Sang “Pencari” Sejati (Lagi-lagi Sutardji) Oleh: Jefri al Malay

Jefri al Malay.

Aku nak tardji
Tak nak presidennya
Aku nak tardji
Tak nak penyairnya
Aku nak tardji
Tak nak sajaknya
Aku nak tardji
Aku nak kan yang dicarinya.

Tajuk tulisan yang saya pilih sekali ini “lagi-lagi Sutardji”. Pilihan ini didasarkan pada kenyataan bahwa sungguh ada banyak hal yang dapat dipercakapkan terkait dengan Presiden Penyair satu ini. Terlebih lagi setelah membaca buku yang ditulis Sastrawan Budayawan Taufik Ikram Jamil bertajuk Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Biografi Kesaksian.

Buku ini baru saja diluncurkan Kamis (24/6) lalu di Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru bersempena hari lahir Sutardji yang ke-80 tahun. Hajatan ini kemudian dikemas oleh Dewan Kesenian Riau (DKR) dalam perheletan yang cukup semarak diberi tajuk besar Festival Sutardji Calzoum Bachri Tahun 2021.

Dari rangkaian acara yang disajikan, paling tidak menurut pengamatan saya, sudah membuktikan ada banyak hal yang dapat dipercakapkan tentang Sutardji Calzoum Bachri. Mulai dari percakapan kreatif dari para seniman dan seniwati pengisi acara, menterjemahkan puisi Sutardji ke dalam seni pertunjukan, tari, teaterikal dan musik. Semuanya tampak sanggam ditampilkan, sajak Sutardji yang ditafsirkan seolah-olah menyerbuk, berterbangan, mendatangi setiap penikmat yang memang berniat untuk mencari.

Momen menarik lainnya, pada prosesi peluncuran buku Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Biografi Kesaksian karya Taufik Ikram Jamil, dimulai dengan mengarak-arakkan cover buku dari balkon menuju ke pentas atau panggung. Peristiwa ini mengingatkan kita pada catatan yang termaktub di dalam Sulalatus Salatin, disebutkan pada masa kerajaan Melaka, selalu dilakukan arak-arakkan buku atau surat-surat Raja dari pelabuhan menuju ke istana Kerajaan Melaka. Terkandung pesan di dalamnya, betapa orang-orang Melayu sangat menghargai literasi sejak dahulu. Meletakkan martabat kerja kepenulisan dan ilmu pengetahuan pada tempat yang sepadan. Bahkan, dalam matlamat pengkaryaan Sutardji di dunia kepenyairan, disebutkan Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri Al Azhar, dalam elu-eluannya di helat Festival Sutadrji
Calzoum Bachri itu, menyatakan bahwa sudah sepantasnya, jejaring kajian dan
kritik sastra dunia mempertimbangkan Sutardji Calzoum Bachri (SCB) sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra.

Diantara berjela-jela panjangnya apabila mempercakapkan SCB, yang bahkan dalam pengakuan Taufik Ikram Jamil sebagai penulis buku Biografi Kesaksian Sutardji, menyebutkan ada satu perasaan darinya tatkala selesai menulis buku tersebut, justru dirasakan baru mengawali sesuatu yang harus diteruskan oleh sesiapa saja. Pasalnya, areal dan proses kepenyairan Sutardji begitu dalam dan luas. Namun demikian, bagi saya selaku pembaca buku yang berjumlah 466 halaman
itu, Taufik Ikram Jamil telah menyelesaikan “pencariannya” tentang siapa dan apa serta bagaimana proses kreatif kepenyairan SCB dalam bentangan khazanah sastra Indonesia bahkan
Internasional.

Baca Juga :  Sutardji Calzoum Bachri: Puisi Adalah Nikmat

Sementara saya dalam kesempatan ini hendak mempercakapkan tentang pernyataan SCB dalam penggalan video yang diputar pada malam puncak perayaan Festival Sutardji. Katanya puisi
adalah upaya penyair untuk menemukan makna-makna yang tersimpan di kehidupan dunia ini. Ada begitu beselerak khazanah yang tersimpan, tersembunyi, dan tugas penyair mencari dan
menemukannya.

Konsistensi pernyataan itu, tergambar jelas dari kredo SCB yang kedua, diantaranya menyebutkan “di dunia, makna dan keindahan yang bersifat kesesaatan, gambling dan mudah didapat, namun puisi dengan keindahan makna yang dalam hakekat, harus dicari. Penyair lewat kodrat dan gairahnya terpanggil untuk mencari dan menuliskan keindahan dan makna yang
ditemukanya sebagai suatu bagian dari puisi yang tersembunyi, yang membukakan diri kepadanya (penyair).

Hal di atas, dalam telaah saya yang serba terbatas, hendak menyatakan bahwa SCB telah mengekalkan dirinya sebagai “Sang Pencari”. Pencarian yang berkepanjangan tentang sesuatu yang hakekat. Pencarian yang dipilihnya sebagai upaya penyempurnaan tugas manusia sebagai
hamba. Dari upaya pencarian, menemukan kemudian bersaksi atas apa yang ditemukan. Temuan-temuan itulah menjelma menjadi puisi. Temuan-temuan dari khazanah yang tersimpan, tidak berhingga jumlahnya adalah sesuatu, adalah tujuan yang hakiki.

Lalu, apakah akan selesai tugas itu? Menurut saya tidak, selama hanyat masih dikandung badan. Pasalnya, sejalan dengan apa yang diutarakan SCB, bukankah manusia dalam melengkapi perjalanan hidupnya, aktivitas mencari adalah lumrah dan keniscayaan, sebut saja misalnya, mencari rejeki, mencari jodoh, mencari ilmu, mencari amal, dan lain sebagainya dengan segala aktivitas yang terkait dengan pencarian di dalam hidup.

Tetapi SCB sebagai sang pencari sejati, dalam bentangan kepenyairannya berupaya tiada henti mencari nama-nama, makna-makna yang tersembunyi atau belum terketemukan. Karena
baginya, yang tersimpan dan terkandung dalam khazanah tersembunyi, puisi juga ingin dikenal, maka disukakan pada para penyair untuk mencari, menemukan, mengenal, serta menuliskan untuk orang lain akan keindahan atau kesaksian yang ditemukan. Dalam dirinya (SCB), terasa seakan ada desakan atau perintah “uktub!”

Mari cuba kita simak beberapa penggal puisi SCB yang menyiratkan kesan dan makna dari sebuah pencarian. Puisi bertajuk “Puake”. …// kau jadi sia // sia jadi aku // aku jadi siape //siape jadi aku //. Pada dua baris terakhir, dalam tafsir yang paling sederhana mengisyaratkan pencarian yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan tentang pencarian jati diri. Bertanya kepadadirikah atau sesiapa tentang diri. Tentu pertanyaan serupa ini hadir karena didahului aktvitas mencari-cari.

Baca Juga :  Pemkab Siak Raih Penghargaan Natamukti Ketiga dari ICSB Indonesia City Awards 2019

Pada puisi SCB lainnya, “Amuk”…// kusangat inginNYA kujumpa ogahNYA // kumau Dianya kutemu jejakNYA //. Penggalan sajak ini juga mengejewantahkan upaya pencarian menurut saya. Ada sebuah keingian yang disertai pencarian, lalu terjumpa sesuatu walau tak sampai. Di baris berikutnya, ada kehendak atau kemauan akan “sesuatu”, setelah dicari yang ditemukan cuma
jejak.

Di beberapa puisi SCB yang bahkan tidak termaktub dan ditemukan di dalam buku kumpulan sajaknya pun, dapat ditemui kesan dan makna “pencarian”. Misalnya puisi bertajuk “Tulisan Pada Makam”. // Aku ngembara // di luar kota benci di luar kota sayang//… // …aku ngembara // jauh sekaligus dekat sekali //. Terang dapat ditafsirkan sebuah pengembaraan tentu saja tersemat aktivitas pencarian di dalamnya. Bahkan bagian baris terakhir dipilih diksi jauh dan
dekat, yang dapat kita tangkap upaya pencarian yang tak pernah mengenal jarak.

Sebuah puisi lainnya yang juga tidak dijumpai dalam kumpulan puisi SCB bertajuk “Rambut”…// Rambut masih terlentang di ranjang // mana dagingku // mana tulangku // mana darahku //mana kepalaku // mana //. Pilihan diksi “mana” tentu saja diucapkan tatkala ada aktivitas mencari sebelumnya atau seturut ketika kata itu diucapkan.

Atau mari kita lihat penggal puisi yang paling populer bertajuk ”Kucing”. // … berapa abad dia mencari mencakar menunggu tuhan mencipta kucingku tanpa mauku dan sekarang dia meraung
mencariMu// …// Dia meraung dia mengerang hei berapa tuhan yang kalian punya beri aku satu sekedar pemuas kucingku hari ini ngiau huss puss…// . Mengutip analisa Taufik Ikram Jamil dalam buku “Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Biografi Kesaksian”. Puisi Kucing memperlihatkan bahwa ketergantungan manusia kepada Yang Maha Tinggi sama tuanya dengan keberadaan manusia. Manusia terus mencari Yang Maha Tinggi itu. Mereka menemukan sekaligus membuktikan adanya Yang Maha Tinggi itu, tetapi terus mencari bukti lain.

Saya yakin, ada banyak puisi SCB lainnya yang kemudian memperkuat konsistensinya pada aktivitas pencarian sebagaimana beliau senantiasa mengatakan demikianlah tugas para penyair, mencari dan menemukan kahzanah yang tersembunyi, yang tiada berhingga jumlahnya di muka
bumi.

Dalam helat “Simposium Sutardji Calzoum Bachri” yang ditaja FIB Unilak, Kyai Haji Mustafa Bisri sebagai salah seorang pemateri menilai kredo kedua SCB merupakan ujung dari pencariannya sejak kredo yang pertama. Pasalnya, menurut budayawan Indonesia yang sering disapa Gus Mus itu, ada yang menarik dari kredo SCB yang kedua adalah dengan adanya pernyataan tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha kecuali. Dari sinilah dasarnya, Gus Mus menilai kalaupun tidak sampai pencariannya (SCB) di kredo yang kedua ini, sekurang-kuragnya, sudah hampir sampai. Bahkan diujung pernyataanya itu, Gus Mus juga mengakui kalau sebelumnya gelar Presiden Penyair yang melekat pada diri SCB menurut sebagian orang adalah pengakuan dari diri SCB sendiri, tetapi dengan keberadaan kredo yang kedua SCB, dengan tegas Gus Mus mengakui bahwa Sutardji Calzoum Bachri adalah Presiden Penyair Indonesia yang
sesungguhnya.

Baca Juga :  Kebakaran di Telukbelitung, 2 Mobil Bawa Alat Pemadam Kebakaran

Demikian tulisan ini dirangkai dari jari-jemari yang serba kekurangan. Tetapi paling tidak, bagi saya, ini juga termasuk dalam upaya pencarian bagi saya untuk mengutip bukti-bukti dan data-data atas proses kreatif dari diri SCB melalui serangkaian helat yang diberi tajuk Festival
Sutardji Calzoum Bachri. Tentu saja, tulisan ini tidak memadai, hanya seujung kuku bila dibandingkan dengan kerja keras yang telah dilakukan Taufik Ikram Jamil dalam menyelesaikan buku yang sangat bermanfaat bagi perkembangan sastra di Indonesia, “Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Biografi Kesaksian”. Bagi saya, apa yang dilakukan, dan dihasilkan dari buku karya Taufik Ikram Jamil, salah seorang sastrawan kebanggaan masyarakat Riau ini, juga memanifestasikan upaya pencarian yang dimaksudkan oleh presiden penyair, Sutardji Calzoum Bachri. Dan terlebih penting dari itu, serangkaian helat yang digagas oleh beliau, mulai dari penulisan buku, festival, peluncuran, dan hal lainnya terkait dengan SCB adalah sebagai pembuktian dan penegasan bahwa memuliakan seseorang atas jasa dan perjuangan (seniman khususnya) yang telah dilakukan, tidak mesti menunggu seseorang itu pergi meninggalkan dunia terlebih dahulu sebagaimana lazimnya yang sering kita temukan. Mengutip apa yang dikatakan Taufik Ikram Jamil dalam sembang menjelang hari H-2 Festival SCB, kira-kira disebutkan memuliakan orang lain adalah ibadah, sebagaimana nantinya kita juga akan memperoleh “kemuliaan” itu kembali dari tangan-tangan dan waktu yang lain pula. Wallahualam.

Demikian fikir dirangkai
Belumlah kiranya sampai
Karena hamba teramat abai
KepadaNya, kita melambai.

Jefri al Malay
Sastrawan Riau. Saat ini, mengabdi sebagai Tenaga pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Program Studi Sastra Melayu di Universitas Lancang Kuning.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *