Apo Akal? (Setanah Melayu Bertanjak Bag-3), Oleh: Jefri al Malay

Jefri al Malaya

Sungguh ini perkara akal dan hati
Rasa di ceruk terdalam yang tak mungkin dipungkiri.
Patut juga diniatkan tetap berdiri
Percikkan warna ke semerata negeri

Jefri al Malaya

Bertepatan pada 16 September 2021, Kamis lalu, kembali digaungan gerakan “Setanah Melayu Bertanjak.” Gerakan ini disambut meriah dari berbagai negeri tanah Melayu di kawasan Rantau Melayu, sebut saja Malaysia, Thailand, Singapura dan Indonesia. Gerakan ini telah digelar sejak 3 tahun yang lalu, diprakarsai oleh rekan-rekan dari tanah Semenanjung Malaysia. Uniknya, gerakan ini juga mengusung semangat yang sama yakni membangkitkan ikatan kekeluargaan dan
kebersamaan di negara rumpun Melayu meskipun dasar atau alas pikir dari gerakan ini diserahkan sepenuhnya kepada sang penaja acara di tiap daerah yang mera’ikannya.

Begitu juga dengan Negeri bernama Riau. Beberapa komunitas telah berancang-ancang sejak lama, akan tetap menggelar acara Setanah Melayu Bertanjak. Jikalau dua tahun sebelumnya digelar di daerah masing-masing seperti Bengkalis, Dumai, Meranti, Pelalawan, Rokan Hilir, Indragiri Hilir, Siak Sri Indrapura, dan Pekanbaru. Tahun ini, dibulatkan sepakat akan merayakannya bersama-sama di Kota Dumai, meskipun di daerah masing-masing tetap digelar, hanya saja ada kesepakatan bahwa akan lebih terasa kebersamaan bila ada satu titik daerah di
mana semua komunitas atau paling tidak ada yang mewakili untuk duduk bersembang bersama sembari merayakan Hari Setanah Melayu Bertanjak tersebut.

Al kisah, Kota Dumailah yang jadi kesepakatan sebagai tuan rumah tahun 2021. Beberapa komunitas dari beberapa daerah datang mewakili diantaranya Meranti, Pekanbaru, Bengkalis, Pelalawan, dan Rokan Hilir. Perhelatan yang digelar di Pantai Purnama tersebut difasilitasi sepenuhnya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai. Berhimpunlah para pecinta khazanah budaya di tepian pantai Purnama Kota Dumai. Rangkaian kegiatan dimulai dari pembukaan, sembang dan diskusi, musik tradisi, permainan gasing, layang-layang, masakan kuliner lokal dan tak lupa sesi foto bersama.

Layaknya sebuah pertemuan dan silaturahmi, ada banyak hal yang kemudian mencuat untuk
diperbincangkan. Namun dalam kesempatan ini saya yang fakir ini hendak mencoba untuk mempercakapkan sebuah frasa yang kerap muncul dalam pertemuan tersebut. Frasa “apo akal” menjadi trend diucapkan oleh setiap orang dalam berbagai kesempatan dalam pertemuan
tersebut.

Baca Juga :  Pro Kontra Deklarasi #2019gantipresiden di Riau, Bawaslu Minta Jaga Tanah Melayu
Foto bersama di hari Tanah Melayu Bertanjak.

Bila dilihat jenisnya, frasa ini termasuk dalam frasa ambigu, yakni frasa yang memiliki makna lebih dari satu atau makna ganda tergantung pada penggunaannya dalam kalimat dan kesempatan. Dalam konteks pertemuan di kota Dumai, frasa “apo akal”seringkali diucapkan sebagai kalimat tanya, di ujung pernyataan. Misalnya, “dah ramai ngumpul ni, apo akal?” atau contoh yang lain, ”dah lapo perut ni, apo akal?”

Dari contoh kalimat di atas mengisyaratkan frasa “apo akal” digunakan untuk bertanya tentang
sesuatu kelanjutan aksi atas situasi yang terjadi. Maknanya, apa yang harus dilakukan selanjutnya setelah dijelaskan sebuah kondisi. Secara sederhana saya kira, begitulah maksud dari frasa ini, yang jadi trend dalam pertemuan Setanah Melayu Bertanjak jilid 3 di Dumai. Dan tak jarang pula, frasa “apo akal” ini menjadi penyedap cakap tatkala bergurau senda.

Apapun itu kondisinya, tak pula saya bermaksud menjelaskan lebih jauh tentang frasa ini dalam perspektif ilmu linguistik. Hanya saja, bagi saya yang fakir ini, frasa ini menjadi menarik untuk dihubungkaitkan dengan bagaimana orang Melayu bersikap dalam keseharian terutama dalam kondisi yang memerlukan solusi atau penyelesaian suatu masalah, atau bahkan dalam menetapkan suatu kebijakan. Di mana akal hendaknya dipergunakan sebaik mungkin sebagai bukti kesadaran dan rasa syukur bahwa sebagai makhluk ciptaanNYA, kita diberi akal pikiran. Bukankah akal juga yang membedakan kita dengan makhluk ciptaan yang lainnya. Hal itu, dalam pikiran saya juga mengisyaratkan bahwa bagaimanapun kondisi dan situasi, tidaklah molek mengedepankan emosi dan nafsu semata-mata. Tetapi akallah yang hendaknya difungsikan untuk menetapkan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi berbagai persoalan.

Begitu pentingnya akal bagi orang Melayu, di dalam Tunjuk Ajar Melayu diuntaikan “bila hidup tidak berakal, sampai tua takkan berbekal”, “bila hidup tidak berakal, sesudah tua pasti menyesal”. Digambarkan dalam untaian Tunjuk Ajar Melayu karya Alm. Datuk Tenas Effendy, orang yang hidupnya tidak menggunakan akal, sampai tua tidak berbekal atau tidak memiliki ilmu baik ilmu di dunia maupun ilmu untuk akhirat dan dipastikan penyesalanlah yang akan menderanya ketika di hari tua. Artinya, perkara akal ini, bila tidak dipergunakan sebaik mungkin, akibat buruk yang ditimbulkannya dirasakan sampai ke tua.

Baca Juga :  Syamsuar: Kita Ini Pelayan, Kalau Tak Sanggup Melayani Mundur

Bahkan di alam pemikiran Melayu, perkara akal selalu dikaitkan dengan budi. Mari kita simak Tunjuk Ajar Melayu yang menjelaskan hal itu. “apa tanda Melayu berakal, berbudi baik sebagai
amal,” “apa tanda Melayu berakal, berbudi mulia menjadi bekal,” “apa tanda Melayu berakal, berbudi baik, ia tawakal”, “apa tanda Melayu berakal, membalas budi tahan dipenggal”. Dapat kita pahami dari Tunjuk Ajar Melayu di atas, posisi akal beriringjalan dengan budi ataupun akhlak karena itu yang utama. Akallah yang kemudian bisa menilai atau mengetahui segala sesuatu, selanjutnya adalah memilih untuk melakukan apa yang akan diperbuat, barulah setelah itu ada ketegasan berbuat, akan berbuat ini, berbuat itu, yang kemudian disebut dengan tindakan. Maka dalam kaitannya dengan budi, menjadi jelas sudah, akal sebagai penggerak dan budi sebagai kemudi.

Salah seorang cendikiawan Muslim, Al Farabi sudah mempertegas hal ini sejak lama. Menurut beliau, dalam muatan pendidikan misalnya, hendaklah mengandung akal (teoritis dan pemikiran) dan moralitas atau budi (akhlak dan amaliah). Karena menurut beliau, pencapaian kehidupan
dengan akal dan budi dapat membawa pencerahan yang utuh dan mampu menggiring manusia melihat realitas yang ada. Bahkan, menurut Al Farabi pengetahuan bukan sesuatu yang mutlak
yang mesti dicapai melainkan terintegrasi dalam hasil akhir yaitu kesempurnaan dan kebahagiaan. Untuk merespon pendapat ini, izinkan saya juga melafazkan frasa yang trend ketika pertemuan di Dumai, Apo akal?

Kembali pada momen Setanah Melayu Bertanjak Jilid 3 di Kota Dumai, tepatnya di Pantai Purnama dengan seperangkat acara yang disiapkan, aneka kuliner tradisi, sempolet, kepurun, lempeng sagu, ikan debuk sepedas, gulai lemak hijau aneka ikan, ditambah suasana pantai dengan hembusan angin, amisnya laut, barisan pondok untuk berehat, diwarnai pula tengkah lagu zapin sahut menyahut. Semuanya itu menjadi penyedap suasana selain dari itikad pertemuan yang memang dapat dikatakan sudah sepakat. Bahwa gerakan bertanjak ini sebagai upaya mengingat dan kembali menggali informasi tentang salah satu khazanah budaya yang pernah ada, pernah begitu populer dalam kehidupan keseharian orang Melayu dulunya dan berhajat kembali mempopulerkannya.

Baca Juga :  Secara Mandiri 37 Judul Buku Dibuat Guru di Siak
Foto bersama di hari Tanah Melayu Bertanjak.

Gerakan ini bukan berarti hendak balik ke masa lalu, tentu saja tidak. Tetapi ada salah satu pembentuk identitas dari khazanah yang ada dari orang Melayu, yang hari ini hampir tidak diketahui orang banyak yakni tanjak. Kami bertanjak karena kami diajar banyak hal tentang keberadaan khazanah budaya yang satu ini, makna, nilai, filosofi, adab, etika, sejarah, fashion dan lain-lain. Ini juga pengetahuan, ini juga perkara akal. Dan pengetahuan ini jugalah yang hendak kami bagi kepada masyarakat. Apo akal?

Tentu saja, pertemuan dalam momen Setanah Melayu Bertanjak yang disepakati setiap tanggal 16 September 2021 ini, akan terus digelar dalam semangat yang sama, silaturahmi dan
kebersamaan untuk turut serta dalam membangun seni budaya Melayu di bumi Lancang Kuning ini dengan cara kami.

Dalam sesi berunding di ujung sembang, tahun berikutnya, Kabupaten Kepulauan Meranti bersedia menjadi tuan rumah untuk Setanah Melayu Bertanjak jilid 4, dan akan disusul di bulan Oktober 2022, rangkaian acaranya di Kabupaten Rokan Hilir. Inilah kesepatakannya, kesepakatan ini disetujui langsung dari salah satu perwakilan dari Kabupaten Kepulauan Meranti, Rio Nugraha yang juga merupakan salah satu pelaku seni budaya di kabupaten termuda di Provinsi Riau. Selari dengan itu, dari Kabupaten Rokan Hilir, Ketua Dewan Kesenian Daerah Rohil, Delsi Hendria juga menyanggupi pelaksanaan Setanah Melayu Bertanjak tahun 2022 juga dilaksanakan di Kota Seribu Kubah yang akan dipadupadankan dengan helat ultah Kabupaten Rokan Hilir tahun 2022. Kesepakatan ini ditetapkan di bawah pondouk tepi Pantai Purnama, disaksikan oleh beberapa komunitas lainnya. apo akal?

Demikian kalam diuntai
Sembang-sembang tetap bernilai
Sepakat berbuat, itulah perisai
Kita merancang, DIAlah penyelesai.

Jefri al Malay
Sastrawan Riau. Saat ini, mengabdi sebagai Tenaga pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Program Studi Sastra Melayu di Universitas Lancang Kuning.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *