Tentang Kamu

Oleh: Yeyen Santika

Ilustrasi (f. net)

Tak masalah jika rasa ini terus tumbuh. Hanya saja, bagaimana jika dirimu menolak akan rasa itu?

Assalamualaikum, By. Apa kabar denganmu? Semoga kau baik-baik saja. Hari ini aku sedang duduk di salah satu bangku di taman, aku melihat gadis kecil yang begitu lucu dan menggemaskan. Kau tahu, By? Anak kecil itu sangat mirip denganmu.

Ini tentang perasaan yang tak pernah sedetik memudar. Kau tahu, By? Dari hari itu, hari dimana kau mengatakan ‘kata’ yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya keluar dari mulutmu. Rasa itu tidak pernah sedikit pun memudar. Dengan gampangnya kau mengatakan… “Kita sudahkan saja.”

Hanya dengan tiga kata itu cukup bagimu untuk mengakhiri sebuah hubungan yang telah lama kita jalin. Tapi mau bagaimana, aku tidak bisa menahanmu tetap di sisiku. Aku mencoba untuk ikhlas, yang ujung-ujungnya tidak pernah merasakan keikhlasan itu. Kau mungkin tidak akan tahu hari-hari yang aku lalui tanpamu, tapi perasaan ini kulalui bersama bayangan masa lalumu bersamaku. Mungkin itu yang menguatkanku sampai saat ini. Lima belas tahun sudah kisah ini berlalu, kau mungkin sudah bahagia bersama pendampingmu dan memiliki malaikat kecil yang akan membuat kalian lebih bahagia lagi.

Tapi apa kau tahu, By? Aku di sini masih bergulat dengan masa lalu kita yang kau biarkan tinggal bersamaku. Aku berusaha melupakan dan menolak rasa ini tumbuh, tapi tak bisa, By. Perasaan ini terus tumbuh dan menjalar keseruluh tubuhku. Pernah aku coba untuk membuka hati kembali, tapi akhirnya tetap sama, By. Rasanya hanya menambah beban jika aku kembali bersama yang lain. Rasa ini sangat menyakitkan, By.

Baca Juga :  Usai Pendidikan di Singapura, Syamsuar Akan Terapkan Gagasan Baru untuk Riau

“Maaf, Kak, boleh kami duduk di sini?” tanya seorang wanita padaku. Dia membawa gadis kecil yang aku lihat tadi dalam gandengannya. Kalau dilihat-lihat dia seumuran dengan aku, sedangkan gadis kecil ini kelihatannya berumur lima tahunan.

“Sendiri saja, Kak?” tanyanya.

Aku hanya mengangguk tersenyum padanya, dan kembali melihat gadis itu sedang memakan es krim di tangannya.

“Hai, gadis kecil? Siapa namamu?”

“Naura, Kakak,” jawabnya malu-malu.

Aku hanya tersenyum melihatnya. Begitu menggemaskan. Ibunya sedag sibuk dengan benda pipih yang disebut handphone di tangannya, sedangkan gadis kecil tersebut sibuk dengan es krim yang belepotan di pipinya. Lagi-lagi aku tersenyum melihatnya. Aku mengambil tissue dari dalam saku hoodieku. Aku membersikan sisa-sisa es krim di mulut dan pipinya.

“Terima kasih, Kakak!” ucapnya dengan senyum mengembang.

Aku berdiri dari bangku tersebut, mengambil handphone dari dalam saku hoodie dan menggeser layarnya. Melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku melangkah pergi dan sempat melambaikan tangan pada gadis kecil yang menggemaskan tersebut. Setelah lumayan lama berjalan memutari taman, aku pergi ke salah satu minimarket terdekat. Aku memutari stan mencari apa yang bisaku makan di sini. Aku mengambil sebungkus mie dan air mineral lalu membayarnya. Setelah aku seduh mie tersebut dengan air panas, aku mengambil tempat duduk yang disediakan di tepi kaca pembatas minimarket tersebut.

Aku mulai memakan mie tersebut dan memandang keluar kaca pembatas di luar. Di salah satu bangku di luar yang disediakan minimarket tersebut duduk sepasang kekasih yang membelakangiku. Aku hanya tersenyum melihat mereka yang sedang tertawa dari dalam, mengingat masa lalu yang masih belum bisa aku lupakan.

Baca Juga :  Demonstran

Yaaa, mereka berdua mengingatkanku denganmu, By. Saat kita selesai pertandingan basket, kau mengajakku ke minimarket ini. Makan berdua sambil tertawa, melakukan hal-hal sepele dan tertawa. Pikiranku melayang jauh dimana saat kita masih bersama, By.

Duurtttt durtttt, aku dikejutkan oleh bunyi handphone di sampingku. Aku melihat tulisan “Kiki”. “Mengapa kau melamun disana? Mie didepanmu sudah dingin, jika kau tak mau, berikan padaku. Aku lapar!” ucapnya, lalu mematikan sambungan handphone.

Aku mencari-cari wujud Kiki, sampai mataku melihat seseorang yang sedang melambaikan tangannya padaku. Dia berada tepat di seberang jalan minimarket ini, tidak terlalu jauh sampai dia bisa melihatku.

Kau tahu, By. Dia Kiki, seorang laki-laki yang selalu membuatku tertawa. Dia akan selalu ada di saat aku membutuhkannya. Kau tahu, By? Dia pernah melamarku dan mengajakku untuk menikah, tapi aku tidak bisa. Bayanganmu masih setia bersamaku, aku tak sanggup jika menerimanya sedangkan aku masih sangat mencintaimu. Itu akan menyakitkannya.

Kiki berjalan mendekati minimarket, aku terus menatapnya. Dengan senyuman labar dan menampakkan deretan gigi putihnya terus berjalan, dan brukkkkkkk. Dia menabrak anak kecil yang berlari menuju minimarket ini. Aku langsung keluar mengejar anak kecil yang ditabrak Kiki yang sedang dipegangi Kiki saat ini. Aku melihat luka goresan di lengannya.

Baca Juga :  Find Me

“Coba kakak liat lukanya dek,” ucapku. Dia menoleh melihatku, dan ternyata, “Naura? Kenapa Naura sendiri? Mama Naura mana? Sini kakak obatkan dulu lukanya,” ucapku panik, mengmbil tissue Dri dalam kantong hodieku dan membersikan darah yang keluar dari lukanya.

“Nauraaa…” teriak seseorang dari arah belakang kami, aku dan Kiki kompak menoleh. Ternyata itu mama Naura dan ….

“Kamu tidak apa-apa, Nak? Maafin mama ya sayang, mana yang sakit?” ucap mama Naura panik.

“Maaf ya, mbak, saya tidak sengaja menabrak anak mbak,” sesal Kiki minta maaf. “Maafin kakak ya, dek, kakak nggak sengaja,” ucap Kiki sekarang beralih ke Naura.

“Iya Kak. Naura yang salah, Ma. Naura lari-lari nggak liat ke depan. Maafin Naura juga ya, Kak!” ucap Naura dengan mata yang berkaca-kaca, Kiki hanya mengangguk pelan.

“Papaaa,” Kiki, mama Naura menoleh ke arah laki-laki yang sedang berjalan mendekati kami, aku hanya diam melihat orang yang dipanggil papa oleh Naura.

Ternyata kau begitu dekat, By. Tapi masih tak bisa kugapai. Kau seperti bayangan, By, tak bisa kusentuh. Aku tidak akan menyesal pernah bertemu denganmu. Aku tak menyesal bisa menjalin hubungan yang indah meski akhirnya harus berpisah. Terima kasih karena pernah hadir di hidupku, dan membuat aku merasa menjadi wanita yang paling bahagia. Aku usahkan agar rasa ini berhenti, dan menghilang. Anakmu cantik dan menggemaskan, By.

Yeyen Santika adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *