“Cahaya” Jefri al Malay

Jefri al Malay

Aku memandang, takjub dan girang bulu merak dalam Al Qur’an terpasang: Selamat datang di bentangan suci,
Sang khazanah tertinggi di jagat ini!
….
Dengan tawadhu boleh kubanggakan harum-mu, baru kau patut bagi Khazanah suci sang ilmu.

(Kitab Parabel dalam Satu dan Segalanya karya Johann Wolfgang von Goethe diterjemahkan oleh Berthold Damshäuser dan Agus R Sarjono).

Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) adalah seorang penyair, penulis prosa, dramawan, bahkan pelukis dan penemu. Goethe dianggap sebagai sastrawan terbesar Jerman. Terdapat lebih dari 10.000 karya tulisan, hampir 3.000 gambar yang dibuat Goethe dan masih tersimpan hingga saat ini. Berkat karya-karyanya, Goethe disebut sebagai salah satu seniman sastrawan Jerman yang pengaruhnya dapat dirasakan hingga seluruh Eropa bahkan dunia. Dalam proses kepengarangannya, Goethe lakukan bersungguh hati dengan bukti nyata adalah karya-karyanya. Meskipun Goethe pernah menjalani profesi sebagai pejabat Negara, bertugas sebagai Perdana Mentri dengan gelar kebangsawanan namun di sisa usianya, Goethe lebih “betah” menjadi
penulis.

Agak unik, karya-karya Goethe banyak yang bernuansa Islami, meskipun latar belakang keyakinannya diketahui adalah nonmuslim. Kecintaannya terhadap khazanah Islam tidak dapat dibantah. Ada banyak karyanya yang menunjukkan kedekatan dan keintimannya dengan
khazanah Islam. Ahli sastra sekaligus penerjemah karya-karya Goethe, Berthold Damshäuser, menyebut Goethe bersentuhan dengan khazanah Islam mula-mula melalui buku-buku puisi
sufistik yang terdapat di perpustakaan keluarganya. Dari sana pula minat Goethe terhadap Islam kian berkembang.

Perhatikan saja penggal sajak di atas, Goethe bahkan dengan jujur mengagungkan al Qur’an. Dalam baris sajak tersebut dapat pula dimaknai, Qur’an sebagai kitab suci menghadirkan
khazanah pengetahuan dan kedalaman, serta keindahan. Sehingga terang untuk diucapkan, Qur’an adalah kitab kehidupan, sumber cahaya dari segala cahaya yang terbentang keindahan
sejati di dalamnya. Terang ia menyala, dimanapun hendak “ditempatkan,” harum semerbak mewangi memenuhi kisi-kisi jagat ini. Sumber segala inspirasi dan kreatifitas. Cahaya dari segala cahaya nyatanya.

Baca Juga :  Kasus Korupsi UED SP Rp 1,8 Milyar Masuk ke Tahap Penyidikan, Sejumlah Nama Bakal Ditetapkan Sebagai Tersangka

Bercakap tentang keindahan tentu saja tidak dapat dilepaskan dari kaidah-kaidah seni. Karena seni merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia. Rasa indah itu pula yang ditranformasikan dalam bentuk dan ragam seni yang ada. Keindahan dalam perspektif seni, salah satunya merujuk pada keseimbangan. Secara harfiah, keseimbangan adalah kemampuan untuk bertahan, tetap stabil dan terkendali.

Menjadi hal yang sangat penting karena dengan keseimbangan memungkinkan kita untukberjalan dan berdiri tanpa terjatuh atau mengalami cedera. Begitu juga dalam fikir saya yang serba fakir ini, keseimbangan dalam seni menjadi penguat daya sampaian yang dihujahkan dalam bentuk karya sehingga fungsinya berjalan sempurna untuk kemaslahatan diri dan lainnya.

Produk-produk seni hendaknya memberi daya gugah tatkala ditebarkan dalam kehidupan dengan untaian atau simpulan-simpulan keindahan dan nilai keseimbangan tersebut. Maka tatkala seni, sejatinya memperbincangkan hidup dan kehidupan dengan caranya dalam
lingkaran estetika, alangkah moleknya kita berdekat-dekat dan berakrab-akrab dengan Al Quran. Melakukan dialektika, percakapan intelektual karena telah nyata terbukti dalam sejarah panjang
perjalanannya.

Disebutkan Abdul Halim Mahmud, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Syafii
Maarif, mengatakan bahwa Al-Quran yang dahulunya telah mempersatukan suku-suku, menghimpun yang berserakan, mempertemukan hati, mengokohkan sendi-sendi peradaban, dan telah membawa umat mencapai puncak kemajuannya. (Agama, Kebudayaan dan Pembangunan:1990).
Bahkan disebabkan spirit dan dorongan serta petunjuk Al-Quranlah umat Islam pada masa klasik untuk beberapa abad menjadi umat yang kreatif, dinamik, terbuka, dan punya rasa percaya diri yang tinggi.

Melalui modal tersebut, umat Islam tidak merasa canggung untuk bergumul dengan peradaban lainnya, seperti Yunani, Persi, India, dan kemudian Turki. Pergumulan kreatif ini kemudian berhasil membuahkan suatu identitas diri dan suatu peradaban yang khas Islam yang
kosmopolitan. Sehingga menjadi pantas kemudian Goethe menyebutkan dalam sajaknya,
…//baru Kau patut bagi Khazanah suci sang ilmu//.

Sebagai sumber ilmu, daya gugah yang terpancar di dalam kandungan Al Quran “bekerja” dalam porsi yang tentu saja melampaui proses seni tatkala menyapa khalayak. Hal itu terbukti,
bagaimana keagungan sastrawi yang ditunjukkan Al Quran menggugah tokoh Jahiliyah. Betapa banyak tokoh dari kalangan Jahiliyah yang mengakui keagungan bahasa sastrawi Al-Qur’an. Dan tidak sedikit pula di antara mereka kemudian masuk Islam karena daya kekuatan bahasa Al- Qur’an yang begitu sangat memikat dan indah. Sebagai salah satu contoh, masuknya Umar bin Khattab ke dalam Islam merupakan cerita yang amat termasyhur dalam sejarah keislaman para sahabat Nabi Saw. Suatu ketika, tatkala Umar dalam kondisi penuh amarah dan benci, menghunus pedang, pergi hendak berjumpa Rasulullah, hendak melakukan protes atas risalah yang dibawa Baginda Nabi. Namun langkahnya terhenti karena mendapatkan kabar dari Nuaim bin Abdullah al-Adawi yang melaporkan bahwa adik
perempuan dan iparnya telah memeluk Islam. Umar pun berbalik arah menuju rumah adiknya. Ketika sampai di rumah adiknya, dengan rasa marah yang semakin memuncak, Umar mendengar
sang adik sedang membaca ayat Al-Qur’an (surat Thaha).

Baca Juga :  Silaturrahmi dengan Pj Bupati Bengkalis, BAK LIPUN Dukung Rencana Penataan Mobdin

Mendengar bacaan ayat Al-Qur’an itu, Umar pun luluh hatinya. Dan meminta untuk dipertemukan dengan Rasulullah saw, hingga akhirnya masuk Islam.
Mengutip riwayat lainnya, seorang tokoh Jahiliyah, seorang maestro sastrawan ketika itu, Thufail bin Amr al-Duwaisi. Tatkala berkunjung ke Makkah, ia mendapat laporan dari para petinggi Makkah tentang dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Dengan penuh penasaran,
Thufail meminta dipertemukan dengan Rasulullah SAW. Singkat cerita, Thufail pun bertemu dengan Rasulullah. Sungguh di luar dugaan, setelah mendapat penjelasan dari Rasulullah,Thufail pun merespon wahyu seraya berkata: “Tidak, demi Tuhan aku tidak pernah mendengar
bahasa (qaul) yang seindah dengan ini (Al-Qur’an). ”Akhirnya Thufail menyatakan diri masuk Islam. Daya gugah seperti inilah yang dimaksudkan sebagai cahaya. Terang ia pabila “melekat” dalam diri. Kehendak untuk “mendatangi”nya mesti dinyalakan senantiasa karena sumber cahaya yang ada di dalam kandungannya, tak kering dan tak lekang oleh waktu. Sajak Goethe di atas, setidaknya merefleksikan daya gugah yang telah dirasakannya.

Baca Juga :  Saat Rumahnya Terbakar, Warga Pekanbaru Ini Pergi Lebaran

Diibaratkan melangkah, dengan melewati setapak demi setapak, seayun demi seayun, proses kreatif yang dilewatinya membawa dirinya mendekat dan melekat dengan khazanah keislaman. Pada akhirnya, beliau melakukan “pergulatan” intim dengan Islam, pergulatan intelektual dan keintiman batin seorang pencinta dan pujangga yang memiliki komitmen tinggi pada apa yang membuatnya tertarik dan jatuh hati.

Coba simak sajaknya yang berikut ini, “Apakah Al Quran abadi?/ Itu tak kupertanyakan!/Apakah Al Quran ciptaan?/ Itu tak kutahu!/ Bahwa ia kitab segala kitab, sebagai muslim wajib kupercaya.”(Goethe, Das Schenkenbuch).
Begitulah agungnya Al Qur’an. Sumbu dari segala cahaya dalam kehidupan. Alunan seni irama yang beragam menentramkan jiwa. Seperti yang disampaikan Syauqi Dlaif, Al Qur’an menyerupai bahr (samudera), bunyi deburan ombak yang selalu memberikan efek ketentraman meskipun tidak mengerti akan maknanya. Al Qur’an juga diibaratkan yakut (berlian), dipandang dari sudut manapun, kesan yang didapat tetap sama, indah berpendar cahaya. Serupa jua dengan maidaturrahman (hidangan lezat), ada gizi bathin yang terkandung, kiranya tak cukup hanya
untuk dihidu aromanya melainkan wajib disantap dengan penuh kerelaan dan keikhlasan.

Mengutip apa yang pernah disampaikan seorang peneliti tentang kedekatan Goethe dengan Islam, Drs Nurman Kholis, M. Hum, peneliti muda Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang Departemen Agama. Bahwa terkait dengan Al Qur’an Goethe pernah menulis ”Tak bakal seorang pun ragu tentang kebesaran efisiensi Kitab ini. Itu sebabnya ia dinyatakan sebagai bukan sebuah ciptaan oleh para pendukungnya…Kitab ini akan abadi ampuh selamanya.” Wallahualam.

Demikian kalam diuntai
Tanda si fakir sangat berkurang Pikir dikemas jauhkan cuai
Baca dimulai berulang-ulang

Jefri al Malay
Penulis, dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *