Find Me

Cerpen Dirga Putri

Ilustrasi net

“Sebelum tidur, jangan lupa kunci pintunya rapat-rapat. Tutup jendela, dan pastikan tak seorang pun bisa mengintip dari balik gordenmu.”

Ruri Anala namaku, gadis yang baru saja beranjak dewasa. Ini kisahku kawan. Waktu itu, saat aku baru pertama kali memutuskan untuk tinggal berjauhan dari orang tuaku. Tanggal 11 September 2017, malam pertamaku tidur di kos baru dan besok aku memulai kehidupan baru sebagai mahasiswa. Sejak pagi aku terlalu sibuk membongkar kardus-kardus barang yang akan aku gunakan selama hidup sendiri, menata buku, membersihkan lantai dan dinding yang berhiaskan jaring laba-laba, merapikan lemari pakaian. Ah, sungguh pekerjaan yang melelahkan.

Tanpa terasa, hari telah berlalu, waktu terus melaju tanpa menoleh ke belakang. Padahal masih banyak yang harus aku benahi di kamar baruku ini, dan besok sudah masuk hari pertama kuliah. Tentu akan sangat sibuk di bulan pertama semester. Dan kini aku sudah lelah, benar-benar lelah.

“Untung saja sudah membersihkan tempat tidur.”

Gumamku sambil memperhatikan tempat tidur yang beralaskan seprai merah jambu, lengkap dengan bantal dan guling yang juga terbalut kain merah jambu. Tidak lupa, sebuah boneka merah pekat yang terbaring tenang di samping bantal kepala, boneka beruang ini yang selalu membuatku bermimpi indah disetiap malamku.

Kasurku terlihat sangat nyaman, jadi aku putuskan untuk merebahkan diri di atasnya. Aku meraih ponselku di atas meja di samping tempat tidurku. Ternyata ada sebuah pesan yang sejak tadi menunggu untuk dilihat oleh si pemilik ponsel.

“Sudah tidur? Jangan lupa kunci pintunya ya Ruri. Dan pastikan jendelamu tertutup rapat, hingga tak seorang pun bisa mengintip dari balik gordenmu.”

Ha? Apakah ini pesan dari ibu? Rasanya tak mungkin Bapak yang bahkan jarang berbicara padaku saat di rumah, mengirimi aku pesan seperti ini.
Ada yang aneh dengan pesan ini, mengapa Ibu mengirimiku pesan dengan nomor yang tak tersimpan olehku?

Baca Juga :  Dihantam Gelombang, Jembatan Buton Roboh

“Ah, sudahlah. Aku tidak bisa menghubunginya malam ini.”

Aku menatap jam wekerku, tepat pukul 23.00. Sudah waktunya untuk tertidur Ruri.

Kehidupan kampus yang sangat aku impikan akhirnya terjadi, hari-hariku pasti akan terasa sangat menyenangkan, mendebarkan, dan pasti seru. Aku pikir begitu.

Sudah malam selanjutnya. Rutinitasku setelah seharian menebar kepenatan adalah memandangi ponsel, atau sekedar mencari informasi tak penting namun menarik.

“Sudah tidur? Senang bisa berjumpa denganmu Ruri. Aku harap kita akan semakin dekat.”

Aku perhatikan sebuah pesan yang baru saja masuk. Aku tak membalas, karena memang aku tak pernah tertarik dengan nomor baru yang tak memperkenalkan dirinya dahulu.

“Mungkin seseorang di kampus.”
Kataku, dan mengakhiri malam ini dengan tidur nyenyak.
***

Ada yang aneh dengan ponselku, sudah sejak 5 hari yang lalu aku mendapatkan pesan dari nomor yang tak aku kenali. Dan isi pesannya terlihat mirip, diwaktu yang sama, hanya saja dari nomor yang berbeda-beda.

“Sudah tidur? Jangan terlalu fokus dengan tugasmu. Sudah saatnya untuk terlelap Ruri.”

Pesan itu aku dapatkan saat mengerjakan tugas pertama, hingga larut malam. Lalu esoknya…

“Sudah tidur? Jangan lupa hidupkan lilinmu. Dan pastikan untuk gunakan selimut saat kau tidur.” Malam itu hujan lebat, dan seluruh aliran listrik tak berjalan, lampu mati dan sungguh malam yang menakutkan.

Apakah ini adalah seseorang yang sedang bercanda denganku? Atau seorang penguntit yang diam-diam memperhatikanku selama ini? Ini tak berhenti dan terus berlanjut hingga malam itu…

Baca Juga :  Alhamdulillah, Hari Ini 521 Pasien Covid-19 di Riau Sembuh

“Ini benar-benar sangat menakutkan.”
Aku menutup diri dengan selimut dan sepenuhnya menatap layar ponselku yang baru saja menerima pesan lagi. Apa aku harus melaporkan hal ini kepada polisi?

“Sudah tidur? Jangan lupa kunci pintumu. Tutup jendelamu dan pastikan tak seorang pun dapat mengintip dari balik gordenmu. Ah jangan takut, aku akan segera pulang…”

Ahhhhh… tanpa sengaja aku melempar ponselku. Tubuhku terasa dingin, namun mengeluarkan keringat. Kini rumahku terasa akan roboh, seolah-oleh ada segerombolan orang yang menari di setiap dindingnya. Aku merinding, seluruh badanku bergetar, rasa takut telah mengambil alih diriku. Puncaknya…
Tok…tok…tok

Aku terperanjat dari posisi dudukku, kaget mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku terdiam, menanti suara setelah ketukan itu.

“Paket…”

Terdengar suara seorang pria muda, dari balik pintu.

“Ah, bikin kaget saja.”

Aku beranjak, bersiap menerima paket. Langkahku tiba-tiba terhenti sebelum aku menjauh dari tempat tidurku. Mataku bergetar, bulu kudukku terasa terhembus angin dingin nan lembut, jantungku berpacu lebih cepat dari putaran jarum jam. Jam dindingku menunjukan pukul 00.31, paket apa yang datang di tengah malam begini? Secepat angin yang berhembus, aku bersembunyi di balik selimut dengan segala macam Ayat Al-Qur’an yang melompat dari mulutku. Oh Tuhan, ini akan menjadi malam yang panjang.

Setelah aku mendengar suara adzan berkumandang, barulah terasa lebih tenang. Dan baru saja fajar menampakkan wujudnya, aku sudah berlari menuju rumah pemilik kosku. Aku menceritakan semua hal yang terjadi padaku beberapa hari ini pada Bu Lasmi, semua keanehan yang terjadi dan rasa ketakutanku ini, tak bisa aku menahannya bahkan untuk satu malam.

Baca Juga :  Ini Kronologis Baku Tembak Gembong Narkoba di Pekanbaru, Berikut Barang Bukti

“Ternyata begitu, maaf ya Ri, seharusnya Ibu ceritakan padamu sebelum kamu pindah ke kamar itu.”

Bu Lasmi memulai ceritanya, tentang kamar yang aku tempati, dan alasan kenapa aku satu-satunya penghuni bangunan yang memiliki 5 ruang kamar itu.

“Dulu, saat Ibu kecil, ada sebuah kejadian di bangunan itu. Seorang pemuda diduga bunuh diri karena tidak sanggup membayar uang kuliah dan tekanan yang dia terima dari teman-teman serta keluarganya. Sejak kejadian itu, kami menutup seluruh bangunan. Tapi karena rasanya sangat disayangkan bila bangunan itu terbengkalai, jadi Ibu merenovasinya dan menyewakannya kepada mahasiswa. Hal ini selalu terjadi kepada mahasiswa yang tinggal di sana, karena hal itulah tidak ada yang mau tinggal di sana dalam waktu yang lama.”
Setelah mendengar cerita itu, rasanya ingin kubanting gelas kaca yang sedang aku pegang ini. Sungguh jahat sang pemilik rumah, kenapa beliau baru menceritakan ini padaku setelah semua yang aku alami? Tentu saja aku langsung “melarikan diri” kawan, tak sanggup bila rasanya harus hidup bersama ketakutan ini. Aku putuskan untuk segera pindah, dan tinggal bersama teman sekelasku.
“Sebelum tidur, jangan lupa kunci pintumu, tutup jendelamu rapat-rapat dan pastikan tidak ada seorang pun yang bisa mengintip dari balik gordenmu. Bisa saja saat ini ‘ia’ sedang memperhatikanmu dari dalam lemari, atau dari bawah tempat tidurmu, atau dari langit-langit kamarmu.”
Malam ini kau tak sendiri.
~selesai~

Pekanbaru, 16 Desember 2020
01.50 WIB

Dirga Putri adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *