Cerdik Membangun Orang Melayu Dulu

Menyorot Banjir di Pulau Padang

Ilustrasi foto banjir

Oleh Izwanto alias Iwank

Mengapa orang Melayu dahulu membuat rumah panggung yang tinggi menyayup? Terbukti sudah, orang-orang dahulu tegas dalam berfikir cerdik dalam membangun. Dikarenakan dulu alam masih lestari, tiada penembangan hutan terlalu berlebihan, sehingga pembangunan rumah yang tinggi ada tujuan, diantaranya selain waspada terhadap satwa berbisa masuk kerumah. Salah satunya juga mengindari banjir yang kapan saja bisa melanda tempat tinggal mereka.

Kajian dari pemikiran tersebut saya rasa pada hari ini hanya tinggal sedikit lagi yang mengikuti kecerdasan dari nenek moyang dahulu, saat zaman terus berkembang dengan gaya semodern mungkin, sehingga kekhawatiran dalam pemikiran nenek moyang dahulu terabaikan dan terjadilah apa yang kita saksikan saat ini, seperti salah satunya banjir.

Jika dilakukan perbandingan antara pemikiran nenek moyang dahulu dengan pemikiran kita saat ini sangat- sangat berbeda. Nenek moyang dahulu mendirikan rumah dengan tinggi tongkatnya agar terhindar dari kebanjiran. Tak hanya itu, selain mengindari banjir, satwa berbisa, dan lain-lain, kolong rumah yang didirikan nenek moyang juga dapat difungsikan sebagai tempat berteduhnya perkakas sederhana untuk menghindari hujan dan panas, seperti sepeda, kayu bakar dan perkakas lainnya. Makhsudnya kolong rumah dijadikan tempat bermacam manfaat. Namun berbeda dengan pemikiran kita saat ini, lebih-lebih lagi banyak generasi mengubah dan meninggalkan struktur, dan mengkaji halus tentang arsitektur rumah melayu terdahulu, dikarenakan model-model yang hadir saat ini menggiurkan di berbagai postingan internet sehingga kita hanyut pada kepesonaan  desain rumah yang serba cantik dan unik. Jika dilihat dengan kondisi pembagunan saat ini, seperti hampir rata dengan tanah posisi lantai rumah dan bangunannya. tanpa sadar hal tersebut dapat melumpuhkan dan menyusahkan diri kita sendiri di kala musim penghujan seperti dipengujung dan awal tahun 2021 ini.

Baca Juga :  113 Pasien Terkonfirmasi Covid-19 di Riau

Pembangunan rumah berganre modern dan ceper (rendah) zaman ini tidak dapat juga dipersalahkan sepenuhnya, sebab jika dilihat kondisi banjir yang terjadi di pulau Padang Kabupaten Kepulauan Meranti saat ini, bisa jadi karena adanya kerusakan alam yang menjadi-jadi seperti penebangan hutan secara liar dan berlebihan. Bisa juga karena adanya perusahaan-perusahan yang berdiri dan berbisnis berkaitan alam ini. Jika dikaitkan dengan hasil penelitian para peneliti, masuk di akal peristiwa banjir yang melanda daerah ini.

Mari kita baca paparan presentasi Oka Karyanto (UGM) dan Raflis1 pada tahun (2012) menyatakan bahwa dengan asumsi:

Baca Juga :  DPMD Bengkalis Akan Hadiri TTG ke 21 di Bengkulu

(a) tinggi elevasi lahan gambut dari muka air laut sekarang 5 m,

(b) laju kenaikan muka air laut 4 mm/tahun, dan

(c) laju subsiden tanah gambut 4 cm/tahun (akibat HTI), maka dalam jangka waktu 60 tahun diduga Pulau Padang akan tenggelam.

(1 Oka Karyanto ,2012. Pengelolaan Lansekap di Pulau Padang: Kajian Awal dan Road Map. Raflis,-2012).

Nah, dari paparan presentasi Oka Karyanto, saya rasa masuk di akal juga. Bagai mana tidak, melihat kondisi saat ini di akhir dan awal tahun naiknya ketinggian air pasang Keling dari laut sehingga membuat jalan aspal yang dulunya tidak terendam banjir, kini menjadi tempat bersuka ria kanak-kanak belajar berenang. Lebih-lebih lagi bila cuaca hujan saat ini sangat bertutuk (setiap hari), siang bertemu malam dan malam bertemu siang lagi. Seiring dengan meluapnya pasang Keling, sehingga air yang bersifat datang tidak membawa apa-apa, akhirnya pergi saat surut mengikis sedikit demi sedikit tanah dari capaian air hingga terjadilah abrasi pada tanah pesisir khususnya Teluk Belitung Kecamatan Merbau Kepulauan Meranti.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *