Perlunya Inovasi Pembelajaran Selama Kebijakan Belajar dari Rumah

Kepala Dinas Pendidikan Bengkalis Edi Sakura

RiauKepri.com, BENGKALIS – Pandemi Covid-19 telah berdampak pada berbagai sektor kehidupan, seperti ekonomi, sosial, termasuk pendidikan. United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pun menyatakan bahwa wabah virus corona telah berdampak terhadap sektor pendidikan.

Di seluruh dunia, hampir 300 juta peserta didik terganggu kegiatan sekolahnya dan terancam berdampak pada hak-hak pendidikan mereka di masa depan.

Di Indonesia sendiri, dunia pendidikan ikut merasakan dampaknya. Jika kondisi seperti ini terus berlarut, bisa dipastikan dampaknya terhadap sektor pendidikan juga akan semakin meningkat. Dampak yang paling dirasakan adalah peserta didik dan instansi penyelenggara pelayanan pendidikan, seperti sekolah di semua tingkatan, lembaga pendidikan nonformal hingga perguruan tinggi.

Kepala Dinas Pendidikan Bengkalis Edi Sakura

Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis mengeluarkan kebijakan memperpanjang waktu pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM). Sehingga, kegiatan belajar mengajar semua jenjang dilakukan di rumah peserta didik masing-masing. Guru melakukan proses belajar mengajar melalui media daring (online) dan menutup sementara sekolah dari aktivitas belajar mengajar.

Ok Bupati Bengkalis Syahrial Abdi mengatakan imbauan tersebut yang merupakan langkah antisipasi penyebaran Covid-19 di wilayah Kabupaten Bengkalis, tentu perlu diapresiasi sebagai langkah konkret Disdik. Berbagai inovasi pendidikan pun terus dilakukan oleh tenaga pendidik di tengah pandemi ini, dengan memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan efektif meskipun dilakukan di rumah.

“Jangan menganggap hal tersebut sebagai liburan dan berpergian ke tempat ramai yang menyebabkan kebijakan ini menjadi tidak tepat sasaran.” pesan Syahrial Abdi.

Pj Bupati Bengkalis Syahrial Abdi dan Sekda Bengkalis Bustami HY

Dia mengatakan inovasi pembelajaran merupakan solusi yang perlu didesain dan dilaksanakan oleh guru dengan memaksimalkan media daring. Guru dapat melakukan pembelajaran menggunakan metode E-Learning, yaitu pembelajaran memanfaatkan teknologi informasi (TI) dan komunikasi.

Baca Juga :  Meletop Hari Ini, 24 Penambahan Kasus Covid-19 di Riau

“Sistem pembelajaran dapat dilaksanakan melalui perangkat komputer (PC) atau laptop yang terhubung koneksi internet. Guru pun bisa melakukan pembelajaran bersama di waktu yang sama dengan menggunakan grup di media sosial, seperti Whatsapp (WA), Telegram, aplikasi Zoom ataupun media sosial lainnya.” Katanya.

Kepala Disdik Bengkalis Edi Sakura mengatakan bahwa guru dapat memberikan tugas terukur namun tetap memastikan setiap hari pembelajaran peserta didik terlaksana tahap demi tahap. Masih banyak inovasi lain yang bisa dilakukan oleh guru demi memastikan pembelajaran tetap berjalan dan peserta didik mendapatkan ilmu sesuai kurikulum yang telah disusun oleh pemerintah.

“Saat inilah, guru dituntut mampu menggunakan TI yang selanjutnya diimplementasikan dalam proses belajar. Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh guru. Namun dengan kemauan yang kuat, perlahan tapi pasti, guru akan terbiasa menggunakan TI dalam proses pembelajaran.” kata Edi Sakura

Menurutnya ntuk menunjang kegiatan PBM, guru harus kreatif dan inovatif. Guru dapat menggunakan aplikasi Google Classroom, Google Hangout, Zoom atau minimal WhatsApp agar bisa beratatap muka dengan peserta didik untuk pengawasan secara online.

“Kepala sekolah pun ditugaskan mengawasi kerja guru dalam menyampaikan materi PBM daring dari rumah masing-masing. Kepala sekolah dituntut harus berinovasi dalam menjalankan fungsi supervisi atau pembinaan kepada guru guna memastikan kegiatan belajar mengajar telah dilakukan oleh guru dan peserta didik. Kepala sekolah juga dapat memberikan solusi dan motivasi kepada guru sehingga guru yang belum siap memanfaatkan media daring dapat disupervisi dan diberi solusi.” papar Edi Sakura.

Baca Juga :  Keluarga Berperan Penting Dalam Proses Pendidikan Anak
Siswa siswi belajar via daring

Dalam kondisi seperti ini, mindset para guru harus diubah. Jangan lagi berorientasi pada aspek capaian kurikulum. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana agar kegiatan pembelajaran sesuai kontekstual kehidupan keseharian peserta didik di rumah.

Begitu juga para guru, saling berkoordinasi dalam kegiatan pembelajaran bagi peserta didiknya agar aktivitas yang dilakukan peserta didik merupakan kompetensi dari beberapa mata pelajaran terkait dan tidak memberatkan mereka.

Adapun materi pembelajaran yang bisa disesuaikan dalam menghadapi pandemi Covid-19, kata Edi sakura di antaranya:

1. Pembiasaan Sehari-hari
Kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan peserta didik dilakukan secara bersama. Seperti, pembiasaan makan bersama anggota keluarga di ruang makan, membersihkan rumah dan lingkungannya serta kegiatan lainnya.

2. Belajar Kecakapan Hidup
Guru juga dapat memberikan tugas kepada peserta didik di rumah berupa pembelajaran kecakapan hidup (lifeskill). Mulailah dengan cara-cara yang sederhana. Usahakan untuk keterampilan tertentu, semua bahan dan alat yang tersedia di rumah saja. Sehingga peserta didik tidak perlu keluar rumah untuk mendapatkannya.

3. Sentuhan Agama dan Seni
Mengajarkan nilai-nilai keagamaan dan seni kepada peserta didik dapat dilakukan oleh guru dengan memberikan tugas. Misalnya, peserta didik menghafalkan surah-surah pendek dari Al-Qur’an, belajar membaca Al-Qur’an, menulis dengan huruf Arab, salat berjamaah, dan kegiatan ibadah lain dalam pembiasaan.

Wali Murid sedang membimbing anaknya dalam proses belajar jarak jauh

Kegiatan-kegiatan tersebut bisa dilaporkan kepada guru baik dalam bentuk foto ataupun video. Orang tua dapat mengambil gambar anaknya selama beraktivitas, kemudian melaporkan kepada guru. Sehingga, selama kegiatan belajar mengajar dari rumah tetap melibatkan orang tua dalam prosesnya. Ini menjadi kolaborasi yang baik antara guru, peserta didik, dan orang tua.

Baca Juga :  Gantikan Edi Sakura sebagai Sekretaris Disdik Bengkalis, Agusilfridimalis Bertekad Majukan Dunia Pendidikan

Inovasi juga harus dilakukan pengawas sekolah agar tugas kepengawasan dapat berjalan baik meskipun tidak harus selalu bertatap muka. Melakukan pembinaan, monitoring, dan evaluasi kerja kepala sekolah dalam mengatur proses belajar daring dapat menggunakan aplikasi Zoom Meeting secara berkala. Sehingga, komunikasi antara pengawas sekolah dengan sekolah binaanya dapat berjalan dan kepala sekolah harus melaporkan jalannya pembelajaran daring yang dilaksanakan di sekolah masing-masing.

Sejauh ini, penerapan pembelajaran daring masih terkendala banyak hal, baik dari kompetensi guru, orang tua maupun infrastruktur pendukung. Masih banyak orang tua yang tidak mempunyai gawai yang memadai. Akibatnya, anak kesulitan mengerjakan tugas dari gurunya. Namun demikian, masih banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru agar peserta didik tetap mendapatkan haknya. Sehingga, inovasi pembelajaran harus lebih fleksibel disesuaikan dengan kemampuan peserta didik dan letak geografis tempat tinggal peserta didik.

“Dengan berbagai inovasi pembelajaran ini, diharapkan guru tetap semangat menerapkan pembelajaran daring. Yang penting, jalani dengan sukacita dan berikan yang terbaik bagi peserta didik. Mungkin tidak sempurna, namun setidaknya sudah berusaha.” Tutupnya.(Adv/Win)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *