Kabar Jauh Dengar-dengarkan, Kabar Dekat Pikir-pikirkan

Berkali-kali Atah Roy memandang ke arah jam dinding yang tergantung di ruang tamu rumahnya. Jarum pendek jam menunjukkan angka 11, sementara jarum pendeknya ke angka 6. Jarum jam yang lebih kecil terus bergerak berputar, berdetak-detak bunyinya berlomba dengan degup jantung Atah Roy. Atah Roy bangkit dari kursi dan melangkahkan kaki menuju pintu depan. Di tengah pintu, Atah Roy berdiri. Pandangannya menyapu jalan, mulai dari simpang  kanan yang berjarak 200 meter, sampai simpang kiri yang berjarak 300 meter dari rumahnya. Atah Roy menarik nafas panjang. Kekhawatiran mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Kemane Leman ni pergi? Sudah hampir lime jam, belum balik juge lagi?” ucap Atah Roy risau.

Untuk memastikan pandangannya tak salah, Atah Roy kembali menyapu pandangan ke arah yang sama. Leman Lengkung tidak juga terlihat. Kembali Atah Roy menarik nafas panjang, kekhawatiran terpancar dari wajahnya. Ketika Atah Roy hendak membalikkan badanya, tiba-tiba suara riuh rendah terdengar dari arah simpang kiri rumahnya. Atah Roy mengurungkan niatnya hendak berbalik dan matanya langsung mengarah ke asal suara. 30 orang bergerak menuju ke rumah Atah Roy. Sayup-sayup terdengar suara mereka dan kemudian terdengar jelas, bahwa mereka meminta Atah Roy bertanggung jawab.

“Atah Roy harus bertanggung jawab! Jangan mentang-mentang punye kuase menindas yang lemah! Punye kuase bukan berarti berbuat sesuke hati!” bersamaan dengan semakin dekatnya sekelompok orang itu dari rumahnya, suara-suara itu semakin jelas masuk ke telinga Atah Roy, dan akhirnya berada di depan rumah.

Baca Juga :  Mantra Pemanggil Semangat Tanah  

“Kami tak sangke Atah sanggup melakukan ini semue!” teriak Kasim Tonjang.

“Selame ini Atah kami anggap sebagai tokoh panutan, rupenya memiki hati busuk!” ucap Tapa Sulah pula.

“Atah harus bertanggung jawab!” suara orang serentak.

“Kalau tidak kami bako rumah Atah ni!” sambut Tamam Cengkung dengan emosi berapi-api.

Dahi Atah Roy berkerut diikuti matanya mengecil. Atah Roy sangat tersinggung, namun ia masih mampu menahan emosinya agar tidak meledak. Kesadaran masih mengalir ke otak Atah Roy, sehingga ia tidak membalas teriakan orang-orang itu dengan emosi pula. Atah Roy menatap satu-satu wajah orang-orang yang mendatangi rumahnya.

“Jangan Atah hendak mengancam kami dengan pandangan Atah tu! Kami tak takut dengan orang yang memiliki hati busuk macam Atah ni!” suara Udin Kengkang meletop.

“Betul, kami tak takut!” suara orang-orang bersatu padu.

“Ape masalahnye ni! Ngape ngentam mike semuanya ni?” suara Atah Roy menggeletar menahan marah.

“Usah purak-purak tak tahu, Tah! Atah memang suke menganiaya orang lemah seperti Leman Lengkung!” ucap Bakar Juling dengan suara tak kalah dengan suara Atah Roy.

“Kami datang hendak menyelamatkan Leman Lengkung dari perbuatan sewenang-wenang Atah Roy!” Tapa Sulah kembali berteriak.

Baca Juga :  Bahasa

“Selamatkan Leman Lengkung, Atah Roy harus bertanggung jawab!” kembali suara-suara orang berteriak serentak.

“Kenape dengan Leman ni!” Atah Roy semakin geram.

“Alah, orang berbuat salah mane pulak mau ngaku!” ucap Udin Kengkang.

“Ape yang telah aku perbuat kepade Leman? Aku betul-betul tidak tahu!” kata Atah Roy bertambah geram.

“Hanye gara-gara lime butie telou itik Atah pecah, Atah sanggup menghalau Leman Lengkung, anak saudare Atah sendiri dari rumah Atah kan?” jelas Tamam Cengkung.

“Siape cakap? Dari mane mike semue dapat kabo ini?” Atah Roy mulai tahu permasalahannya.

“Tak perlu kami beritahu Atah dari mane kami dapat kabo ini! Tapi betulkan Atah menghalau Leman Lengkung?” pertanyaan Kasim Tonjang hendak menyudutkan Atah Roy.

Suara orang-orang di depan rumah Atah Roy semakin rebut. Mereka benar-benar marah dengan kabar yang mereka dapatkan. Suasana semakin memanas dan tiba-tiba Leman Lengkung datang dengan menggunakan sepeda kagonya. Leman Lengkung heran melihat ramai orang di rumahnya. Leman Lengkung langsung memakirkan sepeda di tangga rumah dan langsung mendekati Atah Roy.

“Ngape orang ni bising-bising di rumah kite ni, Tah?” tanya Leman Lengkung kepada Atah Roy.

“Orang ni pembela kebenaran dan tak mau dengo lagi penjelasan orang lain,” jawab Atah Roy sambil mengigit bibir bawahnya menahan amarah.

Baca Juga :  DKR Nilai Presiden BEM Unilak Lecehkan Profesi Seniman

Orang-orang saling berpandangan dan tidak mengerti ketika melihat Leman Lengkung berada di rumah Atah Roy. Padahal berita yang mereka dapatkan bahwa Leman Lengkung telah dihalau Atah Roy.

“Dikau tak kene halau Atah Roy dari rumah ini, Man?” Tapa Sulah memberanikan diri bertanya kepada Leman Lengkung.

“Siape cakap aku kene halau? Pasal ape?” Leman Lengkung balik bertanya.

“Kalau diturut hati aku, memang besepai kepale mike semue aku buat. Untung aku masih sabo, kalau tidak, hai… payah nak aku cakap. Makenye kalau dapat kabo tu dipelajari betul-betul, jangan dimakan begitu saje. Telusuri kebenaran kabo itu terlebih dahulu. Ini untung dengan aku, kalau dengan orang lain, dah kene lapor mike semue ke pihak yang berwajib dah. Sekarang semuenye balik,” jelas Atah Roy agak arif dan bijaksana.

“Tak emosi pulak Atah hari ini? Biasenye bukan main melengking suare Atah berhadapan masalah macam gini?” Tanya Leman Lengkung.

“Macam mane pun mereke semue orang kampung kite juge dan tujuan mereke baik, membela dikau, Man. Salah mereke tu membabi bute berbuat tanpe berpikir dan teliti terhadap kabo yang didapat. Makenye, kabo jauh dengo-dengokan, kabo dekat piker-pikirkan,” jelas Atah Roy.

“Ye pulak Atah Roy, paling mantap,” ucap Leman Lengkung sambil tersenyum.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *