Puisi Dang Mawar: Cinta, Pria dan Bulan

Ilustrasi (sub: net)

Manusia Itu Aneh

Kadang ia ingin mati, kadang ia takut akan kematian.

Kadang ia lebih baik menyakiti diri sendiri, tapi takut untuk disakiti.

Kadang ia menangis untuk orang lain, padahal orang lain itu merasa tidak perlu ditangisi.

Manusia itu, aneh.

Kadang mereka bisa berubah, dari dulunya teman menjadi musuh

Dari musuh, menjadi teman.

Dari seorang yang selalu rendah diri, menjadi seseorang yang selalu diatas awan.

 

Manusia itu aneh, entah itu aku, entah itu kamu, entah itu mereka.

Karena pada dasarnya, kita semua ini “manusia”.

 

Cinta dan Duka

Saya tidak pernah mencintai orang sebegitu dalamnya, mendengarkan cerita orang begitu khidmatnya dan tidak pernah begitu memaksa ia untuk mencintai saya.

Baca Juga :  Di Pekanbaru, Dua Kilo Sabu, 24 Ribu Ekstasi Diamankan

Saya begitu percaya diri, saya bisa membahagiakannya. Tapi pada akhirnya, saya juga yang menyakitinya.

Maaf, ternyata saya bukanlah obat ataupun dokter bagimu.

Saya hanya goresan dari sebuah pisau yang ada di hidupmu.

 

Cinta, Pria dan Bulan

Ini tentang seorang pria yang terus menutupi dirinya yang terus terluka oleh cinta, tersiram oleh air mata kekecewaan.

Tak pernah sedetik pun ia serius dengan perasaannya, pernah untuk mencoba tapi kembali,  terluka oleh cinta.

Ia memang bodoh, berapa kali pun ia mencoba, ia terlalu bodoh untuk mencintai seseorang.

Makanya ia selalu tertipu, yang ia punya hanya setia, memberi penuh sang kasih dengan cinta.

Baca Juga :  Taufik Hidayat yang Lulus Seleksi Administrasi KPID Riau Itu Bukan Ketum DKR

Tapi itu saja tidak cukup, karena ia masih bodoh dalam mencintai.

Kemudian sang bulan muncul, memberinya cahaya dan juga harapan.

Ia menari di cahayanya bulan, berharap sang bulan selalu ada di sisinya.

Namun, sang bulan pergi dari hidupnya. Ia menunggu sang bulan, ia tetap menunggu.

Ia bahkan menangisi sang bulan, berharap sang bulan kembali.

Tapi sang bulan sama sekali tak kembali, menyisakan luka  pada sang pria.

Lagi, ia terbutakan oleh cinta. Kemudian, sang pria mencoba mempertahankan diri. Memperkuat dinding hatinya yang hancur oleh cahaya sang bulan yang tak pernah menyinarinya.

Sang pria yakin, dirinya terkutuk. Ia tak pernah merasakan cinta, tak pernah sekalipun.

Baca Juga :  Tingkatkan Kualitas, Unilak MOU dengan BI Perwakilan Riau

Disaat selesai mempertahankan hatinya yang sudah diperkuat oleh dirinya sendiri, sang bulan kembali dengan cahaya yang begitu memilukan.

Hanya dengan satu cahaya dari sang bulan, dinding pria itu kembali  runtuh.

Akan tetapi sang bulan membuat pria itu bingung dengan cahaya yang terus redup dan terang terus menerus, sang wanita berpikir “apakah cahaya itu hanya sekilas untuknya? Apa sang bulan melupakannya?”

Sang pria terus merenung, kemudian pertahanannya runtuh.

Ia runtuh

Ia telah jatuh

Ia kalah

Ia mencintai sang bulan

Tapi ia takut

Itu hanya cinta sesaat.

Dang Mawar adalah mahasiswa Program Studi Sastra Inggris FIB Unilak, Riau

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *