Raya, Mudik dan Tanjak, Oleh: Jefri al Malay

Jefri al Malay.

Ranum hari di penghujung Syawal
Langkah diarah tuju kemulian
Tahap demi tahap mesti dirapal
Agar berbekas ke hari depan

Tulisan ini hendak dirangkai dari secebis pengamatan dari yang fakir atau juga tentang sesuatu yang dirasakan, terpikirkan dari sisa Syawal, bulan penuh kemenangan. Setidaknya, bagi penulis setiap yang ditapak, mesti ada yang membekas. Begitu juga dengan apa yang telah kita lewati sebulan penuh di bulan Ramadan hingga sampai ke penghujung Syawal.

Memang ada banyak peristiwa yang terjadi, fenomena dan polemik yang begitu meresahkan. Mulai dari corona yang tak berkesudahan, persitiwa menyedihkan bagi saudara kita di Pelestina hingga sampai keberangkatan ibadah haji tahun ini, yang baru saja dibatalkan oleh pemerintah. Namun sungguh pun demikian, di antara pusaran permasaalahan yang tak kunjung reda, tentu saja hal itu tidak mesti membuat kita berputus asa, semua yang terjadi sebaiknya menjadi iktibar. Terus berupaya semampu bisa untuk tetap melajutkan apa yang mesti dilakukan.

Tanpa bermaksud tidak mengindahkan hal di atas, yang kesemuanya sudah banyak dibahas oleh orang yang memang berkompetensi membincangkannya, maka saya hanya memilih untuk
memaparkan tiga perkara spesifik yang menurut hemat saya perlu juga untuk dipercakapkan, khusus di penghujung Syawal tahun ini.

Raya, mudik dan tanjak. Tiga hal ini walaupun secara harfiah berbeda konteks tetapi mengandung kesamaan dalam pemahaman saya. Ada kesamaan momen dan energi di dalamnya
sehingga akhirnya dapat dinyatakan sebagai sesuatu yang melekat di dalam diri, sulit untuk dilepaskan. Apalagi untuk dicegah, rasanya akan sama sulitnya.

Tetapi meskipun demikian, hal di atas tentulah tidak berlaku umum. Artinya tidak serta merta ianya dirasakan persis seperti yang disampaikan di atas tadi. Dengan kata lain, ada “jalan” yang
menghantarkan hal itu sehingga sampai kepada apa yang dimaksud dengan kesamaan yang saya maksudkan.

Makna raya dalam hal ini Idul Fitri akan sampai hakikatnya apabila seseorang melaksanakan serangkaian ibadah di bulan Ramadan dengan segenap kesadaran diri sebagai makhluk ciptaanNYA. Mudik akan terasa maknanya, apabila seseorang memiliki kampung kelahiran untuk “diziarahi” dengan segala “kekayaan” kenang, yang mampu membangkitkan gairahnya, menyusuri kelengkapan diri yang barangkali saja lama tidak disingkap karena berada di rantauan. Sedangkan tanjak, yang merupakan bagian dari berpakaian orang Melayu, akan terasa sanggam untuk dikenakan pada momennya (dalam hal ini di hari raya), apabila ada pengetahuan yang menyertainya, ada upaya menoleh kedalaman tentang khazanah yang memang diwariskan sejak dahulu. Inilah masing-masing “jalan” yang saya maksudkan itu.

Ketiga hal ini kemudian, dapat ditelisik memiliki kesamaan energi tentang adanya proses kembali. Kembali yang saya maksudkan bukan pada proses pengulangan pada hal yang serupa
dan begitu-begitu saja. Melainkan ada kekuatan di dalamnya yang sungguh tidak bisa untuk dinafikan karena secara hakikatnya manusia akan tidak mampu dan tak berdaya untuk menolaknya apabila berhadapan dengan momen “kembali” alias balik ke tempat atau ke keadaan semula.

Baca Juga :  Ini Ultimatum Zulkifli Hasan untuk Menangkan Syam-Edy

Misalnya, bagaimana bisa, sejatinya seorang hamba tidak punya keinginan kembali suci dari serangkaian dosa yang telah diperbuat. Bagaimana mungkin seseorang tidak berkehendak untuk
kembali ke kampung halaman setelah lama di perantauan dan bagaimana tidak naifnya, jika seseorang menolak untuk kembali menjengah apa yang telah diwariskan kepadanya sejak zaman
berzaman untuk dipopulerkan kembali setelah lama ditelan “kegaduhan” zaman.

Berikut akan saya coba untuk memerincikan ketiga hal di atas sebagai dasar pemikiran saya yang fakir ini. Pertama, raya (idul fitri) umumnya dipahami sebagai kembali ke kesucian, atau suci kembali. Sebagaimana yang dijelaskan Ahmad Jauhari dalam atikelnya berjudul ” Peristiwa Idul
Fitri, Meniti Jalan ke dalam Diri.”

Makna ‘idul fitri, bukanlah hanya perkara perayaan pesta-pora, baju baru, kunjungan ke sanak-saudara, tempat wisata, dan hal klise lainnya tetapi hendaknya dijadikan sebagai wahana meningkatkan ketaqwaan. Dan hal ini sejalan dengan sebuah syair Arab yang menyebutkan, “bukanlah disebut idul fitri itu yang berbaju fenomenal, melainkan yang disebut idul fitri itu yang kepatuhannya senantiasa actual.” Lebih jauh dijelaskan, dalam kata ‘idul (Arab) terkandung
tiga makna, yakni; kembali, mengulangi, dan mengunjungi. Sedangkan istilah fitri (Arab) mencangkup tiga ungkapan makna yakni, merobek, membelah, dan tumbuh.

Secara singkat dapat dijelaskan, kandungan makna dari pernyataan di atas adalah bagaimana kemudian seorang hamba harus kembali merobek keakuan dan keegoan (sumber utama atau akar segala dosa) dari kembali ke hakikatnya sebagai hamba, kembali ke awal saat pertama diciptakan
bersih dan suci. Mengulangi proses pembelahan keakuan yang akan membangkitkan kesadaran bahwa seluruh jiwa manusia berasal dari dan akan kembali kepada-Nya. Sedangkan pada makna mengunjungi dan tumbuh dipahamkan pada momen hari raya untuk mengunjungi dan berlayar di alam keluasan, ketidakterbatasan yang dariNYAlah roh manusia berasal, tinggalkan urusan kepentingan diri yang kadangkala terlena dalam kesempitan jiwa. Sehingga dari semua yang dipahamkan, manusia di momen hari raya ini kembali menjumpai ke-‘idul fitri-an secara kontinu dan terawat hingga idul fitri tahun berikutnya.

Perkara berikutnya adalah mudik lebaran. Meski sebenarnya saya pribadi kurang pas untuk menggunakan kata ini karena di kampung saya lebih cendrung orang menggunakan balik raya atau balik kampung. Tetapi terlepas dari hal itu, yang hendak dipercakapkan adalah momen dan energi yang melekat di dalamnya.

Begitu kuatnya hasrat masyarakat di perantuan untuk mudik lebaran, dapat kita saksikan di berbagai tayangan dan berita di media. Seboleh akal dan berbagai cara ditempuh, walau kemudian harus menerima berbagai resiko, disuruh putar balik, dicegat petugas dan lainsebagainya. Hal itu terjadi bukan karena tidak patuh pada pemerintah atau tidak takut dengan corona tetapi memang ada panggilan kembali yang tak dapat dan tak berdaya untuk dielak.

Baca Juga :  Provinsi-provinsi di Kerajaan Siak

Kembali ke pangkuan orang tua, bersimpuh memohon ampun, bertemu sanak saudara, bercengkerama dan bergurau senda, bertemu sahabat handai dan taulan, berbagi cerita suka dan duka, di momen stahun sekali, di bulan penuh kemaafan dan kemuliaan. Di situlah titik tumpu kekuatan panggilan untuk kembali tersebut yang tentu saja tidak dapat diwakilkan hanya dengan
menggunakan kecanggihan teknologi informasi seperti video call dan aplikasi yang serupa dengannya.

Untuk kes yang satu ini, terutama di masa pandemi ini, kita sadari bersama tentu menjadi persoalan yang tidak mudah bagi kita semua, mulai dari pemerintah mengambil kebijakan sampailah kepada masyarakat yang juga akhirnya merasa dilema. Tetapi sekali lagi saya tidak sedang menggaduhkan hal itu tetapi fokus pada daya atau kekuatan “kembali” dari prihal balik raya alias mudik lebaran.

Ketiga adalah tanjak. Sebagaimana yang tersiar di berbagai jaringan media sosial, di momen raya tahun ini, ada seruan untuk bertanjak di raya.pertama. Kehendak ini didengungkan oleh berbagai komunitas pecinta tanjak dan pakaian warisan Melayu di negeri serantau Melayu. Tak tanggung-tanggung, kehendak itu disambut oleh berbagai negeri, bahkan beberapa komunitas di Riau merayakannya dengan mengadakan perlombaan berpakaian Melayu (bertanjak) di hari raya pertama. Wal hasil, bertebaranlah foto dan video bertanjak di hari raya pertama dengan beragam bentuk dan gaya. Hal ini dirasakan meriah, dengan spirit, energi dan kesadaran yang sama. Dari tiga serangkaian momen di atas, dalam pengamatan saya, ada upaya yang tegak berpancang digaungkan secara serentak dalam momen yang sama-sama yakni momen “kembali”, kembali fitri, balik ke kampung, dan kembali menguatkan jati diri. Hal inilah yang digambarkan dalambidal Melayu, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. demikianlah poin kesamaan atas ketiga momen yang saya maksudkan sejak awal tulisan. Secara harfiah, ketiga hal yang menjadi percakapan dalam tulisan ini berbeda tentunya, tapi ada daya yang sama melekat diantara ketiganya dalam konteks yang berbeda.

Tetapi terlepas dari hal di atas, dalam hal bertanjak, perlu juga rasanya disampaikan, tidak serta merta mesti dirasakan atau dipaksakan pada semua. Ini berlaku bagi sesiapa yang ada kecintaan mengenakannya. Karena memang kemudian didapati kabar ada juga orang lain yang bercakap
tepi alias nyinyir. Seperti misalnya menyebutkan gerakan berpakaian Melayu di raya pertama bagaikan berpakaian tak mengikut zaman.

Baca Juga :  “Cahaya” Jefri al Malay

Pernyataan di atas tentu tak ada salahnya, begitulah dinamika pemikiran dan pemahaman di era serba terdedah ini. Karena mengutip seorang filsuf Jerman Hans Georg Gadamer mengatakan bahwa “kesalahpahaman bermula dari kesepahaman. Jadi, problem utama penafsiran terhadap realitas bukan pada kesalahpahaman, melainkan pada kesepahaman”. Jadi, bisa jadi, orang yang bercakap tepi tersebut tidak dalam kesepahaman yang sama.

Oleh karenanya, menurut saya yang fakir ini, perlu dijelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Jadi gerakan bertanjak ataupun berpakaian Melayu yang didengungkan para pecinta tanjak bukanlah semata-mata nak bergaya dan berlagak, bukan pula bermaksud hendak kembali ke
masa-masa dahulunya tetapi inilah bentuk penghargaan kita hari ini atas kreatifitas datuk nenek moyang kita dahulu, dengan cara mempopulerkan kembali yang selama ini bisa saja tenggelam dilantak deru globalisasi, merasa bangga kita dengan apa yang kita miliki yang sesungguhnya secara makna dan filosfi, tidaklah kalah dengan apa yang ada di luar sana.

Gerakan bertanjak ini juga sebagai upaya menunjukkan eksistensi diri dalam menjaga apa yang menjadi khazanah budaya yang pernah kita miliki. Sehingga dengan demikian, secara tidak
langsung menumbuhkan kesadaran betapa di negara Repbulik kita tercinta ini, terdapat kekayaan dan keberagaman khazanah budayanya, kesadaran itu diaktualisasikan dengan mengenakan salah satu produk budaya Melayu yaitu bertanjak dan berpakaian Melayu. Bagi saudara-saudara kami yang berada di daerah lain, silakan pula memperkenalkan khazanah budaya berpakaian sesuai dengan budaya masing-masing. Atau bahkan bagi sesiapa saja yang tidak terlalu ambil berat tentang kebudayaan, silakan saja berpakaian sesuai dengan seleranya, mau berpakaian ala eropakah, koreakah atau lainnya. Silakan saja, tidak ada yang melarang. Tetapi bagi kami, zaman boleh modern, pemikiran boleh mengglobal tapi jati diri tetap harus dikekalkan, salah satu caranya dengan bertanjak dan berpakaian Melayu, meski tidak dalam setiap momen. Clear bro…! hehehe

Sebagai penutup, di penghujung Syawal ini kembali saya ucapkan mohan maaf zahir dan bathin. Mari berhari raya, berupaya sekuat tenaga untuk kembali fitri setelah setahun diserbu godaan dan cobaan dunia. Mari kembali alias mudik setelah berlama-lama di perantauan, dibelenggu oleh kesibukan dan kepentingan akan kebutuhan hidup, dan mari bertanjak, berpakaian Melayu
setelah terperangkap dan disergap arus globalisasi untuk kembali tetap mengekalkan jati diri. Wallauahalam

Demikian kalam diukir
Sebagai tanda diri yang fakir
Kiranya kurang, persislah hamba
Hanya Yang Maha segala Kuasa.

Jefri al Malay
Sastrawan Riau. Saat ini, mengabdi sebagai Tenaga pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Program Studi Sastra Melayu di Universitas Lancang Kuning.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *