Setelah Muswil BKMT Kepri Dibubarkan, Ini yang Dilakukan Panitia

Suasana depan Aula Wan Seri Beni Kantor Gubernur Kepri setelah Muswil BKMT dibubarkan Tim Satgas Covid-19

RiauKepri.com, Batam — Dugaan keberpihakan Panitia Musyawarah Wilayah (Muswil) Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) II Provinsi Kepulauan Riau terhadap calon tertentu semakin kuat dengan melabrak ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam organisasi tersebut. Mereka juga mengabaikan pandangan pengurus pusat BKMT setelah Muswil dibubarkan Tim Satgas Covid-19.

Keterangan yang berhasil dirangkum media online ini menyebut, berbagai tindakan panitia berindikasi kuat sebagai upaya untuk mengegolkan salah seorang calon, yakni Dewi Kumalasari, isteri Gubernur Kepri Ansar Ahmad, sebagai Ketua BKMT Kepri periode 5 tahun ke depan. Dewi diperkirakan akan kalah melawan kandidat lainnya, Hj Marlin Agustin, yang juga Wakil Gubernur Kepri, jika Muswil berjalan sesuai AD/ART.

Ansar juga berupaya untuk mengegolkan isterinya. Dugaan itu diperkuat dengan beredarnya rekaman sambutan sang Gubernur di hadapan pengurus BKMT dari sejumlah kabupaten/kota, yang antara lain menawarkan isterinya untuk dipilih dengan iming-iming keberpihakan APBD terhadap organisasi tersebut dan jalan-jalan ke Lagoi.

“Ngeri kali, berkuasa kali Pak Gub ni,” komentar Sekretaris Wilayah LSM LIRA Kepri, Mahayuddin, dalam bincang-bincangnya dengan media ini. Ia mengaku mendapat kiriman rekaman sambutan Ansar di hadapan sejumlah peserta Muswil, minus yang tidak mendukung isterinya Dewi Kumalasari. Rekaman fasilitas WA itu terbagi dalam beberapa potongan.

Baca Juga :  Bangkit Bersatu Menuju Kejayaan di Pentas Global

Seperti ramai diberitakan, Muswil II BKMT Kepri, yang semula dijadwalkan Kamis (08/07) di Aula Wan Seri Beni Kantor Gubernur Dompak, Tanjungpinang, dibubarkan Tim Satgas Covid-19. Meski begitu panitia berusaha agar Muswil tetap dilaksanakan pada hari itu juga tetapi di tempat lain dengan cara main kucing-kucingan.

Sempat juga Muswil mau dilaksanakan di Hotel Sempurna Jaya secara vertual, tetapi tak pernah dimulai, sampai akhirnya panitia dan peserta menghilang. Informasi yang diperoleh, panitia membawa peserta secara diam-diam ke Pantai Madu Tiga Bintan dan meninggalkan utusan daerah yang secara terang-terangan tak mau mendukung Dewi Kumalasari.

Bukan main. Panitia diduga berupaya kuat untuk menjadikan Dewi Kumalasari terpilih secara aklamasi sebagai Ketua BKMT Kepri dengan meminta tanda tangan dukungan Pengurus Daerah (PD). Cara ini sudah dicoba sebelum Muswil — sebagaimana yang direncanakan semula — digelar, sampai ke pasca pembubaran, baik di Hotel Sempurna Jaya maupun di Pantai Madu Tiga.

Baca Juga :  Mari Bangun Tata Kehidupan yang Beradab

Skenario itu tidak dapat dilaksanakan, karena sejumlah PD tidak menginginkan Dewi dan mendukung tanpa ragu pada Marlin. Diduga oleh karena itu, bagi PD yang tak mau mendukung Dewi, panitia tak memberi tahu kegiatan di Pantai Madu Tiga tersebut. Ternyata di sini, masih ada upaya untuk melaksanakan Muswil tetapi tak mendapat dukungan penuh.

Tindakan panitia dinilai terbilang nekat. Apalagi BKMT Pusat sudah melayangkan surat yang menyarankan agar Muswil ditunda sampai Pandemi Covid-19 mereda. Kabar terakhir menyebutkan bahwa BKMT Pusat menegaskan tidak akan mengakui hasil Muswil jika tetap dilaksanakan pada Kamis itu.

Ayu, salah seorang fungsionaris BKMT di daerah sangat menyesalkan tindakan panitia yang sangat merugikan hak suara sebagaimana diatur dalam AD/ART. Sebaliknya, ia berterima kasih kepada BKMT Pusat dan teman-teman yang telah berjuang semaksimal mungkin agar organisasi ini berjalan pada relnya.

Baca Juga :  Hadiri Halal Bi Halal Paguyuban Kendal Sari, Syahrul Ajak Bersatu Padu

Dalam rencana Muswil, panitia coba membatasi hak suara hanya 24 orang, terdiri 3 PW (Pengurus Wilayah), 2 x 7 PD (Pengurus Daerah), dan 7 PC (masing-masing 1 suara dari setiap kabupaten/kota). Padahal AD/ART BKMT pada BAB V, pasal 14, ayat (2) merinci hak-hak suara dalam Muswil, yakni PW 3 suara, masing-masing PD 2 suara, dan masing-masing PC (kecamatan) 1 suara.

Konon, dengan pembatasan jumlah peserta pemilik hak suara, kubu Dewi Kumalasari lebih percaya diri untuk menang. Anggapan ini cukup gembleng, karena dukungan untuk Marlin Agustin menguat. Bahkan ada perkiraan bahwa jika Muswil terlaksana sesuai dengan jadwal semula, Marlin setidak-tidaknya mengantongi 13 dari 24 suara, dan itu sudah cukup untuk mencatat kemenangan.

Apalagi jika Muswil mengakomedir peserta pemilik suara sebagaimana yang diatur dalam AD/ART, peluang kemenangan Marlin cukup besar karena didukung banyak kecamatan. Dewi lebih bisa bermain di tingkat PW dan PD, tapi itu pun beberapa saja yang mampu dikuasainya secara penuh. (RK3)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *