Cerpen: Di Suroloyo

Alvi Puspita

Ilustrasi (net)

“Sok tahu!”

Berderai tawanya. Matanya sampai terpicing.  Beberapa saat baru reda. Di ufuk, fajar mulai datang. Angin menghempas-hempas. Kabut berarak diantara empat puncak.

Semalam ia menjemputku, tepat pukul dua belas, beberapa detik sebelum pergantian tanggal dua menjadi tiga.  Aku tidak bisa menolak. Semua telah ia siapkan. Sebuah jaket tebal dan sebuah syal berbahan woll berwarna biru muda. Sial. Ia masih ingat warna kesukaanku.

Dengan motor trackernya, kami melewati rute jalan Godean-Sentolo-Kalibawang. Angin dini hari, jalan curam dan bibir yang diam. Ternyata desir itu masih tersisa walau tahun-tahun telah berlalu dalam jarak dan kemenjauhan. Tapi tetap saja tak ada yang mampu diucap. Kepengecutan yang sempurna!

Malam itu kami sempat tersesat. Berbelok pada salah satu simpang dan kami jumpai satu rumah penduduk.  Terlihat sisa-sisa pesta siang tadi. Sejenak nafasku tertahan, tak percaya dengan apa yang kulihat. Yang kuharapkan saat itu bahwa aku masih berada di dunia nyata bukan dunia lain. Dini hari, kursi-kursi kosong dan orang bermain ketoprak di atas pentas dengan pakaian lengkap dan tetabuhan musik pengiring. Angin bertiup kencang meniup-niup janur di tepi pentas.   Tubuh yang memang sudah gigil bercampur dengan gigil yang lain. Nyatakah ini? Nyatakah apa yang kulihat dan alami? Pemain ketoprak itu juga dia dengan jarak setengah jengkal dari tubuhku?

Baca Juga :  Mantap, Koreografer Berkelas Internasional Jadi Nara Sumber Workshop Tari DKR

Aku tersentak saat tiba-tiba ia menepuk lututku dari depan. Perlahan ia belokkan motor dengan ketenangan luar biasa. Ketenangan yang masih sama saat kali pertama aku terperangkap di dalamnya. Ketenangan penuh kabut yang membuat aku tersesat tapi ingin berumah disitu. Ketenangan amat dalam yang aku tidak pernah sampai ke dasarnya. Ketenangan penuh tabir dalam tatap mata yang teduh dan jauh.

Pukul 03.00 kami sampai di gardu pertama. Memarkirkan motor di halaman rumah penduduk, kami mulai menaiki anak tangga. Berhenti sejenak, aku meggosok-gosokkan kedua telapak tangan dan menggoyang-goyangkan kaki. Nafasku berasap. Alangkah dinginnya dini hari. Alangkah dinginnya hati.

Dia berjalan di sampingku. Kedua tangannya ia masukkan ke saku jaket dan bibirnya tidak memberikan tanda apapun. Masih terkatup. Terkunci. Begitu juga aku. Bertahan. Sama-sama bertahan. Andai karakter ini tidaklah sama-sama kuat ada dalam kita, taklah semua akan serumit ini. Kau begitu menyebalkan!

Dalam perasaanku yang campur aduk, aku tergelincir. Aku begitu kaget. Tak sempat kuingat bagaimana itu bisa terjadi, tapi tangannya berhasil menarik tanganku sehingga aku tidak jadi terjatuh. Mata kami beradu. Nafasku sesak. Aku tak kuasa lagi menahannya. Aku terisak. Kerongkonganku sakit sekali rasanya. Dengan susah payah akhirnya kata-kata itu keluar juga, “jahat!”. Dia hanya diam dan menatapku dengan tatapan itu. Tatapan yang tak pernah kutahu apa artinya. Tatapan yang aku rasakan sama ketika aku memandang adikku paling bungsu. Tatapan yang membuat aku merasa begitu tenang dan damai.

Baca Juga :  Iklan Ramadan Gubri Viral, Tokoh Aziz Mau Dibunuh Netizen

Takku hirau lagi. Aku duduk di salah satu anak tangga. Kubiarkan isakku tumpah sejadinya. Luah bagai bah. Menderas. Lepas. Dan dia biarkan aku begitu tanpa kata apapun. Ia turut duduk. Menyalakan rokok dan menyandarkan tubuhnya dengan gaya santai sekali dengan kaki berselonjor dan siku ditopangkan. Khidmat sekali ia menghisap rokoknya. Tiba-tiba dia tertawa setelah melirikku. Tawa yang terasa sangat mengejek. Setelah rokoknya habis ia menyilangkan tangan ke belakang kepalanya. Tubuhnya yang selonjor membuat dia leluasa menengadah  langit. Wajahnya kelihatan serius. Mata itu kembali begitu jauh. “Biar saja begini,” kata pertamanya keluar. Isakku sudah mulai reda. Dada terasa sudah lebih lapang. “Kau masih masokis!,” balasku.  Berderai tawanya hingga matanya sampai terpicing.“Sok tahu!,” katanya sambil tetap tertawa.

Setelah tawanya reda, sempat hening sejenak. “ Iya. Biar saja begini”. Kalimatnya terdengar begitu pelan, seolah ia ucapkan untuk diri sendiri. Tapi bagiku, itu adalah jawaban dari segala yang terasa dan dipendam selama ini.  Jawaban yang membuatku semakin yakin untuk meneruskan langkahku. Langkah yang telah kupilih, yang akan dilaksanakan tidak lama lagi setelah aku pulang dari kota ini. Dadaku tiba-tiba terasa berat lagi. Sesak. Namun  kutahan. Ia  menoleh padaku dengan mimik  yang tak lagi serius. Tapi kembali wajah yang lembut dan teduh. Ia tersenyum. “Selamat Ulang Tahun”. Ucapannya terdengar serentak dengan desir angin yang tiba-tiba semakin kuat. Fajar sebentar lagi datang. Sungguh tidak mudah bagiku menahan agar bendunganku tidak roboh. Agar tidak mem-bah lagi seperti tadi. Tapi tetap saja kerongkonganku tersekat-sekat. Nada suaraku masih belum stabil. Tapi kupaksa agar semua terkesan sudah membaik. “Terima kasih. Besok aku pulang”. “Ya,” ujarnya tenang sambil melirik cincin yang melingkar di jari manisku. “Sebentar lagi fajar datang. Mari kita lanjut .”  “Ya,” jawabku.

Baca Juga :  Sajak-sajak Muhammad Asqalani eNeSTe

Alvi Puspita adalah penulis perempuan Riau dan sekarang tercatat sebagai dosen Progam Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UNILAK

 

 

 

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *