Terima Kasih Tun M

KAWAN saya Abdul Wahab, ketawa lebar menanggapi ucapan terima kasih saya kepada mantan Perdana Menteri Malaysia yang bagi saya juga sebagai seorang motivator utama Melayu modern, Tun Mahathir Mohamad. Ia menggagas agar negara jiran tersebut mengaku Kepulauan Riau (Kepri) dan Singapura masuk ke dalam teritorial Malaysia. “Ini cerita lama, baru sekarang disuarakan oleh seseorang ternama,” katanya kemudian menjawab pertanyaan saya tentang alasan mengapa ia ketawa.

Ada kemiripan latar belakang terima kasih saya dengan ketawa teman yang tinggal di Selat Melaka tersebut. Saya berterima kasih karena Kepri disebut dalam konteks kedaulatan antarabangsa, padahal selama ini, dalam berbagai sektor, Kepri hampir sebagai pelengkap di Malaysia. Begitu juga ketika Kepri dipandang dari kaca mata keindonesiaan, Kepri seolah-olah tidak lebih dari sebagai daerah perbatasan.

Begitukah agaknya nasib simbolis konkrit dari apa yang disebut pakar Melayu, Henk Maier akhir 90-an lalu dalam Hari Raja Ali Haji bahwa Riau menempati posisi di tengah sekaligus tepi. Kawasan ini menjadi sentral peradaban, misalnya dengan keberadaan bahasa Melayu, yang terletak antara Indonesia – Malaysia, tetapi juga terletak di pinggir Malaysia sekaligus di tepi Indonesia. Penyebutan nama Kepri oleh Mahathir itu, kiranya sebagai penanda bahwa memang ada yang harus diusungkan secara tak alang-kepalang.

Baca Juga :  Ada Apa Ketua PWNU Riau ke LAMR Petang Tadi?

Boleh dicakap terabaikan, manakala kedua negara fokus membangun daratan sejak tahun 70-an sebagaimana kecenderungan dunia, padahal Kepri terletak di kawasan maritim. Pada Zaman Orde Baru, dana pembangun dari pusat mengucur berdasarkan panjang jalan, sementara hubungan di Kepri dari pelabuhan ke pelabuhan. Lebih dari 3.000 pulaunya, tidak memiliki jalan yang dimaksudkan itu. Perpindahan ibu kota Provinsi Riau dari Tanjungpinang ke Pekanbaru tahun 1959, contoh lain bagaimana bangsa ini membelakangi kemaritiman yang sebenarnya menjadi ciri utamanya sendiri.

Begitu panjang kalau hal-hal di atas disebut satu per satu. Tetapi memadailah disebutkan suatu pengakuan bagaimana ekonomi Malaysia melejit di bawah kepemimpinan Mahathir Mohamad. Pikirannya dalam kitab Dilemma Melayu memberi kesadaran bahwa Melayu mampu dan melalui amuk yang fenomenal, bangsa ini bukan bangsa sayur. Dasar ekonomi baru, memberi kesempatan anak tempatan untuk bangkit setelah diperllakukan tidak adil berbilang masa.

Lalu bagaimana dengan Riau dan Kepri sekarang ini? Ingat ya, dari penelitian UGM awal 80-an sempat disebut bahwa daerah ini termiskin di Sumatera meski nomor dua terbesar memasukkan devisa negara. “Aku mencanguk saja melihat Malaysia, engkau bolak-balik kerja di sana kan?” tulis saya kepada Wahab.

Baca Juga :  Jawab Tantangan Film Dokumenter, ADN-Korda Pekanbaru Diikrarkan

Waktu itu tentu saya tidak tahu soal kedaulatan suatu negara, tetapi Malaysia menjadi impian masa kecil bukanlah sesuatu yang berlebihan. Konon, Riau diberi status provinsi tahun 1957, setelah bertebar isu bahwa daerah ini akan bergabung dengan Malaysia, kalau tidak dilepaskan dari Provinsi Sumatera Tengah. Jadilah, Soekarno menandatangani undang-undang Riau 9 Agustus 1957, tiga pekan sebelum Malaysia merdeka yakni 31 Agustus 1957.

Beberapa tahun lalu saja, dalam suatu acara di salah satu pulau terluar di Riau, ketika seorang anak ditanya tentang siapa nama Presiden Indonesia, dia justru menjawab Mahathir Mohamad. Duh…

Cuma bukan Riau-Johor saja yang menjadi ulam kenang, tetapi terlebih-lebih lagi adalah Melaka. Siak yang berdiri tahun 1723, memang erat sekali dengan Johor, tetapi kerajaan besar sebelum Siak itu sendiri di tempat yang sama yakni Gasib, bertuan ke Melaka. Kerajaan Indragiri yang berdiri sejak abad ke-14, justru mendatangkan rajanya dari Melaka. Belum lagi Rokan yang menisbatkan keberadaannya sebagai sahabat setia Melaka.

Baca Juga :  Puasa Medsos

“Jadi, mengapa Tun M menyebut Johor saja, mengapa tidak Melaka yang lebih luas dan lebih membumi. Juga mengapa baru sekarang, padahal Sipadan dan Ligitan sudah puluhan tahun dipersengketakan yang kemudian dimenangi Malaysia?” tanya Wahab. Sempat juga dia beragak-agak bahwa hal tersebut berkaitan dengan terdengar tentang ketidaksenangan Johor kepada Malaysia yang kini merasa dianaktirikan dalam beberapa pekan lalu. Johor ingin melepaskan diri dari Malaysia, tidak lagi merupakan kabar bisik-bisik.

Sebaliknya, saya jawab, kalau sampai ke Melaka juga disebut-sebut, tentu akan ditanya lagi, dari mana Melaka berasal yang akan dikaji pula sampai ke Muaratakus abad ke-7. Dengan kenyataan sejarah demikian, termasuk asal-muasal Johor yang dipancang dari Pelalawan, jangan-jangan justru Indonesia-lah yang bisa mengklaim Malaysia, he he he…

Betapapun, Tun Mahathir sudah mengingatkan kita di tengah bangsa yang cendrung melupakan sejarahnya, sehingga dia melupakan dirinya sendiri. Barang siapa yang lupa diri… (sila sambung, sila…)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.