalah kata mereka. Aku rasa demo hanyalah sebagai ajang pamer-pamer bahwa mereka jagoan, mereka adalah pahlawan rakyat saat ini. Entahlah, entah apa yang adadi pikiran mereka.

Aku merasa mereka hanya membuat keributan, menghancurkan segala yang berkaitan dengan penguasa yang mereka tak sukai. Dan ujungnya, apa? Negara juga yang akan membayar fasilitas yang mereka rusak.

Toh apakah setelah mereka demo rakyat yang miskin akan menjadi kaya? Apakah setelah mereka demo, rakyat kecil yang tak bisa makan, bisa makan kembali? Apakah setelah mereka demo Dewan Penghianat Rakyat bisa menjadi DewanPembela Rakyat? Entahlah, entah apa yang mereka pikirkan.

Malam semakin larut, sepasang mata masih belum bisa terpejam, entah apa yang dari tadi aku pikirkan, hanya saja perasaanku begitu tidak enak. Aku kembali duduk di tepi ranjang mungilku, aku melihat jam dan ternyata sekarang menunjukkan pukul dua dini hari.

Aku langkahkan kakiku menuju meja yang berada disudut ruangan kecil ini. Aku melirik sebuah benda pipih yang bernama smartphone. Kulihat dan ternyata di sana ada pesan dari seseorang yang sudah empat tahun ini menjadi pasanganku. Bukan pasangan suami istri. Tapi hanya hubungan yang bernama pacaran.

“Sudah tidur?” cuma itu pesan yang masuk, dikirim beberapa menit yang laludarinya.

Dengan lincah jariku menari di atas layar smartphone tersebut, “Belum,” jawabku singkat.

“Mengapa?” tanyanya.

“Entah, aku juga tidak tahu. Kenapa kamu selarut ini juga belum tidur?”

“Akus edang bergulat dengan perasaanku saat ini,” jawabnya.

“Maksudnya? Kamu kenapa? Ada apa?” tanyaku khawatir.

“Ahaha, tidak apa-apa. Jangan khawatir, aku hanya lagi mentok saat mengerjakan skripsiku,” jawabnya.

Entah.mengapa, perasaanku padanya berkata lain. Aku rasa ada yang disembunyikannya padaku. Tapi ntah apa itu.

“Zi, besok aku ikut demo.”

Baca Juga :  Milad ke 61 Provinsi Riau, Ini Harapan Syamsuar-Edy Nasution

“Jadi?” tanyaku.

“Hanya memberitahumu, dan juga minta izin darimu, Zi. Walau kutahu kau juga tidak akan peduli jika aku melakukan demo. Wkwk,” jawabnya polos.

“Bukan tidak peduli, Di, tapi kau tahu bukan? Jika aku tidak suka melihat demo. Banyak cara yang bisa kita lakukan selain demo. Tapi ya sudah itu pilihanmu bukan? Hanya saja kau harus berhati-hati. Aku tidak ingin ketika kau selasai  demo dan pulang membawa badanmu yang  penuh dengan luka. Awas saja jika itu terjadi.”

“Hahahaha, iyaaa aku janji, Enzi. Diki bakalan pulang dengan selamat. Sudahlah tidur sana.”

“Ashhiap!!!”

Ya, dia bernama Diki. Diki merupakan Presiden Mahasiswa Universitas Unjuk Rasa di kota Kumbala. Nanti tepatnya jam sepuluh mereka akan melalukan demo untuk menuntut membatalkan peraturan yang dibuat oleh punguasa Kota Kumbala yang katanya sangat merugikan masyarakat dan menguntungkan pengusaha. Dan juga investor-investor yang ingin menguasai Kota Kumbala.

***

Demo yang dilakukan oleh beberapa universitas di Kota Kumbala telah usai, yang banyak memancing keributan di Kota Kumbala. Diki telah pulang dengan janji yang ditepatinya, pulangdengan keadaan tidak ada luka sedikit pun di tubuhnnya.

Hari ini Diki diundang oleh salah satu Stasiun TV yang ada di Kota Kumbala untuk membahas tentang aksi demo yang dilakukan mereka. Aku menontonya dari handphone milikku. Dengan semangat yang membara Diki menyampaikan aspirasinya untuk para penguasa Kota Kumbala yang sangat merugikan rakyat kecil. Semua kata yang keluar dari mulut Diki seperti menampar telak wajah penguasa-penguasa Kota Kumbala yang juga hadir di acara tersebut. Banyak terjadi perdebatan-perdebatan di acara tersebut sampai pada ujung acara.

“Kapan kamu pulang? Hari ini kamu janji mengajakku pergi makan di restoran yang baru buka itu kan? Awas saja jika kamu melupakan janjimu!” aku mengirim pesan pada Diki beberapa menit setelah acara tersebut.

“Ya Allah, Zi. Sekarang coba kamu lihat pukul berapa, masih dua jam lagi kita akan pergi. Jika soal makanan kamu selalu cepat, :D” balasnya.

Baca Juga :  BRCN Dikukuhkan, Ketua ICCN: Ini Sangat Luar Biasa

Aku hanya tersenyum membaca pesan dari Diki. Lalu mengetik untuk membalas pesannya.

“Tidak bisakah dipercepat, Di? Aku lapar.”

“Kamu lapar atau rindu pada ku?”

“Bisa jadi dua-duanya,” jawabku.

“Tunggu sebentar ya, tiga puluh menit lagi aku sampai. Jangan lupa mandi,” balasnya. Aku tersenyum bahagia dan langsung bersiap-siap.

Beginilah Diki, selalu tidak tepat waktu. Ini sudah telat satu jam setelah waktu yang dijanjikannya. Saat ditelpon katanya lagi isi bahan bakar motornya. Sekarang aku telpon tidak diangkatnya. Aku kirim pesan tidak dibalasnya. Ampun sama ni anak, selalu saja telat.

Ini sudah empat jam dari waktu sebelumnya, masih saja belum datang. Aku mulai khawatir, tidak biasanya dia telat lama seperti ini. Biasanya dia telat paling lama hanya dua jam, ini sudah empat jam dan telponnya sudah tidak aktif lagi.

Aku coba menghubungi teman-temannya, tetapi tidak ada yang tahu Diki di mana. Aku mencoba menghubungi orang tuanya, tapi beliau bilang kalau Diki belum pulang dari pagi tadi. Aku semakin panik, kemana dia? Dimana dia? Apakah dia sedang membuat kejuatan untuk aku? Tapi ini bukan hari ulang tahunku. Aku semakin panik kala melihat jam sudah pukul tiga dini hari. Orang tua Diki juga telah mencari Diki dan melaporkan anaknya hilang ke polisi.

Aku dibangunkan oleh suara handphone yang sedang begetar di sampingku, kulirik jam di atas nakas di samping tempat tidur teryata sudah pukul delapan pagi. Mungkin aku tertidur semalam karena menangis, karena masih belum mendapatkan kabar dari Diki. Itu dari mama Diki, kuangkat dan perkataan mama Diki cukup memperok-porandakan hatiku. Aku terjatuh terkulai di samping tempat tidur, tidak pernah kubayangkan. Diki meninggal, Diki meninggal.

***

Setelah pemakamannya, aku kembali pulang ke rumah. Banyak yang sedang aku pikirkan, banyak kejanggalan yang kulihat dari meninggalnya Diki. Mulai dari lokasi kecelakaan Diki, yaa Diki meninggal karena mengalami kecelakaan. Diki kecelakaan jauh dari lokasi Stasiun TV dan jauh dari lokasi rumahku. Tubuh Diki juga tidak ada lecet sedikit pun seperti orang kecelakaan pada umumnya. Tapi mama Diki tidak mau melakukan visum, karena mamanya tidak mau merusak jasad Diki. Beliau bilang jika sudah ajalnya Diki meninggal. Kita mau buat apa, dan berita meninggalnya Diki tidak pernah disebarkan distasiun tv. Seperti semua orang bungkam meninggalnya Diki.

Baca Juga :  3 Hal Penting Maklumat Penanganan Covid-19 Dari Gubri

Aku merasa ini adalah perbuatan penguasa-penguasa yang terancam dengan perkataan Diki ketika distasiun tv kemarin. Baiklah akan aku buat semua penguasa-punguasa yang tidak memiliki empati terhadap rakyat-rakyat miskin itu jatuh, akan kubuat orang yang membuat Diki seperti ini membayar perbuatannya. Aku berjanji, aku akan turun ke jalan menyuarakan kebenaran yang semakin hari semakin hilang di Kota Kumbala ini.

Aku berjanji kepada arwahnya Diki, aku akan melanjutkan perjuangannyanya untuk membela rakyat-rakyat miskin dari penjajah di negeri kami ini. Penjajah yang tak lain adalah saudara kami sendiri. Sekarang aku tahu, rakyat yang kecil hanya diam. Bukan mereka tak ingin dibela, tapi mereka tidak tahu kepada siapa mereka akan mengadu, kerena tempat seharusnya meluapkan keluh kesahnya, malah tempat itu yang memeranginya.

Penjajah bukan lagi orang asing, tapi penjajah kini adalah orang-orang yang memilik kekuasaan di negeri ini. Yang tak lain adalah penduduk asli negri ini. Mereka membuat aturan-aturan yang meresahkan rakyat-rakyat kecil yang tak punya kuasa, dibiarkanya penguasa-penguasa yang merasa punya kuasa bertambah berkuasa. Tanpa memikirkan yang lemah. Menindas perlahan-lahan orang-orang yang tidak berkuasa, membiarkan orang-orang asing berkeliaran semau mereka, dan melarang rakyat-rakyat kecil yang tidak mempunyai kekuasaan berkeliaran sesuka mereka. Dibiarkannya penguasa merampas hak orang-orang yang lemah. Dan untuk apa kita menghormati orang-orang yang menindas dan merampas hak rakyat-rakyat yang lemah dan miskin di negri ini.

Tapi dengan turunya para mahasiswa, di situlah mereka para rakyat yang tak punya kuasa menggantung harapannya. Agar semua keluh kesahnya bisa tersampaikan kepada tempat seharusnya meluapkan keluh dan kesanya mereka.

“Aku akan berdiri didepan dan menyuarakkan kebeneran itu, Diki!”

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *