Jemput Syaukani, IKA FIB Unilak Taja Diskusi Budaya

Syaukani berfoto bersama pengurus IKA FIB Unilak

RiauKepri.com, PEKANBARU – Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning (Unilak) taja diskusi budaya. Menjulang tema “Refleksi Budaya Masa Lalu Untuk Riau yang Akan Datang” diskusi ini berlangsung di Halaman Rumah Tuan Kadi, Senapelan, Pekanbaru, Sabtu malam (14/10/23).

Syaukani Al Karim budayawan Riau dinobatkan sebagai narasumber dalam diskusi ini. Menurut Musawir, Sekretaris Umum IKA FIB, Syaukani merupakan seorang budayawan Riau yang memiliki ketajaman analisa kebudayaan. Setiap kali ia menyampaikan gagasan tentang budaya, kata Musawir, ada pemikiran-pemikiran baru yang dapat diterapkan oleh generasi muda Riau untuk menjawab keadaan masa kini.

Baca Juga :  Bangganya Orang Kuansing, Baru Pertama Menpar Datang Membuka Pacu Jalur

“Setiap kali diskusi, Pak Syaukani dapat memecah kebekuan pemikiran. Untuk menyerap pemikiran-pemikiran inilah, IKA FIB Unilak menjemput Pak Syaukani menjadi narasumber. Diskusi kebudayaan ini akan dilaksanakan satu bulan sekalai,” ucap Musawir.

Sementara itu, dalam pemaparannya, Syaukani Al Karim mengatakan budaya dalam konteks kekinian, generasi harus mampu melihat ke depan. Maksudnya adalah generasi saat ini harus mampu membawa kebudayaan itu dari zamannya ke zaman kini sebagai upaya untuk mewujudkan berbagai ide untuk melestarikan budaya lokal yang ada di tengah-tengah masyarakat. Jika ini dapat dilakukan oleh generasi saat ini, maka inilah yang disebut sebagai respon kekinian terhadap masa lalu.

Baca Juga :  Mau Tahu Bagaimana Sifat Syamsuar Dari Kecil Hingga Jadi Gubri, Ini Ceritanya

“Di Riau, ada kearifan budaya yang harus kita pahami dan kita dalami. Memahami dan mendalaminya dengan cara membaca. Dalam Al-Quran kita sudah diperintahkan untuk membaca, Iqraq! Jadi kita sebagai generasi saat ini harus perbanyak membaca. Membaca yang tertulis, tersirat, dan yang terbentang. Agar benderang, aplikasikan dengan kemasan yang kekinian tanpa melepas nilai-nilai yang dimiliki oleh Riau sebagai kuncinya. Maka dari itu, agar sanggam mari belajar, bersetialah dengan kelokalitasan,” jelas Syaukani.

Diskusi yang dipandu Awi Andjung ini berjalan dengan penuh kekeluargaan dengan tajab jawab seputar kebudayaan Melayu Riau. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *